JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Hasil Survei, Publik Pro Pancasila Turun Hingga 10 %. Kementerian Kominfo RI Geber Sosialisasi Lewat Wayang, Ajak Bangkitkan Kecintaan NKRI dan Pancasila 

Direktur IKP Kementerian Kominfo, Wiryanta saat memberikan paparan di acara dialog publik lewat wayang kulit dengan tema Pendidikan Karakter Pancasila di Kampus STTC MMTM Jogja, Sabtu (31/8/2019) malam. Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Direktur IKP Kementerian Kominfo, Wiryanta saat memberikan paparan di acara dialog publik lewat wayang kulit dengan tema Pendidikan Karakter Pancasila di Kampus STTM MMTC Jogja, Sabtu (31/8/2019) malam. Foto/Wardoyo

JOGJA, JOGLOSEMARNEWS.COM -Tren penggunaan media sosial di era digitalisasi berdampak turut menurunnya publik yang pro pancasila dan NKRI. Hasil riset dari beberapa lembaga menunjukkan data memprihatinkan dimana angka pro NKRI dan Pancasila terus mengalami penurunan.

Fenomena itu membuat Kementerian Kominfo RI menggencarkan sosialisasi Pancasila melalui media tradisional wayang kulit.

Sosialisasi salah satunya digelar melalui pentas wayang kulit di Kampus STMM MMTC, Jalan Magelang Jogjakarta, Sabtu (31/8/2019) malam.

Wayang kulit dengan dalang Ki Warseno Slenk itu membawakan tema Pendidikan Karakter Pancasila atau Pendekar Pancasila, Kita Indonesia, Kita Pancasila.

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Wiryanta mengungkapkan hasil Survey APJ II pada Tahun 2018 menunjukkan penetrasi pengguna internet sebanyak 171,17 juta jiwa dari 264,16 juta populasi penduduk Indonesia atau sebanyak 64,8%.

Di mana generasi milenial mendominasi angka pengguna internet di Indonesia.Berdasarkan hasil riset Wearesocial Hootsuite 1 yang dirilis Januari 2019, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya.

Baca Juga :  Lagi, Satu Tenaga Teknis Pemkot Yogyakarta Terpapar Covid-19

Sementara pengguna media sosial mobile(gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi.

Tingginya penggunaan media sosial seharusnya mampu meningkatkan perilaku prososial karena media sosial sangat bermanfaat sebagai salah satu sarana untuk berinteraksi.

Namun demikian, media sosial justru menimbulkan perilaku antisosial di kalangan masyarakat. Media sosial telah mengubah generasi yang ada pada saat ini menjadi generasi yang paling antisosial.

Pada Tahun 2018 Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA melakukan survei analisis pro- Pancasila. Hasilnya, survei menunjukkan publik yang pro-Pancasila menurun hingga 10 %.

Sementara publik yang pro-NKRI bersyariah mengalami kenaikan sebesar 9 % selama 13 tahun. Survei ini dilaksanakan di 34 provinsi pada 28 Juni – 5 Juli 2018.

LSI menjelaskan tiga alasan publik pro-Pancasila menurun. Pertama yaitu ekonomi dimana kesenjangan ekonomi semakin tinggi dalam masyarakat. Kedua, paham alternatif yang semakin digaungkan diluar Pancasila.

Intensifnya paham alternatif diluar Pancasila mampu menarik, terutama warga muslim. Dan ketiga tidak tersosialisasi dari masyarakat kepada masyarakat.

Baca Juga :  Era New Normal, Usaha Pariwisata di DIY yang Mati Suri Mulai Bangkit

“Menurunnya publik yang pro-pancasila itu menjadi perhatian serius pemerintah. Pancasila sebagai dasar kehidupan sosial untuk membangun warga negara yang humanis.Temuan survey tersebut dirasa sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan internalisasi nilai-nilai pancasila terutama di kalangan generasi muda sebagai calon penerus bangsa,” paparnya kepada wartawan.

Wiryanta menguraikan Kementerian Komunikasi dan Informatika memiliki peran untuk turut mendorong penguatan pancasila sebagaimana diamanatkan Inpres No.9 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik untuk mendukung program prioritas pemerintah.

Karenanya untuk membangkitkan kembali kecintaan Pancasila dan NKRI, Kemenkominfo terus berupaya menyosialisasikan nilai-nilai Pancasila salah satunya melalui dialog publik lewat wayang kulit.

“Tujuannya memberikan pemahaman dan mengembangkan kesadaran tentang pendidikan karakter pancasila. Kemudian memberikan pemahaman tentang peran pancasila dalam kehidupan keseharian. Serta mendorong penguatannya dalam dinamika bermasyarakat dan memberikan pemahaman terkait pembuatan konten positif nilai-nilai pancasila,” tandasnya.

Sementara, acara wayang kulit sendiri dihadiri ratusan pengunjung mulai dari dosen, mahasiswa hingga masyarakat umum di sekitar lokasi hingga Jogja. Wardoyo