loading...
Loading...
Kepala Rutan Kelas II B Wonogiri Urip Dharma Yoga di antara tanaman bawang merah. Aria

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM—Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Wonogiri berupaya memaksimalkan potensi yang dimiliki. Salah satunya potensi lahan yang berada di belakang komplek Rutan.

Kepala Rutan Kelas II B Wonogiri Urip Dharma Yoga berujar, lahan tersebut bakal dijadikan obyek wisata pertanian atau agrowisata. Selain dapat memberi motivasi bagi warga binaan, program agrowisata diharapkan bisa menyumbang penghasilan negara bukan pajak (PNBP).

“Saat ini kami kembangkan tanaman bawang merah dan cabai. Karena beberapa bulan lalu kita uji coba di lahan seluas 300 meter persegi hasilnya bisa mencapai 4 kuintal bawang merah. Ini luar biasa, sebagian dijual dan sisanya dibuat bibit,” ujar dia, Selasa (10/9/2019).

Bawang merah dan cabai cocok ditanam di Wonogiri. Untuk penopang, dibuat sebuah kolam permanen sebagai tampungan air. Selain berfungsi sebagai pengairan, di kolam itu juga dibudidayakan ikan gurameh dan nila. Pasokan air diperoleh dari aliran Bengawan Solo yang berada tepat di bawah komplek Rutan.

Baca Juga :  Ini Sejarah RSUD Wonogiri. Lengkap Dengan Alasan Kenapa Diberi Nama RSUD Dokter Soediran Mangun Sumarso

“Rencananya dilengkapi dengan sejumlah saung. Nah, selain menikmati pemandangan, pengunjung bisa pesan mie rebus, ngopi dan sebagainya. Karena ini tanah negara, maka hasilnya bisa menambah penghasilan negara bukan pajak,” tutur dia.

Pria berperawakan tinggi besar itu menceritakan, pada awalnya program tersebut sangat berat. Bahkan pihaknya mengaku terseok-seok dalam sisi pendanaan. Namun kondisi ini tak membuatnya putus semangat.

Kebetulan ada sejumlah produk benih yang beredar di pasar tapi tidak laku. Kemudian bibit tersebut ditanam di lahan tidur yang luasnya hampir dua hektar. Hasilnya saat panen raya jagung, tembus tujuh ton.

Dengan merangkul warga binaan dan dukungan seluruh karyawan Rutan, program itu akhirnya berjalan. Terhitung sudah lebih dari satu tahun program itu menjadi andalan Rutan Wonogiri, selain produk kerajinan tangan dan mebel.

“Warga binaan yang terlibat mengaku senang. Mereka bekerja mulai pagi hingga sore di luar sel. Kan sebelum ada program ini mereka hanya tidur dan makan di dalam sel saja. Ya, intinya kegiatan ini saya harap menjadi bekal mereka saat membuka lembaran hidup baru di tengah masyarakat,” beber dia.

Baca Juga :  Tidak Wajar, Jumlah Pajak Galian C di Wonogiri Hanya 763 Juta Setahun

Dari hasil panen perdana jagung kala itu, masing-masing warga binaa yang terlibat dalam proyek itu diberi Rp 300 ribu. Bahkan, keluarga mereka juga diundang ke Rutan. Dimana yang masih punya anak sekolah dibelikan sepatu dan perlengkapan sekolah dari hasil penjualan jagung.

Dia berharap program itu menambah ilmu warga binaan ketika keluar dari Rutan. Aria

Loading...