JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kesaksian Pengusaha Restoran Ternama Asal Jatim Yang Sukses Setelah Ritual di Gunung Kemukus. Usaha Makin Lancar, Sudah 5 Tahun Tak Pernah Ketinggalan Ritual Larap Slambu

Haji Welly. Foto/Wardoyo
Haji Welly. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Ritual larap slambu makam Pangeran Samudera Gunung Kemukus yang digelar satu sura, Minggu (1/9/2019) pagi menyisakan cerita lain. Di tengah beredarnya mitos rebutan air jamasan yang dipercaya bisa memperkancar rejeki, seorang pengunjung asal Jatim membeberkan kisahnya.

Pria paruh baya itu bernama Haji Welly. Pengusaha restoran sea food dan jasa pengobatan di Lamongan, Jatim, itu juga tampak hadir untuk menyaksikan ritual larap slambu dan mencari air jamasan maupun potongan kain slambu.

Ia mengaku datang sendirian bersama sopirnya. Bukan tanpa alasan Haji Welly rela menempuh perjalanan jauh demi memburu air sisa jamasan slambu Makam Pangeran Samudera. Sebab, ia mengaku telah merasakan banyak perubahan dari usahanya setelah mengenal dan melakukan ritual ke Kemukus.

“Saya sudah lima kali ke sini. Rutin setiap bulan sura pada saat jamasan slambu seperti ini. Tujuannya ya untuk berziarah ke makam pangeran samudera dan mencari slambu maupun air jamasan,” ujarnya.

Baca Juga :  Ribuan Seniman Sragen Siap Turun ke Jalan dan ke Polres Tuntut Izin Hajatan Dibuka. Kapolres Tegaskan Hajatan Tidak Dilarang, Tapi Hanya Ijab Kabul Saja Tanpa Hiburan!

Welly menuturkan untuk air jamasan ia memilih mengambil air di bawah sendang. Bukan yang diperebutkan sisa pembilasan slambu.

Selain itu, ia juga tak lupa untuk menunaikan ritual utama yakni berziarah di makam pangeran samudera.

Welly menuturkan sejak ritual di Gunung Kemukus, usahanya memang berubah makin lancar. Tak hanya restorannya yang makin laris, jasa pengobatannya pun juga makin banyak dikenal pasien hingga merambah luar Jawa.

“Saya habis dari Palembang diundang untuk mengobati di sana. Alhamdulillah, kalau yakin dan percaya, memang usahanya tambah lancar dan permintaan kita dikabulkan. Tapi tetap yang utama memohon doa kepada Allah. Ini mungkin hanya sarana saja. Karena begini ini soal keyakinan,” katanya.

Ia bahkan mengaku sempat ditemui Pangeran Samudera dalam doanya. Perihal pandangan sebagian kalangan yang menilai syirik, menurutnya semua tergantung sudut pandang dan keyakinan masing-masing.

Baca Juga :  Ngontel Ngos-ngosan, Penjual Jajanan Asal Sulawesi Pasrah Bongkokan Tertangkap Razia Tak Pakai Masker di Sragen. Merengkek Tak Punya Uang Rp 50.000, Tak Hafal Pancasila dan Lagu Indonesia Raya, Akhirnya Bayar Denda Pakai Ini!

“Kita percayanya sama Allah, tapi semua kan butuh usaha dan doa serta sarana. Orang boleh nggak percaya, tapi saya pribadi sudah merasakannya. Makanya tiap satu sura saya mesti datang ke sini,” tandasnya.

Penanggungjawab Obyek Wisata Gunung Kemukus, Marcellus Suparno mengatakan hingga siang tadi, jumlah pengunjung sudah mencapai 2.000 lebih. Diperkirakan sampai malam, pengunjung bisa mencapai 3.000 orang. Selain pengunjung lokal, sebagian besar juga pengunjung luar kota yang datang dari berbagai daerah seperti Jepara, Kudus, Pati, Jatom, Jawa Barat.

“Ada juga yang datang dari Kalimantan dan Sumatera,” tukasnya.

Perihal ritual larap slambu mengandung filosofi sebagai wujud syukur dan menyucikan diri dengan air yang didapat dari sumber kehidupan.

“Ada yang meyakini membawa berkah, kalau itu soal keyakinan masing-masing,” tuturnya. Wardoyo