JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kisah Gubug Reyot Mbah Ngadinem di Krebet Masaran, Ketua RW Sebut Pernah Dapat Bantuan Bedah Rumah Rp 5 Juta 

Mbah Ngadinem saat menunjukkan kondisi atap gubugnya dari seng bekas dan ditali rafia, Senin (16/9/2019). Foto/Wardoyo
Mbah Ngadinem saat menunjukkan kondisi atap gubugnya dari seng bekas dan ditali rafia, Senin (16/9/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Mencuatnya fakta nenek miskin sebatang kara bernama Ngadinem (78), yang tinggal di gubug sepetak mirip kandang ayam di Dukuh Randu Kuning RT 1, Desa Krebet, Masaran, Sragen, membuat pihak Ketua Rukun Warga (RW), angkat bicara.

Haryanto, Ketua RW 1 Dukuh Randu Kuning menuturkan sebenarnya warga dan lingkungan tak tinggal diam. Menurutnya warga dan RT maupun tokoh setempat sudah berupaya membantu dan memperhatikan Mbah Ngadinem.

Ia menyampaikan Mbah Ngadinem pernah menerima bantuan bedah rumah sekitar lima tahun lalu senilai Rp 5 juta dari Pemkab.

Karena hanya Rp 5 juta dan dirasa tak cukup untuk membuat rumah yang layak, oleh warga dan RT setempat akhirnya sepakat rencananya bedah rumah ditunda sementara waktu sambil menunggu dana agar bisa dibuatkan yang lebih layak.

“Dari warga dan RT sudah ngeguhke (mengusahakan) agar bisa dibuatkan rumah yang layak. Diminta nunggu tambahan dana agar bisa untuk buatkan yang layak. Tapi uang Rp 5 juta itu malah diminta Mbah Ngadinem. Beberapa bulan kemudian ditanyakan uangnya malah sudah habis. Entah dikemanakan kami nggak tahu,” ujarnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (17/9/2019).

Baca Juga :  Mantan Bupati Sragen Untung Wiyono Puji Pemerintahan Yuni. "Penggantinya Harus Bagus dan Diteruskan!

Karena uangnya habis, warga kemudian membuatkan rumah kecil di dekat jalan di pekarangan keponakan Mbah Ngadinem. Haryanto juga menyampaikan untuk jatah beras raskin atau rastra, Mbah Ngadinem memang sebelumnya selalu dapat.

Akan tetapi mulai tahun ini tidak lagi mendapat. Menurutnya pihak RT dan desa sudah pernah mengusulkan akan tetapi tak ada respon.

Haryanto mengatakan selain Mbah Ngadinem, ada beberapa janda dan nenek tua di wilayahnya yang tahun ini memang nggak mendapat lagi karena tak masuk di data pusat.

“Kalau raskin nggak dapatnya mulai tahun ini. Sebenarnya sudah kami usulkan ke desa, tapi itu datanya langsung dari pusat. Kami nggak berwenang,” tukasnya.

Baca Juga :  Meluas, Wabah PMK di Sragen Meroket 4 Kali Lipat. Bupati Sebut Sudah 30 Sapi Positif Terjangkit

Haryanto juga menampik kondisi gubug sepetak yang ditempati Mbah Ngadinem, sudah bertahun-tahun. Ia menyampaikan jika gubug itu belum lama didirikan yakni sekitar satu dua bulan yang lalu.

Menurutnya, warga sudah berusaha membantu dan mengupayakan, akan tetapi kadang Mbah Ngadinem tak mau nurut.

“Orangnya memang agak angel (sulit) Mas. Maunya dibuatkan rumah di pinggir jalan, tapi dia nggak punya lahan. Di situ pun sebenarnya ada rumah keponakannya, tapi nggak mau nempati. Namanya orang sudah tua Mas, kalau ada orang datang omongannya suka begitu (berlebihan), ben dimesakne,” tandasnya.

Kondisi rumah gubug Mbah Ngadinem (78) warga Dukuh Randukuning RT 1, Krebet, Masaran yang hampir mirip kandang ayam dan bertahun-tahun ditinggali nenek sebatang kara itu. Foto/Wardoyo

Mbah Ngadinem mendadak jadi perhatian setelah kisah mirisnya mencuat ke media. Nenek sebatang kara asal Dukuh Randu Kuning RT 1, Desa Krebet, Kecamatan Masaran, Sragen itu selama bertahun-tahun tinggal di sebuah gubug kecil mirip kandang ayam.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua