JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Misteri Kerajaan Sriwijaya, Arkeolog dan Ridwan Saidi Perang Argumentasi

Ridwan Saidi / tribunnews

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Misteri keberadaan Kerajaan Sriwijaya semakin ramai diperbincangkan sejak sebuah video mengunggah wawancara dengan budayawan Ridwan Saidi.

Kalangan ilmuwan arkeologi pun merasa tergerak untuk mempertahankan argumentasi dengan mengungkap kembali data-data dan dokumen pendukung.

Seperti diketahui, Ridwan Saidi melalui kanal Youtube Macan Idealis menyebut bahwa Sriwijaya merupakan kerajaan fiktif.

Terhadap pernyataan itu, peneliti Balai Arkeologi Sumatera Selatan membantahnya. Ia mengatakan, pendapat Ridwan Saidi tersebut keliru dan tidak mendasar.

Balai Arkeologi Sumatera Selatan menyatakan sudah banyak bukti peninggalan sejarah kerajaaan Sriwijaya seperti prasasti kedukan Bukit Telaga Batu dan Talang Tuwo.

Tak hanya itu, sejarah kerajaan Sriwijaya banyak ditulis Arkeolog dari luar negeri. Karena itu, Balai Arkeologi menyayangkan pernyataan Ridwan Saidi yang tidak berdasar dan meminta ia membuktikan ucapannya.

Ternyata, kontroversi pernyataan Ridwan Saidi mengenai kerajaan Sriwijaya bukan kali pertamanya ia lakukan.

Hal tersebut disampaikan arkeolog dari Balai Arkeologi (Balar) Sumatera Selatan, Retno Purwati.

Retno menjelaskan, awalnya, Guru Besar Arkeologi UI, Prof Dr Agus Aris Munandar pada Sabtu, 13 Juli 2013 silam, menemukan sumur di Candi Kedaton, situs Muara Jambi.

Dari temuan itu, Ridwan Saidi menduga kerajaan Sriwijaya sempat berpusat di Jambi.

Kemudian Ridwan Saidi bilang, Sriwijaya tidak pernah ada di Palembang, tapi di Jambi. Terus pernyataan itu heboh di seluruh media.

“Tapi saat komentarnya gak jelas, tampaknya media tidak tertarik lagi. Nah, sekarang bikin onar lagi,” kata Retno.

Diungkapkan Retno, pusat kerajaan Sriwijaya berada di Palembang pada abad ke-7 sampai 10.

Hal itu dikuatkan dengan ditemukannya prasasti sisa-sisa bangunan candi, arca dan 21 situs masa Sriwijaya di Kota Palembang, Sumatera Selatan.

“Ada tidak kota lain selain Palembang yang punya situs sebanyak itu yang berasal dari kurun waktu antara abad ke-7 hingga 10. Situs-situs arkeologi di Palembang sampai abad ke-14, masa keruntuhan Sriwijaya juga ditemukan. Komplit,” ujarnya.

Retno mengungkapkan, sampai saat ini belum ada bukti kuat bahwa pusat kerajaan Sriwijaya berada di Jambi.

“Tidak ada bukti bahwa pusat Sriwijaya ada di Jambi. Masih bersifat hipotetis,. Penemuan arca emas, perunggu dari batu, temuan damar, anak timbangan dan manik-manik juga di Palembang,” jelas Retno.

Baca Juga :  Rahmat, Saksi Kasus Joko Tjandra Dicekal Selama 6 Bulan

Sebelumnya, pernyataan Ridwan Saidi yang menyebutkan kerajaan Sriwijaya adalah fiktif viral di media sosial. Video pernyataan itu viral setelah diunggah di kanal YouTube Macan Idealis.

Dalam video yang diunggah pada 23 Agustus 2019 tersebut, Ridwan Saidi secara tegas menyebutkan bahwa kerajaan Sriwijaya adalah fiktif.

Bahkan, Ridwan Saidi mengklaim telah 30 tahun mempelajari bahasa kuno guna menelisik jejak-jejak keberadaan Kerajaan Sriwijaya.

Hasil penelusuran itu membawanya pada satu hipotesis bahwa kerajaan tersebut fiktif belaka.

Hipotesis itu kemudian ia cetuskan dalam sebuah video wawancara YouTube dalam kanal Macan Idealis.

“Saya sudah 30 tahun mempelajari bahasa-bahasa kuno. Banyak kesalahan mereka (arkeolog), prasasti di Jawa dan Sumatera adalah bahasa Melayu, tapi sebenarnya bahasa Armenia,” ujar Ridwan, Rabu (28/8/2019).

Balai Arkeologi Sumatera Selatan pun mematahkan pernyataan Ridwan Saidi yang menyebutkan prasati yang selama ini dijadikan dasar bukti Kerajaan Sriwijaya disalahtafsirkan oleh para arkelog dan peneliti dengan membacanya dengan bahasa Armenia.

Retno Purwati mengatakan, seluruh prasasti peninggalan Sriwijaya bukan ditulis dengan menggunakan bahasa Armenia, melainkan menggunakan aksara atau huruf Pallawa dan berbahasa Melayu kuno.

“Ridwan Saidi yang ngelantur. Memang (dia) bisa baca aksara Pallawa dan paham bahasa Melayu Kuno?” kata Retno, Rabu (28/8/2019).

Retno menerangkan, prasasti pertama yang ditemukan dan menyebutkan nama Sriwijaya adalah prasasti Kota Kapur ditemukan pada tahun 1892 oleh seorang peneliti bernama Kern.

Nama Sriwijaya mulanya diidentifikasi sebagai nama raja. Tulisannya yang mengulas soal itu terbit tahun 1913.

Setelah itu, pada 1918 George Coedes juga menerbitkan tulisan dengan judul “Le Royueme Sriwijaya” yang mengidentifikasi nama Sriwijaya sebagai nama kerajaan.

Hal itu didukung dengan penemuan prasasti Kedukan Bukit yang di situ ada tiga pertanggalan.

dalam pertanggalan itu membuat vanua Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 682 (konversi masehi).

Selain itu, ada prasasti Telaga Batu yang menyebut struktur wilayah dan struktur birokrasi Sriwijaya.

Ditambah lagi ditemukannya prasasti Talang Tuo berangka tahun 686 Masehi tentang Taman Sriksetra.

Selanjutnya, prasasti Bukit Siguntang, Boom Baru, Sabokingking, Kambangunglen, dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Ditargetkan Resmi Desember, Partai Bentukan Amien Kemungkinan Dinamai PAN Reformasi

“Temuan terbaru adalah prasasti Kota Kapur II, Baturaja, dan Prasasti Siddhayatra yang ditemukan di Palembang,” jelasnya.

Selain penemuan prasasti di Palembang, para peneliti juga menemukan 19 situs yang beberapa di antaranya sudah didating dengan carbon (carbon dating) atau C14, dan diperoleh pertanggalan 650-686.

“Di sana ada satu zaman dengan prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo. Ada banyak temuan arca yang gaya seninya dari abad ke-9. Kalau arca yang dari abad ke-7 itu, arca Buddha dari Bukit Siguntang.

“Masih banyak bukti lainnya yang mendukung bahwa pada abad ke-7-10 M Kedatuan Sriwijaya ada di Palembang,” ungkapnya.

Sebelumnya, Ridwan Saidi mengklaim telah 30 tahun mempelajari bahasa kuno guna menelisik jejak keberadaan Kerajaan Sriwijaya.

Hasil penelusuran itu membawanya pada satu hipotesis, yakni kerajaan tersebut fiktif belaka.

“Saya sudah 30 tahun mempelajari bahasa-bahasa kuno. Banyak kesalahan mereka (arkeolog), prasasti di Jawa dan Sumatera adalah bahasa Melayu, tapi sebenarnya bahasa Armenia,” ujar Ridwan ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (28/8/2019).

“Bahasa Armenia memberi pengaruh besar pada bahasa Melayu. Jangan dibalik,” lanjutnya.

Pria 77 tahun yang memberi pengantar pada buku kontroversial Garut Kota Illuminati itu menganggap, prasasti-prasasti yang selama ini dijadikan dasar bukti keberadaan Kerajaan Sriwijaya ditafsirkan secara keliru.

Menurut dia, apabila dibaca dengan bahasa Armenia, prasasti-prasasti itu bukan sedang menjelaskan adanya Kerajaan Sriwijaya.

“Oleh arkeolog dipukul rata itu bahasa Sanskerta, itu yang harus dikoreksi. Masa enggak boleh dikoreksi. Bantahlah argumentasi saya bahwa menggunakan prasasti Kedukan Bukit (sebagai bukti adanya Kerajaan Sriwijaya) salah karena yang mereka (arkeolog) andalkan itu.Maka saya katakan Kerajaan Sriwijaya itu fiktif,” kata Ridwan.

Dia juga mengaku sudah menelusuri langsung jejak-jejak keberadaan Kerajaan Sriwijaya. Semua penelusuran itu ia lakukan seorang diri, tanpa guru, tanpa kolega.

“Iya betul sekitar 1988-1989 saya sudah mulai (belajar bahasa kuno). Saya sendiri saja.  Gurunya siapa, kan enggak ada kursusnya. Saya juga ngecek dong, saya sudah ke Palembang, ke prasasti Kedukan Bukit, situs-situs sudah saya kunjungi semua kok,” katanya.

www.tribunnews.com