JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Ratusan Mahasiswa Dirawat Usai Demo Ricuh di Bandung

Mahasiswa membawa poster saat aksi unjuk rasa di Bandung, Selasa (24/9/2019) / tempo.co

BANDUNG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sekitar 107 orang mahasiswa harus mendapatkan perawatan karena luka-luka, sesak nafas dan kelelahan setelah melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Bandung, Selasa (24/9/2019).

Demo tersebut dilakukan terkait dengan penolakan mereka atas revisi UU KPK, RKUHP dan Undang-undang bermasalah lainnya. Aksi unjuk rasa tersebut sempat berujung ricuh.

Selain itu, ada enam  mahasiswa dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan serius. Mahasiswa yang mengalami luka-luka, sesak nafas hingga kelelahan mendapatkan perawatan di kampus Universitas Islam Bandung (Unisba).

Berdasarkan data yang terpajang di papan tulis kampus Unisba, sebanyak 105 mahasiswa dirawat di aula kampus seusai peserta aksi dibubarkan aparat keamanan di depan Gedung DPRD Jawa Barat pada sore hari. Adapun dua orang lainnnya merupakan siswa SMK.

Baca Juga :  Meski Masih Luka di Lengan Kanan, Syekh Ali Jaber Tetap Datang Penuhi Undangan Berdakwah Tak Lama Usai Ditusuk Orang Tak Dikenal

Peserta aksi yang mendapat perawatan rata-rata karena masalah sesak nafas oleh gas air mata, tak sengaja kesenggol sesama rekannya lantaran dibubarkan paksa oleh petugas kepolisian.

“Kita cek pakai alat, tapi ada sekitar enam orang tadi itu kita rujuk ke rumah sakit karena tidak ada obat-obatan yang memadai. Ada satu orang juga yang mengalami trauma di dada dan harus mendapatkan perawatan intensif,” kata Yudi Perinadri relawan dari Fakultas Kedokteran Unisba.

Wakil Rektor III Unisba Asep, Ramdan Hidayat mengatakan perawatan itu dilakukan secara sukarela. Asep mengaku kampus Unisba dijadikan sebagai lokasi evakuasi merupakan hal yang insidental.

Baca Juga :  Sanksi Sosial Tak Efektif, Warga di Sidoarjo yang Kedapatan Tak Kenakan Masker Bakal Diancam Hukuman Penjara 3 Hari

“Intinya kami tidak menyiapkan secara khusus, namun kami berkewajiban memberikan pertolongan pertama kepada mahasiswanya yang menyelamatkan diri,” ujarnya.

Menurut dia, mahasiwa yang mendapat pertolongan medis itu tidak melulu berasal dari kampus Unisba, melainkan ada juga dari kampus lain.

Lokasi kampus Unisba yang cukup strategis lantaran cukup dekat dengan gedung DPRD membuat kampus itu dijadikan semacam tempat evakuasi.

“Ini adalah kewajiban intelektual dan dilindungi undang-undang. Saat mereka melihat apa yang terjadi di lapangan tidak sesuai dengan yang mereka pahami,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Jawa Barat Inspektur Jendral Rudi Supahriadi enggan berkomentar banyak saat disinggung jumlah korban dalam aksi demo mahasiswa itu.

“(Korban) nanti disampaikan ya nanti,” kata Rudi.

www.tempo.co