JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Pendidikan

Ini 4 Prioritas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Salah Satunya Pembelajaran Anak

Presiden Joko Widodo bersama dengan Founder and Global CEO, GOJEK Nadiem Makarim serta GOJEK President and Co-Founder Andre Soelistyo berfoto bersama lima mitra inspiratif ekosistem GOJEK dari GO-FOOD, Arisan Mapan, GO-RIDE, GO-LIFE usai acara Mitra Juara GOJEK / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki empat prioritas. Hal itu disampaikan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dalam rapat koordinasi bersama di Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Prioritas pertama, adalah pembelajaran anak. Ia akan mengecek apakah yang diberikan oleh kementerian terserap oleh para siswa. Ia menekankan hal tersebut diminta oleh Presiden Jokowi, agar hasil dan dampak dapat terpantau.

“Satu konsep yang sangat penting itu adalah studi badan-badan. Semua peraturan dan penggunaan dana kita harus dicek,” kata dia di kantor Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (31/10/2019).

Baca Juga :  Sambut Event Prabangkara Awards 2020, Civitas Akademika FSRD ISI Siapkan Profil Karya Terbaik Mahasiswa

Kedua, struktur kelembagaan. Nadiem mengatakan struktur kelembagaan baik internal maupun eksternal badan-badan akan mendukung tujuan pembelajaran. Struktur kelembagaan ini kata dia, bisa berdampak positif juga terhadap kualitas pembelajaran.

Ketiga, menggerakkan revolusi mental di masyarakat. Nadiem menyebut untuk menyukseskan program revolusi mental Presiden Jokowi, tidak dapat hanya dilakukan di sistem institusi pendidikan saja.

“Jadi pengembangan karakter itu bukan hanya dari kurikulum, bukan hanya pembelajaran dari guru tapi masyarakat secara luas. Itu yang akan kami kembangkan,” kata dia.

Baca Juga :  Mahasiswa PR Asmi Santa Maria Yogyakarta Gelar Pameran Fotografi di Kulonprogo

Keempat, pengembangan teknologi. Nadiem menyebut dalam hal ini banyak yang harus difokuskan. Fokus dari teknologi ini ia sebut bisa membantu guru, dalam menjalankan kegiatan pendidikan.

Ia menyebut ada paradigma yang keliru di masyarakat soal pengembangan teknologi ini. Menurutnya selama ini teknologi di ranah pendidikan banyak disalahpahami, diartikan akan mengganti peran guru dan menembus batas ruang kelas. Persepsi ini ia sebut sangat keliru.

“Teknologi itu untuk memperbaiki atau meng-enhance, meningkatkan kapasitas. Bukan untuk mengantikan,” ujar mantan CEO Go-Jek ini.

www.tempo.co