JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kades-Kades Fenomenal Hasil Pilkades Serentak Sragen (6). Anang Cahyono,  Baru Lulus Kuliah Sukses Ukir Sejarah di Pilkades Terpanas 

Anang Cahyono (tengah) Kades terpilih Desa Taraman didampingi bapak dan ibunya. Foto/Wardoyo
Anang Cahyono (tengah) Kades terpilih Desa Taraman didampingi bapak dan ibunya. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Perjalanan cerita kades-kades fenomenal hasil Pilkades serentak Sragen sampai di Desa Taraman, Kecamatan Sidoharjo. Sudah menjadi rahasia umum, gelaran Pilkades di Taraman selama ini identik dengan aroma persaingan panas antar kandidat.

Drama menegangkan selalu tersaji di setiap agenda pesta demokrasi enam tahunan di desa yang konon termasuk salah satu desa paling tajir di Bumi Sukowati ini.

Tak terkecuali, Pilkades yang digelar 26 September 2019 silam. Dari awal pendaftaran balon, aroma panas sudah mulai menggeliat.

Untuk kali pertama, pilkades di desa ini diikuti oleh 11 pendaftar yang merupakan jumlah pendaftar paling banyak di sejarah Pilkades Taraman maupun dalam sejarah Pilkades di Sragen.

Dan setelah melewati pertarungan sengit, Pilkades ini juga mencetak sejarah dengan melahirkan Kades terpilih bernama Anang Cahyono.

Ia yang baru lulus kuliah 2018, sukses membalikkan semua prediksi dengan menumbangkan calon petahana, Agus Nardiyanto alias Sodron.

Kemenangan Anang terbilang cukup fenomenal. Pasalnya pemuda kelahiran 28 November 1992 atau berusia 26 tahun itu awalnya berangkat nyalon hanya untuk mendampingi bapaknya, Kamdijo.

Sayangnya, Kamdijo yang sejak awal digadang-gadang bakal mengulangi pertarungan head to head dengan Agus Nardiyanto, tersingkir saat tahapan seleksi tertulis.

Beban besar untuk revans pun tertumpu di sosok Anang. Meski sempat diragukan, Anang di luar dugaan sukses memenangkan pertarungan dengan keunggulan 342 suara.

Baca Juga :  Fakta Baru Sepasang ABG Terekam Asyik Mesum di Taman Edupark Gemolong Sragen. Begini Hasil Analisa Polisi!

Hasil perolehan suara akhir, si calon supersub itu mampu mengoleksi 1.762 suara sedang sang petahanya hanya 1.420 suara.

“Sebenarnya setelah bapak nggak lolos ujian itu, ada rasa kecewa karena memang dari awal yang dijagokan naik itu bapak. Tapi apa boleh buat ternyata yang naik harus saya,” kata Anang kepada JOGLOSEMARNEWS.COM .

Anang maju bertarung dengan empat kandidat lain termasuk petahana. Namun dari empat itu, pertarungan sesungguhnya hanya melibatkan Anang dan petahana saja.

Ia juga mengakui dari segi analisa, mungkin banyak yang meragukan dirinya bisa menang. Sebab selama ini ia menyadari masih terlalu hijau dan belum banyak yang diperbuat untuk masyarakat maupun bermasyarakat.

Namun di sisi lain ia juga optimis bisa menang lantaran bisa memaksimalkan jaringannya merangkul pemilih muda. Sementara basis massa bapaknya yang dari kalangan tua dirasa masih solid.

“Pikiran saya anak muda paling kuat. Orang tua bisa ikut anak muda, tapi anak muda itu tidak bisa ikut orangtua. Makanya dari situ saya makin yakin peluang kemenangan saya makin besar. Saya maksimalkan pendekatan ke anak muda, bapak yang ke pemilih tua,” terangnya.

Baca Juga :  Kronologi Dosen Asal Jatim Tewas Jadi Korban Tabrak Lari di Sambungmacan Sragen. Niatnya Hindari Lubang, Lalu..

Anang mengisahkan saat perhitungan suara ada perasaan deg-degan. Sebab di TPS Kadus 3 ia kalah 103 suara. Namun di dua TPS lainnya ia unggul 196 suara dan 249 suara.

Ketika perhitungan selesai dan dirinya unggul, ia pun langsung sujud syukur di depan rumah.

Saat ditanya sejauh mana kesiapannya menjadi pemimpin di desanya dengan latar belakang dari nol, ia mengaku tak ada kata lain selain siap.

“Saya nanti akan pendekatan dengan perangkat yang lain. Saya akan bekerja bersama-sama dengan mereka,” tuturnya.

Diakuinya, pertarungan Pilkades 2019 ini memang menjadi sejarah baginya. Sebab pertarungan Pilkades ini ibarat pertarungan balas dendam dengan petahana yang pada Pilkades 2013 sudah rivalan.

“Saya juga merasakan kalau soal tensi Pilkades, pasti Taraman paling tinggi. Sorotan mana-mana mesti ke Taraman. Nggak tahu kenapa begitu,” tukasnya.

Meski rivalitas sudah terbalaskan, dirinya mengaku siap untuk segera melakukan rekonsiliasi dan merangkul petahana.

“Kita nggak mau musuhan terus. Oke dalam Pilkades lawan, tapi setelah itu kita ingin kembali rekonsiliasi. Saya akan rangkul Mas Agus (petahana) sama-sama mbangun desa bareng. Wong kami sebenarnya masih satu RT. Sama-sama RT 8 Desa Taraman,” pungkas alumnus UMS Surakarta itu. Wardoyo