loading...
Loading...
Sebuah foto menampakkan puluhan siswa SMKN 2 Sragen berpose dengan membentangkan bendera HTI dan Palestina. Foto/Istimewa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Insiden pose foto dengan bendera identik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh sejumlah siswa di SMKN 2 Sragen yang viral baru-baru ini akhirnya mendapat klarifikasi dari pihak siswa dan guru pembina rohis.

Pembina Rohis SMKN 2 Sragen, Wera Marhento Putro yang berada di foto pembentangan bendera identik HTI, secara khusus meminta maaf kepada masyarakat atas adanya polemik yang timbul akibat viralnya foto pembentangan bendera identik HTI oleh siswa SMKN 2 Sragen beberapa waktu lalu. Menurutnya, hal itu terjadi bukan atas kesengajaan.

Akan tetapi karena kekurangpahaman anak-anak bahwa bendera tersebut identik dengan bendera ormas terlarang.

“Mohon maaf atas kepolosan kami. Kami murni tidak tahu. Yang kami tahu itu tulisan Laa Illaha Illalah. Tidak ada yang tahu ada hubungan dengan radikalisme,” paparnya kepada wartawan, Jumat (18/10/2019) seusai berfoto dengan bendera merah putih bersama warga.

Wera yang menjadi pembina rohis sejak 2013 itu kemudian menguraikan baru kali pertama bendera yang kemudian disorot karena identik dengan bendera Ormas HTI itu digunakan.

Baca Juga :  SPBU Tak Boleh Lagi Layani Pembelian Pertalite Pakai Jeriken. Pengecer dan Pertamini Hanya Boleh Jual Pertamax 

Menurutnya, saat berfoto, dirinya memang sempat melihat bendera itu dibentangkan oleh para siswa. Saat itu, ia sempat mengaku merasakan ada  keraguan di benaknya apakah itu boleh apa tidak.

“Waktu itu saya sudah berpose, saya lirik belakang ada bendera itu. Dada saya ada rasa gemetar. Ini boleh atau tidak? Tapi setelah itu sudah dicepret, kemudian perlahan saya mulai lupa,” terangnya.

Wera menampik tudingan jika disebut kecolongan atas insiden itu. Menurutnya, insiden itu timbul tak lebih karena kepolosan para siswa yang tidak menyadari jika bendera yang mereka bentangkan identik dengan organisasi terlarang.

Namun ia memastikan tak ada niatan untuk itu, apalagi kekhawatiran adanya pengaruh paham radikalisme di kalangan siswa.

“Hanya berbeda makna saja. Antara niat kami dengan yang diterima masyarakat tidak sesuai. Semoga dapat diterima apa yang kami terangkan, kami pribadi serta rohis mohon maaf kepada masyarakat,” urainya.

Hal senada disampaikan Muhamad Abdul Latif, Ketua Rohis yang baru saja dilantik. Dirinya mengakui sebagai orang yang membawa bendera tersebut ke sekolah. Namun sedikitpun tidak terbesit di benaknya bahwa apa yang dilakukannya akan menjadi polemik.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut Mobil Dinas Pemkab Sragen Gasak 2 Motor di Nglorog. Satu Korban Tewas, Satu Patah Kaki 

“Saya pinjem (bendera) temen. Saya anggap itu bendera tauhid, tidak tahu kalau terlarang di Indonesia,” kata Abdul.

Menurutnya, bendera itu hanya dipakai untuk foto-foto saja. Sama sekali tidak digunakan saat prosesi pelantikan pengurus rohis baru.

“Saya nggak nyangka. Intinya kami tidak akan mengulangi lagi. Dengan pembentangan bendera merah putih ini, kami ingin masyarakat tahu bahwa kami jauh dari paham radikal,” tegasnya. Wardoyo

Loading...