loading...
Loading...
Surat pengaduan yang dibuat oleh korban ke BRI. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM-Kisah tragis menimpa seorang nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) asal Tanon, Sragen. Septi Setianingsih (22) warga Dukuh Karangkulon RT 22, Desa Kecik, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, harus pasrah kehilangan uang di rekeningnya sebesar Rp 41 juta.

Uang tabungan ibunya di BRI Unit Suwatu Tanon itu hilang secara misterius dari rekeningnya.

Tak cukup sampai di situ, insiden itu juga membuatnya harus kehilangan ibu tercintanya, Sumiyati (47) yang meninggal dunia karena syok setelah mendengar kabar uang tabungan hasil penjualan tanah warisan itu hilang di rekening.

Insiden memilukan itu terungkap ketika keluarga yang terbilang tidak mampu itu,  mengungkapkan kasus yang dialaminya kepada Joglosemarnews.com, Rabu (9/10/2019).

Mereka juga mengaku sudah melaporkan kasus hilangnya uang di rekening itu ke pihak BRI dan ke Polsek Tanon maupun Polres Sragen.

Didampingi bapaknya, Parno (48) dan kakaknya, Supriyanton (26), Septi menuturkan insiden itu bermula ketika dirinya sedang merantau di Palembang, Sumsel bersama suaminya, Didik (24).

Saat berada di Palembang, mendadak ia dikejutkan dengan berondongan pesan singkat berisi notifikasi SMS Banking dari BRI di HP-nya pada tanggal 29 Agustus 2018 silam.

Saat itu ada 10 pesan masuk berisi notifikasi penarikaan uang dari rekeningnya. Penarikan tertanggal 28 Agustus 2019 sebanyak 6 kali dengan jeda waktu hanya beberapa menit.

Sontak pesan notifikasi penarikan itu membuatnya kaget. Sebab ia merasa tak pernah menarik atau mengambil uang dari rekeningnya pada tanggal itu.

Kemudian, meskipun buku rekening dan kartu ATM ditinggal di rumah, selama ini yang mengetahui nomor PIN ATM hanyalah ia dan bapaknya, sementara anggota keluarga lain, ibu dan kakaknya juga tak paham soal tabungan dan bank.

“Waktu saya tinggal, uang di rekening ada sekitar Rp 82 juta. Itu hasil dari jual bagian tanah warisan ibu saya. Di Palembang waktu itu saya sedang di ladang dan susah sinyal. Sehingga meskipun penarikan uang itu tanggal 28 Agustus, tapi baru tanggal 29 Agustus ada sinyal dan SMS BRI itu masuk ke HP. Rencananya uang Rp 82 juta itu mau dipakai untuk beli sawah sedikit-sedikit biar bisa untuk tani bapak di rumah. Karena ibu sudah nggak bisa apa-apa sejak terkena stroke. Yang mbayar tanah warisan juga masih saudara ibu dan bayarnya pun dicicil,” ujar Septi.

Baca Juga :  Bandar Kakap Pil Koplo Asal Masaran Sragen Digerebek Polisi. Diamankan 6.100 Butir Pil Trihex, Mengaku Edarkan ke Sragen dan Pekerja di Karanganyar! 

Keluarga Parno tinggal di rumah kecil di Dukuh Karangkulon. Meski dua anaknya, Supri dan Septi sudah berkeluarga, namun selama ini masih tinggal bersama satu rumah dengan orangtua.  Ketiadaan ekonomi membuat mereka belum bisa membuat rumah. Bahkan Septi terpaksa harus merantau mengikuti suami untuk mencari modal.

Septi kemudian menguraikan dari SMS Banking BRI itu diketahui ada penarikan beruntun sebanyak 6 kali tanggal 28 Agustus 2019.

Masing-masing Rp 500.000, Rp 200.000. Rp 2,4 jt, Rp 2,4 jt, Rp 2,4 jt, dan Rp 2 jt. Penarikan itu tercatat dilakukan beruntung hanya dalam selang beberapa menit saja.

Dari notifikasi SMS Banking, terekam penarikan terjadi pukul 14.13 WIB, 15.55 WIB, 15.15 WIB, 15.13 WIB, 15.15 WIB dan 15.35 WIB.

Tak cukup sampai di situ, esok harinya, Septi kembali dibuat syok setelah menerima pesan SMS notifikasi penarikan uang di rekeningnya. Dari SMS banking tercatat penarikan terjadi tanggal 29 Agustus 2019 sebanyak empat kali. Yakni Rp 2,5 juta pukul

02.59 WIB, Rp 2,5 juta pada pukul 02,59 WIB, Rp 2,5 juta pukul 02.59 WIB dan Rp 2,5 juta jam 03.00 WIB.

Merasa ada yang janggal, ia seketika langsung menelepun bapaknya yang ada di rumah apakah menarik uang. Saat itu, bapaknya menjawab dan memastikan tidak melakukan transaksi apapun, atau menyuruh orang mengambil uang di rekening.

Karena ada yang tak beres, Septi dan suaminya akhirnya memutuskan pulang dari Palembang menuju Sragen.

Di tengah pikiran yang berkecamuk, di perjalanan naik bus, ia kembali dikejutkan dengan pesan notifikasi penarikan di rekeningnya tanggal 30 Agustus 2019.

Saat itu, masuk pesan SMS banking dari BRI yang berisi penarikan uang sebesar Rp 1,250 juta pada pukul 15.48 WIB. Kemudian saat itu juga ada notifikasi transfer ke nomor rekening tak dikenal sebesar Rp 20 juta selang beberapa menit kemudian.

Baca Juga :  Sidang Korupsi Alsintan Sragen Memanas, 2 Terdakwa Bikin Jengkel Hakim dan Jaksa. Ribut Soal Jumlah Setoran, Tapi Akhirnya Sama-Sama Akui  Menerima 

“Total yang dikuras dari rekening saya ada Rp 41 juta. Anehnya nggak semua diambil, di rekening masih tersisa sekitar Rp 41 juta sekian. Setelah sampai di rumah Sragen saya tanya ATM dan buku rekening ke bapak, ternyata setelah dicari kartu ATM sudah nggak ada. Lalu KK juga hilang. Kemudian tanggal 2 September harinya Senin, saya langsung ke kantor BRI Unit Suwatu, untuk minta  memblokir rekening saya,” papar Septi.

Septi menuturkan bahwa selama ini yang tahu PIN ATM-nya hanya dirinya dan bapaknya saja. Hanya saja, ia mengakui jika PIN itu memang dibuat dengan angka tanggal lahirnya.

Dalam kondisi panik, oleh petugas BRI, ia lantas disarankan melapor ke Polsek Tanon. Setelah melapor, kemudian ia meminta print out atau cetakan transaksi selama sebulan terakhir.

Ternyata benar bahwa selama tiga hari sejak 28-30 Agustus tercatat ada penarikan tak dikenal dari rekeningnya senilai total Rp 41 juta sama persis di notifikasi SMS banking.

Bersamaan dengan kabar itu, ibunya yang baru pemulihan karena gejala stroke rupanya mendengar tabungannya hilang puluhan juta.

Saat itu, ibunya langsung syok dan drop. Pada Kamis Jumat (6/9/2019) petang ibunya dilarikan ke RSUD Sragen dan kemudian meninggal pada Minggu (8/9/2019) dinihari.

“Waktu terakhir sebelum meninggal saya sempat bilang ke ibu saya, saya tanya hanya mbrebes tapi nggak bisa berkata-kata. Kami benar-benar sedih, gara-gara dengan kabar itu, kami harus kehilangan ibu saya. Kemudian lapor ke BRI Cabang di Sragen Kota untuk mengadukan persoalan itu. Lalu diajukan untuk melihat rekaman CCTV,” imbuh Supri, kakak Septi.

Bapak korban, Parno mengatakan buku rekening dan ATM itu selama ini ia simpan di bawah karung gabah di dalam rumah. Meski tahu nomor PIN ATM, ia mengaku tak pernah menarik uang, memberi tahu PIN atau menyuruh orang untuk mengambil uang di tabungan itu.

Baca Juga :  Kasus Boikot Hajatan di Hadiluwih Sragen Berakhir di Meja Balai Desa. Pak RT Akhirnya Minta Maaf, Pernyatan Bu Tini Malah Bikin Trenyuh 

“Saya wong ndesa Mas. Nggak mudeng (paham) bank. Jadi nggak pernah ngotak-atik ATM,” tuturnya.

Setelah mengajukan surat pengaduan, akhirnya selang sepekan pihak bank memanggil untuk menunjukkan rekaman CCTV.

Pihak bank memastikan bahwa kasus hilangnya uang di rekening Septi bukan karena kejahatan skimming. Akan tetapi memang karena ada oknum tak dikenal yang mengambil uang itu di ATM tanpa sepengetahuan korban.

“Semua pengaduan langsung kami tindaklanjuti. Kasusnya ini bukan skimming. Akan tetapi memang ada oknum yang tanpa sepengetahuan pemilik rekening, telah mengambil uang dari ATM maupun transfer. Apalagi kartu ATM korban juga hilang,” papar Pemimpin Cabang BRI Sragen, Robert Tumonggor Sitinjak saat memberikan penjelasan.

Pihak BRI kemudian memberikan saran agar dilaporkan ke Polres karena kasus hilangnya uang itu bukan karena kesalahan sistem di Bank. Akan tetapi memang ada oknum yang diduga mencuri ATM dan melakukan penarikan.  Selain itu mereka juga mengimbau agar nasabah sebisa mungkin jangan membuat PIN ATM dengan nomor yang berurutan, atau tanggal lahir. Lantas  disarankan pula merubah PIN secara berkala untuk mencegah hal-hal tidak diinginkan.

“Kami juga sudah melapor ke Polres Sragen dan sudah dimintai keterangan. Harapannya kalau bisa ditemukan pelakunya dan uang saya bisa dikembalikan. Karena itu uang tabungan ibu saya dan sampai ibu saya meninggal memikirkan itu,” urai Supri yang sehari-hari bekerja sebagai buruh antar air galon.

Terpisah, Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan melalui Kasubag Humas AKP Agus Jumadi mengatakan kasus itu akan segera didalami. Nantinya tentunya akan dilakukan penyelidikan termasuk berkoordinasi dengan pihak bank, sehingga memang agak butuh waktu.

“Tapi segera nanti akan ditindaklanjuti. Pesan kami, lebih berhati-hati menyimpan kartu ATM dan kalau membuat PIN jangan pakai angka yang mudah dikenal seperti berurutan atau tanggal lahir. Semua untuk keamanan dan mencegah hal-hal tak diinginkan,” paparnya Rabu (9/10/2019). Wardoyo

 

Loading...