loading...
Loading...
Warga Desa Gading, Tanon, Sragen menunjukkan bangkai tikus dan tanaman padinya yang rusak diserang tikus, Rabu (20/11/2019). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Serangan hama tikus kembali merajalela di sejumlah wilayah di Sragen. Tak hanya merusak ratusan hektar tanaman di beberapa kecamatan, hama tikus juga merenggut dua korban nyawa.

Serangan tikut itu melanda beberapa kecamatan seperti di Tanon, Sidoharjo dan Mondokan. Para petani sampai kewalahan mengatasi serangan tikus yang makin membabi buta.

“Nggak hanya nyerang persemaian, padi yang baru ditanam pun kelakon dadal diawut tikus. Padahal nggak kurang-kurang kita kasih obat tapi bukan mereda tapi malah makin ganas. Bahkan yang bikin geram mereka itu nggak makan tanaman, tapi kadang cuma dicabut saja trus ditinggal. Seperti sengaja hanya ngrusak,” ujar Agus, warga Desa Kecik, Tanon, Rabu (20/11/2019).

Ia menuturkan saat ini hampir semua lahan yang ada tanaman sudah dirusak tikus. Bahkan petani sampai kebingungan harus menyulam tanaman yang dirusak.

Keluhan serupa juga datang dari petanu di wilayah Desa Gading, Kecamatan Tanon. Sejumlah petani mengalami kerugian jutaan rupiah selama 2 minggu ini pasca tanam padi lantaran dorusak oleh kawanan tikus.

Salah satu petani, Kromo (45) waga Dukuh Dayan RT 07, Desa Gading, Kecamatan Tanon, menuturkan serangan tikus merajalela sejak dua pekan terakhir. Hampir semua sawah yang sudah ada tanaman padi di wilayahnya rusak disasak tikus.

Baca Juga :  Berkas Bermasalah, Nasib 282 Pelamar CPNS di Sragen di Ujung Tanduk

Lahan miliknya sendiri seluas 4.000 meter persegi yang belum lama ditanami padi, juga rusak total.

“Ini serangan paling parah Mas. Satu petak sudah habis disasak tikus. Saya rugi banyak. Modal yang saya keluarkan untuk tanam padi ini hampir Rp 2,5 juta rupiah mulai dari biaya traktor, air sibel, tenaga tanam dan pupuk. Sekarang padi yang ditanam sudah rusak,” terangnya Rabu (20/11/2019).

Serangan serupa juga melanda desa sekitar seperti Karangtalun dan Sambiduwur. Para petani pun berharap dinad terkait segera turun tangan terjun menangani serangan tikus yang makin merajalela.

Sebab jika dibiarkan para petani akan merugi dan terancam tak akan panen. Hal itu akan berdampak buruk pada capaian produksi pangan musim ini.

Tak hanya di Tanon, serangan tikus juga mengganas di Sidoharjo, utamanya Desa Taraman, Jambanan dan Singopadu maupun Sidoharjo.

“Serangan tikus seperti nggak sebaene (biasanya). Petani juga nggak kurang-kurang mengatasi, tapi juga nggak mereda. Kebetulan sebagian warga kami memakai jebakan yang menggunakan aliran listrik. Hasilnya banyak tikus yang kena, tapi juga sangat bahaya. Makanya sering saya sosialisasi untuk lebih berhati-hati dan selalu mengecek,” tutur Kades Jambanan, Sugino Welly.

Serangan tikus itu juga telah merenggut dua korban jiwa. Kedua warga asal Jambanan, Sidoharjo itu tewas tersengat jebakan tikus beraliran listrik.

Baca Juga :  Kans Yuni-Dedy Jilid 2 Makin Menguat. Wabup: Ngangkat Yuni-Dedy Lebih Mudah Daripada Bentuk Baru! 

Dari catatan JOGLOSEMARNEWS.COM, korban pertama adalah Purno Diharjo (70) asal Dukuh Jipangan RT 9, Jambanan. Ia ditemukan tewas mengenaskan pada akhir Juli silam akibat tersetrum kabel beraliran listrik yang dibuatnya untuk jebakan tikus di sawahnya.

Kakek malang itu ditemukan tewas dengan luka bakar parah di bagian tangan. Data yang dihimpun di lokasi, insiden itu terjadi pukul 11.30 WIB.

Insiden serupa kembali terulang, dua hari lalu di Desa Jambanan, Sidoharjo, Sragen. Kali ini seorang nenek, Suparti (75) asal desa setempat ditemukan meregang nyawa seusai kesetrum jaringan kabel beraliran listrik untuk jebakan tikus yang dipasang di sawah.

Nenek malang asal Dukuh Kwayon, Jambanan, Sidoharjo itu ditemukan tewas sekitar pukul 18.30 WIB di areal sawah milik salah satu warga di wilayah Sembungan, Jambanan, Sidoharjo. Wardoyo

 

 

 

 

Loading...