JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Polres Sragen Amankan 2 Seragam PSHT dan 2 Sabuk Terkait Kasus Tewasnya Siswa Akibat Terkena Tendangan Perut Saat Latihan 

Ketua PSHT Madiun Cabang Sragen, Jumbadi saat memantau ujian pendadaran ribuan calon warga baru. Foto/Wardoyo


Ketua PSHT Madiun Cabang Sragen, Jumbadi saat memantau ujian pendadaran ribuan calon warga baru. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Polisi terus mengusut kassus tewasnya salah satu siswa perguruan silat persaudaraan setia hati terate (PSHT) asal Desa Saren, Kalijambe berinisial MA (13) akibat mendapat tendangan perut dari pelatihnya, FAS (16).

Polres Sragen mengamankan empat barang bukti dari korban dan tersangka. Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan melalui Kasubag Humas AKP Harno mengungkapkan barang bukti yang diamankan antara lain dua seragam PSHT dan dua sabuk.

“Dua sabuk milik korban dan tersangka serta baju latihan (seragam PSHT) yang mereka kenakan, kita amankan sebagai barang bukti,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Rabu (27/11/2019).

Menurutnya, saat ini, barang bukti itu sudah diamankan di Mapolres. Pelatih yang menendang MA, FAS (16) yang ditetatkan sebagai tersangka juga sudah ditahan sejak Senin (25/11/2019).

AKP Harno menguraikan tim masih melakukan pendalaman dan penyelidikan untuk menguak tuntas kasus tersebut.

Termasuk mengorek apakah ada tersangka lain, apakah latihan dan tendangan sudah sesuai standar atau SOP, dan beberapa kemungkinan lainnya.

“Masih akan dikembangkan terus. Penanganan kasus ini akan dibuka tuntas sehingga publik tidak lagi bertanya-tanya,” tandasnya.

Baca Juga :  Banyak Warga Sragen Dirasuki Hoaks Vaksin, Anggota DPRD Mualim Minta Bupati Gerakkan Camat dan Satgas Terjun ke Desa-Desa. Tokoh Agama dan Tomas Juga Dirangkul

Ketua PSHT Cabang Sragen Pusat Madiun, Jumbadi mengatakan siswa yang tewas saat mendapat tendangan A atau tendangan perut itu memang baru bergabung sekitar tiga bulan silam.

“Yang bersangkutan baru sekitar tiga bulanan gabung latihan. Belum lama,” paparnya, Rabu (27/11/2019).

Ia mengungkapkan insiden tewasnya MA, bukan karena faktor kesengajaan. Menurutnya tendangan A atau tendangan dengan kaki ke bagian perut yang dilakukan pelatih berinisial FAS (16) asal Donoyudan, Kalijambe ke korban juga tendangan yang wajar dan selalu diajarkan ke siswa.

“Latihannya biasa Mas. Latihan standar dan nggak terlalu berat. Saat itu mung diberi aba-aba kongkong (kuda-kuda) lalu diberi tendangan perut. Mungkin hanya kebetulan siswanya itu kurang siap. Itu saja,” urainya.

Ia juga mengungkapkan kemungkinan siswa juga kurang siap secara mental. Dimungkinkan pula saat berangkat latihan, perutnya kosong.

“Mungkin pas berangkat, perutnya kosong juga bisa. Mentalnya kurang siap juga bisa,” terangnya.

Jumbadi menguraikan tendangan A atau ke perut, menurutnya adalah tendangan yang selalu diajarkan baik teori maupun praktik ke semua siswa.

Baca Juga :  Bikin Pilu, Wasiat Terakhir Rini Sesaat Sebelum Meninggal. Ada Pesan Pemakaman

Semua siswa diajarkan dan harus bisa melakukan serta tahu kegunaannya. Ia juga memastikan bahwa semua pelatih pun melakukan tendangan itu dalam batasan standar.

“Mungkin dia mengajarkan cara menendang A itu begini Dik. Sasarannya di sini. Jadi kami pastikan nggak ada unsur kesengajaan,” katanya. Wardoyo