JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

PSK Penghuni Lokalisasi GBL Pulang Kampung dan Jadi Pedagang Bakso dan Makanan Ringan

surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Ilustrasi. pexels

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM Dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang secara resmi menutup dua lokalisasi besar yakni Sunan Kuning (SK) dan Gambilangu (GBL). Seperti diketahui, lokalisasi SK resmi ditutup pada tanggal 18 Oktober 2019, sedangkan hari ini, lokalisasi GBL secara resmi ditutup untuk selamanya.

Lokalisasi GBL terletak di perbatasan pintu masuk wilayah Kota Semarang dan Kabupaten Kendal.

Data yang dihimpun, sekitar 126 pekerja seks komersial (PSK) penghuni lokalisasi sejak pagi sudah berada di Terminal Mangkang, Semarang, untuk mendeklarasikan penutupan lokalisasi yang kerap disebut GBL bersama kedua pemerintah daerah tersebut.

Usai dilakukan penutupan, para wanita pekerja seks (WPS) yang menjadi penghuni di lokalisasi terbesar kedua di Kota Semarang ini, merupakan lanjutan penutupan SK. Lantaran GBL berada di dua daerah maka penutupan melibatkan Pemkot Semarang dan Pemkab Kendal.

Ada banyak hal positif usai dilakukan penutupan di lokalisasi yang terletak di dua wilayah yakni Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang dan Desa Sumberejo Kabupaten Kendal.

Salah satu WPS Gambilangu yang yang telah menerima dana bantuan dari Kemensos RI sebanyak Rp 6 juta. MRS (32) mengatakan, usai menerima dana tali asih dirinya berniat untuk pulang ke kampung halaman yang berada di Kabupaten Jepara untuk berdagang. Rencananya, dana bantuan dari pemerintah sebesar Rp6 juta akan dibuat untuk modal dagang bakso.
“Dana bantuan yang saya terima nanti akan dibuat usaha bakso di rumah,” terang wanita yang mengaku hampir 6 tahun menghabiskan waktunya di lokalisasi GBL itu.

Baca Juga :  10 Tersangka Maling Motor Dibekuk di Blora. Ada 17 Motor Berhasil Diamankan

Dijelaskannya, nominal dana bantuan sebesar Rp 6 juta untuk para WPS sudah lebih dari cukup untuk mulai membuka usaha.
“Dana sebesar Rp6 juta sudah lebih dari cukup, akan kami gunakan untuk pegangan hidup dan sebagian untuk modal usaha,” kata dia.

Sementara itu, WPS lain yang diketahui bernama Bunga (28) mengaku akan pulang ke kampung halamannya di Pati. Ia mengaku telah memiliki rencana untuk berdagang makanan ringan di kampung halamannya.

“Pastinya saya akan pulang kampung, mungkin menekuni usaha di desa karena di sini sudah tidak dapat lagi bekerja. Rencana saya akan berdagang makanan ringan,” terang dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang Muthohar mengatakan penutupan lokalisasi GBL secara seremoni dilakukan di Terminal Mangkang agar bisa menampung seluruh penghuni GBL termasuk ratusan WPS yang langsung dipulangkan ke kampung halaman. Alasan seremonial tersebut dipusatkan di Terminal Mangkang lantaran di Gambilangu tidak ada lokasi yang luas dan tidak dapat menampung mereka secara bersamaan.
“Penutupan lokalisasi GBL merupakan hasil koordinasi dua daerah yang sepakat menutup lokalisasi secara bersamaan, yakni Semarang dan Kendal,” kata dia.

Baca Juga :  Jual Motor Rp 5 Jutaan Via Facebook, 2 Warga Sumpyuh Langsung Ditangkap Polisi. Ini Kesalahannya!

Untuk diketahui, seremonial penutupan lokalisasi GBL yang dihadiri Sekretaris Dirjen Kementrian Sosial, Wali Kota Semarang dan Bupati Kendal ini sekaligus menyerahkan bantuan dana sosial dan tali asih kepada P dari Kementrian Sosial (Kemensos) yang dipulangkan melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial Yayasan At Tauhid Kota Semarang.

Ketua Yayasan Rehabilitasi At Tauhid Singgih Yongki Nugroho menjelaskan, masing-masing para WPS mendapatkan dana bantuan sosial melalui rekening sebesar Rp6 juta per WPS.
“Dana bantuan Rp6 juta rinciannya, Rp5 juta untuk dana usaha ekonomi produktif, Rp750 ribu dana jaminan hidup serta Rp250 ribu sebagai dana transport. Satria Utama