JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Pendidikan

Soft Skill dan Karakter Mahasiswa Perlu Diasah Sejak Awal

Didik Kartika dalam paparannnya di FKIP UNS, Sabtu (23/11/2019) / Joglosemarnews

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Di era milenial ini, mahasiswa tak cukup hanya dibekali dengan soft skill semata. Lebih dari itu, mahasiswa juga perlu dilengkapi dengan pendidikan karakter yang kuat.

Demikian diungkapkan oleh Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan FKIP UNS, Dr Dewi Kusmawardani MSc saat memberikan sambutan dalam Seminar Nasional Gelora Pendidikan: Membangun Generasi Muda yang Berkarakter dan Kreatif dalam Mengembangkan Pendidikan Berkualitas untuk Indonesia Maju.

Acara tersebut berlangsung di gedung Pasca Sarjana FKIP lantai 3, Sabtu (23/11/2019).

“Salah satu buktinya, sekarang generasi milenial diberi kepercayaan yang lebih besar untuk mengelola pendidikan di tanah air,” ujarnya.

Oleh karena itu, Dewi berharap seminar tersebut mampu menghasilkan output dan membekali mahasiswa agar menjadi generasi yang maju dan berkarakter.

Seminar tersebut menghadirkan tiga orang pembicara, masing-masing Dr Eng Nugroho Agung Pambudi MEng, dosen dan alumnus Kyushu University Japan, E Didik Kartika selaku Direktur Solo Mengajar dan Akbar Bagus Wicaksono yang aktif berkecimpung dalam program Gerakan Menulis Buku Idonesia (GMBI).

Akbar Bagus Wicaksono saat menyampaikan materi / Joglosemarnews

Sesuai dengan latar belakangnya, Agung Nugroho lebih banyak bercerita mengenai perjuangannya menembus beasiswa keluar negeri.

Dia mengatakan, sejauh ini berhasil memperoleh 22 beasiswa keluar negeri. Namun Agung mengakui, jumlah itu hanya 20 persen dari total perjuangannya.
“Banyak yang tidak tahu bahwa saya lebih banyak kegagalan ketimbang keberhasilan saya. Anda tahu, saya gagal 80 kali,” ujarnya.

Baca Juga :  Menteri Nadiem Minta Siswa dan Guru yang Belum Terima Bantuan Kuota Internet Segera Lapor Pimpinan

Agung mengatakan, pada dasarnya setiap manusia sudah diberi bekal awal untuk berhasil. Keberhasilan seseorang terdiri dari tiga level, mulai dari level 1, 2 dan level 3.

Level 1 terdiri dari kekayaan, jaringan dan keterkenalan. Artinya, ujar Agung, dari awal orang sudah kaya, sudah memiliki jaringan dan sudah terkenal.

Ia mencontohkan, anak orang kaya, orang terkenal dan orang yang memiliki jaringan, sebenarnya telah memiliki modal awal yang baik.

“Jika kita merasa bukan berasal dari level 1, kita bisa upayakan dengan level 2, yaitu melalui keahlian, pendidikan dan kerja keras,” ujarnya.

Berbeda dengan Agung, materi yang dibawakan Didik Kartika lebih banyak mengajak para mahasiswa untuk menyediakan hati untuk berbagi pada sesama melalui berbagai talenta dan latar belakang yang dimiliki.

Solo Mengajar yang sudah berkiprah bertahun-tahun, menurut Didik Kartika, sejauh ini telah menjadi laboratorium pendidikan karakter bagi para mahasiswa.

Baca Juga :  Beberapa SMKN di Yogyakarta Mulai Pembelajaran Tatp Muka Terbatas

“Dan uniknya, mereka yang di Solo Mengajar bukan hanya mahasiswa calon guru saja, melainkan mahasiswa di luar keguruan. Ada yang dari ISI, Matematika, Fisika dan lain-lain,” paparnya.

Dalam paparannya, Didik mengisahkan bagaimana pergulatan mahasiswa di Solo Mengajar dalam memberikan layanan pendidikan gratis bagi anak-anak kurang mampu dan tak mendapat perhatian.

“Ini menjadi ladang untuk mengasah karakter para mahasiswa sekaligus anak didik agar menjadi pribadi yang sehat, mandiri dan utuh,” ujarnya.

Sementara itu, melalui materinya, Akbar Bagus Wicaksono mengajak mahasiswa untuk mau bersikap kreatif sejak awal.
Salah satunya adalah dengan tradisi menulis sejak awal.

Akbar mengisahkan, gerakan menulis yang dia lakukan, simulai dari sekolah ke sekolah. Lama kelamaan, jangkauan gerakan itu makin meluas hingga ke tingkat kota dan provinsi.

“Dan kini gerakan ini sudah merambah ke tingkat nasional,” ujarnya.

Dalam sesi tanya jawab, para mahasiswa lebih banyak bertanya mengenai cara pengelolaan anak didik maupun msnyikapi orangtua siswa yang cenderung “pasrah bongkokan” kepada guru.

Ada pula peserta yang bertanya mengenai tips menangani anak-anak sekolah yang bandel. Sebagian lagi menanyakan mengenai tips untuk memulai swbuah tulisan. suhamdani