loading...
Loading...

BANDUNG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Para peneliti yang mendapatkan dana dari APBN, diharapkan menelorkan hasil penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Dengan kata lain, tidak hanya meneliti karena didorong oleh sebuah hobi.  Hal itu dikatakan oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro.

Permintaan itu, kata Bambang, sesuai keinginan Presiden Joko Widodo.

“Tidak sekadar hasil riset individual tapi yang bermanfaat buat bangsa,” ujarnya di Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (12/12/2019).

Selain itu, Bambang juga meminta peneliti tidak lagi hidup di menara gading melainkan berinteraksi dengan pengusaha.

“Inovasi sangat dibutuhkan ekonomi Indonesia,” kata ekonom dari Universitas Indonesia itu.

Bambang mengatakan jumlah peneliti terbanyak berasal dari perguruan tinggi negeri, khususnya perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH) yang kini berjumlah 11 universitas dan institut.  Menurutnya, peneliti yang menjadi inovator adalah pencipta budaya.

Baca Juga :  Roy Suryo Duga Sunda Empire Ubah Sejarah PBB. Didirikan di Gedung Isola Lembang Bandung, Diubah Sehari Setelah Raden Rangga Sasana Tampil di ILC

Menristek juga meminta para peneliti di lembaga pemerintah, kementerian, serta di perguruan tinggi untuk berkolaborasi dan bersinergi. Badan Riset dan Inovasi Nasional akan melakukan koordinasi dan mencegah duplikasi riset.

“Dan mendorong hilirisasi dari riset menjadi inovasi,” ujarnya.

Mulai 2020 BRIN akan mengintegrasikan semua riset termasuk yang dilakukan perusahaan swasta dan masyarakat. Sebuah produk misalnya benih padi unggul bisa diteliti bersama. Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) misalnya dengan pendekatan nuklir, akan berbeda dengan cara Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian atau Institut Pertanian Bogor.

Baca Juga :  Protes Terhadap Pemecatan Helmy Yahya, Karyawan Bentangkan Kain Hitam #SaveTVRI

“Yang penting produknya keluar,” kata Bambang.

Merujuk pada rencana induk riset nasional yang meliputi sembilan bidang utama, fokus penelitian pada lima tahun ke depan seperti masalah kebencanaan, stunting, dan air.

Secara khusus Menristek meminta kepada ITB untuk menghasilkan karya teknologi yang tepat guna, bernilai tambah, dan pengganti barang impor.

“Seperti radar cuaca untuk BMKG dibuat ITB dengan komponen lokal sehingga harganya bersaing dengan produk impor,” ujar Bambang.

www.tempo.co

Loading...