JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Opini

PDIP Solo akan Pedhot Oyote?  

Begog D. Winarso, Wartawan Senior . Istimewa
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

Opini 

Begog D. Winarso, Wartawan Senior . Istimewa

 

 

 

Oleh: Begog D Winarso,

Wartawan Senior 

 

GINDA Ferachtriawan, anggota Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) DPRD Solo, yang akan mendaftar bakal calon wakil wali kota ke DPD PDIP Jateng, mengindikasikan PDIP Solo tidak satu suara dalam pencalonan wali kota-wakil wali kota di Pilkada (serentak) 2020.

 

Bagi PDIP Solo, langkah Ginda itu merupakan “prahara” kedua setelah Gibran Rakabuming Raka. Putra sulung Presiden Jokowi itu setelah mendaftar sebagai anggota PDIP kemudian menyatakan akan maju nyalon wali kota. Ia akan mendaftar ke DPD PDIP Jateng pada 12 Desember mendatang.

 

Manuver Gibran tersebut membuat kalangan elite PDIP Solo terhenyak bak terkena lemparan batu berapi. Sebab, DPC PDIP Solo telah menetapkan dan mendaftarkan ke DPP PDIP pasangan calon wali kota-wakil wali kota, yakni Achmad Purnomo-Teguh Prakosa (Puguh).

 

Paslon ini merupakan hasil kesepakatan Anak Ranting, Ranting, PAC dan DPC. Dengan kata lain, Puguh adalah aspirasi dari akar rumput yang secara politik seluruh anggota/kader PDIP Solo komitmen dengan aspirasi tersebut. Tak seorang pun tak boleh mbalela, mengkhianatinya.

 

Adagium tak ada kawan maupun lawan abadi di jagat politik benar-benar dipraktikan Ginda dengan mendaftar ke DPD PDIP Jateng. Langkah dia bisa jadi memang ada yang mengarahkan (baca: menginstruksikan). Begitu juga Gibran.                – Siapakah sang pengarahnya? Saya menduga, mereka adalah beberapa elite PDIP ditambah elite penyelenggara negara.

Baca Juga :  Kalung Ajaib Ala Kementan

 

Lantas apa tujuaannya? Pertanyaan ini sungguh sulit dicari jawabnya. Tapi, dari manuver politik Gibran dan Ginda dapat kita baca bahwa beberapa elite PDIP tak berkenan dengan paslon Puguh meski keduanya merupakan hasil penjaringan dari akar rumput

 

PDIP Solo di bawah kepemimpinan FX Hadi Rudyatmo – yang pada Pemilu 2019 berhasil meraih 30 dari 45 kursi di DPRD Solo – tampaknya tak menjadi bahan pertimbangan beberapa elite tersebut dalam menentukan paslon wali kota-wakil wali kota. Perolehan kursi di legislatif yang signifikan itu seakan diangggap angin lalu. Dianggap hal yang biasa.

 

Oleh sebab itu, DPD PDIP dan DPP PDIP menbuka pendaftaran bakal calon kepala daerah. Selain kader PDIP, masyarakat umum diperbolehkan mendaftar.  DPD PDIP Jateng membuka pendaftaran mulai tanggal 6 hingga 12 Desember 2019.

 

“Proses pendaftaran ini sesuai dengan peraturan partai pasal 11 ayat 4, yang nengatur pendaftaran boleh dilakukan di DPC, DPD atau DPP,” kata Ketua Panitia Pendaftaran DPD PDIP Jateng, Abang Baginda Hasibuan.

Baca Juga :  Kalung Ajaib Ala Kementan

 

Ditanya awak media massa tentang Gibran yang tak kunjung mendaftar, Hasibuan berkata: “Saat ini, Mas Gibran menunggu arahan Ketua DPD PDIP Jawa Tengah (Bambang Pacul). Namun, di awal Mas Gibran menyampaikan akan mendaftar melalui jalur DPD.”

 

Merujuk apa yang dikatakan Hasibuan terkait Gibran itu memperkuat dugaan saya bahwa paslon Puguh betul-betul tidak dimaui beberapa elite. Bisa jadi sudah ada deal-deal tertentu antara beberapa elite PDIP dengan pihak Gibran dan Ginda. Apa jenis deal-dealnya? Wallahualam.

 

Politik memang mendadak bisa cair dan keras (harus itu atau harus begitu dan semacamnya). Semua tergantung kepentingan yang sifarnya pragmatis.          – Jika kelak Puguh ditendang berarti PDIP Solo pedhot oyote (putus akarnya dalam hal pencalonan wali kota- wakil wali kota. Aspirasi atau suara nyaring dari tataran bawah sengaja diputus, dipangkas.  Bukankah para elite PDIP selalu menggaungkan slogan “aja pedhot oyot”?

 

Namun, bisa jadi pada detik-detik akhir bola atau tiket calon Wali Kota-Wakil Wali Kota Solo diberikan ke Puguh. Ingat politik itu memang misterius – yang kapan saja bisa tiwikrama atau berubah. (*)