JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Batik Tulis Girilayu Angkat Ciri Khas Karanganyar

Dok EB Santoso

JOGLOSEMARNEWS.COM – Di tengah dinamika kehidupan yang serba bergegas, seni batik printing dan batik cap lebih ngetren ketimbang batik tulis.

Pasalnya, proses penggarapan batik printing dan batik cap relatif lebih cepat.

Meski demikian, bukan berarti batik tulis yang merupakan cikal bakal dari karya seni batik, lantas ditinggalkan.

Justru di tengah zaman yang kian maju, muncul kesadaran dari kelompok masyarakat tertentu untuk melestarikan tradisi batik tulis tersebut dan memberinya dengan sentuhan kekinian.

Upaya pelestarian batik tulis tersebut, salah satunya dilakukan oleh sekelompok masyarakat di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar.

Upaya yang diprakarsai EB Santoso, pembina UMKM ini kemudian melahirkan karya seni batik tulis yang terkenal dengan sebutan Batik Tulis Girilayu.

“Batik tulis itu merupakan warisan luhur Indonesia. Karena itu, kita wajib untuk melestarikannya,” ujar pembina komunitas perajin batik tulis Girilayu tersebut.

Santoso  mengatakan, batik tulis di Desa Girilayu sebenarnya berakar dari kerajaan di zaman dahulu. Sebagaimana diketahui, di Desa Girilayu sendiri terdapat tiga kompleks makam raja-raja.

Keberadaan makam raja-raja tersebut, menurut Santoso secara tidak langsung berdampak pada kehidupan masyarakat.

Santoso mengisahkan, selama ini sekitar 70 persen warga di Desa Girilayu  memiliki pekerjaan sampingan membatik. Biasanya, setelah menyelesaikan pekerjaan membantu suami bertani, kaum perempuan tenggelam dalam keasyikan membatik.

“Proses yang mereka lakukan berangkat dari awal. Dari nol sampai batik jadi dan siap jual,” ujarnya.

Santoso mengatakan, dirinya dan beberapa kawan di Desa Girilayu bertekad mengangkat batik khas dari kawasan itu. Upaya itu pun tidak sia-sia, dan oleh pemerintah, Desa Girilayu  ditetapkan sebagai desa wisata batik.

Batik Girilayu, jelas Santoso, memiliki berbagai macam motif. Setelah produk jadi, batik produk Grilayu dapat dipakai sebagai jarik,  sebagai bahan kemeja maupun untuk keperluan yang lain.

Baca Juga :  Makin Ganas, Virus Covid-19 Renggut Nyawa Warga Perum Ngringo Karanganyar. Bapak 56 Tahun Meninggal Positif, Anak dan Keluarga Besarnya Diswab Sampai 3 Kali

“Misalnya, bisa juga sebagai bahan ikat kepala, seperti iket yang saya pakai ini,” ujarnya.

Kendati tetap mempertahankan sisi tradisional dari batik, namun menurut Santoso, pihaknya juga memproduksi batik sesuai pesanan.

Pasalnya, zaman sekarang modelnya tidak original lagi. Sebagian ada yng dicampur dengan motif parang, bunga dan kombinasi dengan motif yang lain.

Dok EB Santoso

“Meski begitu, tetap saja masih ada yang  menggunakan motif tradisonoal. Misalnya di acara-acara resmi. Seperti di keraton kemarin, juga ada acara, yang pesertanya menggunakan batik tradisioinal,” paparnya.

Santoso mengatakan, semula para perajin batik di Girilayu tak semandiri seperti sekarang. Dulu, mereka hanya membatik, kemudian disetorkan ke tengkulak yang ada di Kota Solo.

Selama itu pulalah mereka terjebak di tangan tengkulak. Mereka rata-rata diberi uang dulu dan mendapat order. Dengan begitu, mereka tidak bisa melepaskan diri.

“Dengan sistem ini, harga dan nilai tawarnya ada di tangan pemodal. Perajin nggak punya daya tawar lagi,” ujarnya.

Sekarang, dengan memandirikan perajin, maka hak cipta berada di para perajin batik Girilayu. Itulah tujuan Santoso dan kawan-kawan, yakni berupaya mengangkat Desa Girilayu agar memiliki identitas.

“Batik Girilayu ini sudah ada sekitar tujuh tahun lalu,” ujarnya.

Salah satu ciri khas dari Batik Girilayu adalah motif Tri Dharma. Menurut Santoso, Tri Dharma adalah inti ajaran yang dimiliki oleh Raden Mas Said, atau yang lebih akrab dengan sebutan Pangeran Sambernyawa.

Ajaran Tri Dharma tersebut diabadikan dalam sebuah tugu yang terletak di kawasan Astana Makam Mangadeg.

“Di sana berdiri tugu perjuangan itu. Itu yang kemudian  kami aplikaskan menjadi motif batik,” ujarnya.

Ibarat sekali kayuh, selain melestarikan tradisi batik tulis sebagai warisan budaya, Santoso dan kawan-kawan  juga sekaligus melestarikan falsafah  Tri Dharma.

Baca Juga :  Polres Karanganyar Usut Izin Senjata Yang Digunakan Untuk Menembak Mati Kucing Anisa asal Colomadu. Peradi Sebut Pelaku Penganiaya Binatang Bisa Dijerat Pasal 302 KUHP

Menurutnya, ajaran Tri Dharma tersebut tidak lekang dimakan usia dan zaman. Konsep Tri Dharma akan selalu up to date dan dapat diterapkan sampai kapan pun.

Ajaran tersebut adalah Mulat Sarira Angrasa Wani (berani melakukan introspeksi), rumangsa melu andarbeni (merasa ikut memiliki) dan wajib melu anggodheli (berkewajiban ikut membela atau mempertahankan).

Santoso mengatakan, dengan melestarikan ajaran  Tri Dharma dalam bentuk batik, dia berharap filosofi ajaran Pangeran Sambernyawa itu dapat menyebar di tengah masyarakat.

Selain mengemban misi budaya, Santoso  tidak menampik bahwa dirinya juga mengusung misi ekonomi, yakni berupaya mengangkat kesejahteraan masyarakat Desa Girilayu.

Dengan melakukan proses dari awal sampai akhir, dari hulu sampai hilir, Santoso berharap dapat meningkatkan nilai jual batik Girilayu.

“Ujungnya, kami ingin meningkatkan taraf hidup masyarakat Girilayu,” ujarnya.

Bicara soal harga, menurut Santoso, produk batik Girilayu dijual dengan harga bervariasi. Mulai dari harga yang paling murah sampai batik yang berharga tinggi.

Dok EB Santoso

Soal tinggi rendahnya harga, menurut Santoso tergantung pada motif dan tingkat kesulitan penggarapannya. Selain itu, tingkat keluwesan penggarapan juga bisa mempengaruhi harga.

Santoso mencontohkan, batik yang dihasilkan oleh tangan yang sudah berpengalaman, tentu harganya lebih mahal ketimbang batik yang digarap oleh pemula, misalnya.

“Perbedaan itu bisa dilihat dari goresan batiknya,” paparnya.

Karena itulah, jelas Santoso dalam batik tulis, tidak ada produk yang sama persis antara satu batik dengan batik yang lain.

Untuk menambah wawasan dan mengasah keterampilan para perajin batik Girilayu, Santoso mengatakan, para perajin batik Girilayu sering didorong dan difasilitasi untuk mengikuti pelathian-pelatihan.

Selain tentu saja juga dimotivasi untuk mengikuti berbagai ajang lomba yang digelar oleh pihak-pihak lain.

“Itu pialanya yang kami pajang itu, hasil dari kemenangan dalam lomba-lomba,” ujarnya.

Pameran juga menjadi kegiatan yang rutin dilakukan. Baik pameran ke luar kota maupun ke Jakarta. Pameran menurut Santoso penting untuk meningkatkan jangkauan pemasaran. 

“Para perajin di Girilayu ini berkarya dan berdinamika dalam kelompok. Bukan pribadi,” ujarnya.

Di tingkat lokal Karanganyar, Santoso mengatakan, perajin batik Girilayu melayani pesanan seragam dari instansi, berbagai jenis iket oleh paguyuban, kerudung, syal, taplak meja dan lain-lain. suhamdani