JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Kenapa Akhir-akhir Ini Jarang Turun Hujan, Apakah Sudah Mau Masuk Musim Kemarau? Ini Jawaban Lengkapnya

Ilustrasi. pexels

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM
Sobat, memperhatikan tidak cuaca akhir-akhir ini yang sudah jarang turun hujan? Padahal menurut siklus tahunan mestinya bulan-bulan sekarang sedang deras-derasnya air dari langit itu tercurah ke bumi.

Lantas apakah saat ini sudah akan memasuki musim kemarau?. Nah daripada penasaran, simak yuk penjelasan dari Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Bambang Haryanto berikut.

Menurut dia, mengacu pada sumber BMKG, Secara umum wilayah Indonesia dan Jawa Tengah pada khususnya sedang berada pada musim hujan dimana dipengaruhi oleh sistem monsun yang merupakan sistem yang relatif tetap dari tahun ke tahun. Di samping itu, terkadang variasi kondisi atmosfer tertentu yang terjadi dapat mengubah total curah hujan secara besar hingga memberi dampak yang signifikan.

Adapun kaitan kendali terhadap perubahan kondisi atmosfer terkini yang mempengaruhi penambahan dan pengurangan curah hujan di Bulan Januari 2020 dipengaruhi oleh pergerakan MJO (Madden Julian Oscilation/ Peristiwa perubahan atmosfer dan laut secara berkala yang bergerak ke arah timur di sekitar wilayah Tropis dekat Equator yang ditemukan oleh Roland Madden dan Paul Julian). Saat berada di fase (tingkatan masa perubahan) di wilayah Indonesia maka akan meningkatkan/menambah curah hujan saat musim hujan di awal hingga petengahan Januari 2020. Namun mulai pertengahan hingga menjelang akhir bulan Januari 2020 terjadi jarang hujan di saat musim hujan sebagai akibat pergerakan MJO menjauh ke wilayah Pasifik Barat yang menyebabkan penurunan curah hujan, sehingga memunculkan salah satu efek dari Monsun Asia-Australia yaitu siklus musiman aktif-pasif (active/aktif – break cycle/siklus istirahat).

Baca Juga :  Update COVID-19 Wonogiri, Masuk Zona Kuning 193 Pasien Sembuh Belasan Lainnya Masih Dirawat di Rumah Sakit

Dalam mengetahui siklus ini ditandai pada fase aktif akan terjadi hujan yang berlimpah namun, pada fase pasif tidak akan terjadi hujan. Prediksi terhadap variasi musiman siklus active – break cycle ini penting karena mempengaruhi curah hujan musiman.

Kemudian dilihat dari Prediksi Citra OLR (Outgoing Longwave Radiation/ Radiasi Matahari ke bumi kemudian dipantulkan kembali yang berwujud gelombang panjang yang dipancarkan kembali ke atmosfer) yang di tunjukan bahwa wilayah Indonesia menunjukan nilai anomali positif (lebih kering), ini menunjukan bahwa pergerakan awan berkurang di wilayah Indonesia. Bila dilihat komponen angin yang bergerak utara–selatan pada ketinggian 1000 meter di Jawa Tengah, angin utara cenderung melemah, hal ini mengindikasi gerakan massa udara dari asia melemah.

Baca Juga :  Ada Balap Lari di Wonogiri, Bupati Joko Sutopo Alias Jekek Tekankan yang Penting Patuh Protokol Kesehatan

Kondisi Atmosfer tingkat permukaan sampai tingkat atas juga tidak begitu signifikan untuk terbentuk awan hujan merata di Jawa Tengah, cenderung untuk lebih banyak terbentuk awan konvektif (awan yang terjadi karena gerakan udara dan uap air dengan arah vertikal keatas) yang bersifat lokal. Kondisi suhu air laut sekitar Jawa Tengah sebagai sumber uap air untuk terbentuknya awan hujan dalam batas normal saja, sedangkan yang hangat di wilayah bagian barat Sumatera dan Afrika bagian Timur (Moda Dipole/ wilayah di samudera Hindia bagian Timur Benua Afrika) serta di Wilayah Pasifik Barat.

Sampai dengan dasarian III Januari 2020 diprakirakan curah hujan pada kategori menengah, pola hujan lokal akan lebih dominan di wilayah Jawa Tengah Bagian Tengah, Wilayah Pantai Selatan Jawa dan wilayah sekitar gunung/pegunungan. Pada awal Bulan Februari 2020 diprakirakan kondisi atmosfer hampir sama dengan akhir bulan Januari 2020, namun sedikit lebih basah. Pada Pertengahan Februari 2020 diprakirakan kondisi atmosfer akan lebih basah sehingga potensi hujan lebat dan merata di Jawa Tengah lebih besar. Aria