loading...

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ada sementara anggapan, bahwa generasi melenial tidak menyukai pertunjukkan seni tradisional, khususnya ketoprak. Namun ternyata anggapan itu tidak sepenuhnya benar.

Ini buktinya. Pentas Ketoprak Balekambang yang digelar, Sabtu malam (25/1/2020) di Gedung Kesenian Taman Balekambang dipadati penonton.

Uniknya, sebagian besar, sekitar 80 persen penonton di gedung berkapasitas 400 orang tersebut justru berasal dari kalangan generasi melenial.

Salah satu koordinator Ketoprak Balekambang, Tatak Prihantoro menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan pentas ketoprak yang mengangkat lakon Lahir Dalam Kubur itu bisa menyedot perhatian kalangan melenial.

“Salah satu penyumbang terbesar hadirnya penonton adalah pemanfaatan media promo yang intensif melalui media sosial baik facebook, instagram maupun share lewat WA, yang tepat menyasar bagi segmen kalangan melenial, ” paparnya.

Lebih lanjut, Tatak Prihantoro mengungkapkan, pemilihan dan penggarapan lakon, serta tempat yang nyaman juga menjadi penentu suksesnya pertunjukkan tersebut.

Lakon Lahir Dalam Kubur merupakan cerita horor yang menjadi daya tarik tersendiri. Penonton penasaran ingin melihat kemunculan makam keramat dan hantu di atas pentas.

Kebetulan gedung kesenian baru saja selesai renovasi. Gedung ber-AC dan kedap suara, tata panggung menarik, menggunakan kelir layaknya ketoprak tobong.

“Secara rutin para sutradara dan koordinator pengrawit, serta tim dekorasi kita kumpulkan untuk membahas strategi pentas yang menarik dan tidak membosankan. Selain itu sehari sebelum pentas semua pemain kita kumpulkan untuk penuangan naskah,” jelasnya, sebagaimana dikutip dalam rilis yang dikirim ke Joglosemarnews.

Sebelum pentas dimulai, ditampilkan lebih dulu ekstra tari Topeng Ireng oleh siswa SMK Muhammadiyah 4 Boyolali.

Penampilan selama kurang lebih 30 menit, sebelum pentas ketoprak ini, mampu menghidupkan suasana menjadi lebih segar.

Tarian dibawakan eksostis dan rancak dengan iringan lagu-lagu Jawa yang baru trend di tengah masyarakat. suhamdani