JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Semarang

Setelah Ritual Keraton Agung Sejagat di Dieng, Kini Muncul Fenomena Alam Embun Es Tak Seperti Biasa

Embun Es Dieng Januari 2020. Tribujateng/khoirul muzaki
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

BANJARNEGARA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Belum lama ini diberitakan bahwa anggota Keraton Agung Sejagat pernah mengadakan ritual uparaca di Dataran Tinggi Dieng saat cuaca ekstrim.

Kini warga Banjarnegara dan sekitarnya dihebohkan dengan fenomena kemunculan embun es tak seperti biasa di dataran tinggi Dieng.

Fenomena ini tentu saja mengejutkan, pasalnya, biasanya embun es ada saat musim kemarau, atau hari tanpa hujan. Sementara saat ini wilayah Indonesia umumnya memasuki puncak musim penghujan.

Kepala UPTD Objek Wisata Dieng Dinas Pariwisata Banjarnegara Aryadi Darwanto pun mengaku tak menyangka akan ada embun es di Dieng pagi ini. Menurut Aryadi, embun es normalnya muncul saat musim kemarau. Itu pun tidak setiap waktu.

Tetapi pada saat tertentu yang ditandai cuaca terik pada siang harinya, lalu suhu akan terus turun pada malam hingga dini atau pagi hari mencapai di bawah 0 derajat celcius.

Baca Juga :  Warga Desa Wujil Ditemukan Tewas di Sungai Kuto, Diduga Alami Gangguan Jiwa

Saat itu, hamparan rerumputan dan tanaman di komplek candi Dieng berubah memutih karena terselimuti embun es. Tetapi entah kenapa, embun es muncul di saat yang tidak biasa.

“Baru pertama ini saya lihat embun es turun di musim penghujan. Biasanya pas kemarau,” katanya

Aryadi mengatakan, sebelum kemunculam embun es, kemarin Jumat pagi (17/1/2020), ia mengakui cuaca di Dieng sempat terik. Tetapi siangnya, langit Dieng berubah mendung hingga gerimis. Kemudian sore harinya, ia melihat langit kembali cerah.

Tetapi Aryadi tidak mencurigai itu pertanda kemunculan embun es lantaran saat ini musim penghujan. Pada malam harinya, sekitar pukul 22.00 Wib, suhu di Dieng terus turun hingga terasa amat dingin.

Baca Juga :  Ganjar Lapor Tiga Zona Merah Covid-19 di Jateng ke Presiden Jokowi

Tetapi Aryadi tetap tak berprasangka bakal turun embun es. Pagi sekitar pukul 04.00 Wib, ia mengecek alat pengukur suhu yang menunjukkan suhu mencapai 6 derajat celcius.

Aryadi yang penasaran pun akhirnya memutuskan keluar menuju komplek candi Arjuna, sekitar pukul 05.30 Wib. Benar saja, di sana ia melihat sebagian tanaman di komplek candi sudah diselimuti embun es.

Ia mengecek suhu rupanya sudah di bawah 1 derajat celcius, namun belum mencapai 0 derajat celcius. “Tidak merata sih, terutama tanaman yang lokasinya di kubangan. Embun es turun tipis,” katanya.

www.tribunnews.com