Ahok Push Up 200 Kali saat di Penjara untuk Hilangkan Sesak di Dada

Basuki Tjahaja Purnama menerima cinderamata berupa potret dirinya saat menghadiri peluncuran bukunya dalam acara [email protected] di kantor Redaksi Tempo, Palmerah, Jakarta, 17 Februari 2020 / tempo.co
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  – 
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama memiliki cara sendiri untuk menghilangkan rasa sesak di dada ketika dua pekan pertama menghuni penjara Markas Komando Korps Brigade Mobil di Kelapa Dua, Depok.

Lrka yang lebih akrab disapa Ahok sering merasakan sakit dan sesak pada dadanya.

Sekujur tubuhnya panas. Ia juga kerap terjaga pada tengah malam. Basuki awalnya menduga terkena serangan jantung. Namun, saat meminta tolong sipir, sakitnya tiba-tiba hilang.

Sekali peristiwa, sakit itu kumat. Ia meminta sipir untuk segera memanggil dokter. Tapi, dalam hitungan detik, Basuki membatalkannya.

Ia khawatir pemeriksaan itu bocor ke publik dan media memberitakan bahwa Basuki tumbang dan dirawat dokter di dalam penjara.

Menyaksikan Basuki sering kesakitan, seorang penjaga menyarankan mantan Gubernur DKI Jakarta itu mulai rajin berolahraga. “Biasa itu, Pak, kalau orang baru masuk. Lari-lari saja di lapangan,” kata Basuki dalam wawancara khusus dengan tim Tempo di Jakarta, 12 Februari lalu.

Menuruti anjuran sipir, pagi-pagi benar, pria yang akrab disapa Ahok itu bersiap menuju ke lapangan.

Di tengah jalan, muncul kekhawatiran ada anggota polisi yang terpapar radikalisme dan mengira Basuki sedang berupaya kabur dari sel.
Pda waktu itu, lebih dari 150 narapidana terorisme dikurung di Rumah Tahanan Brimob. “Gue bisa ditembakin nanti,” ia berujar. Basuki pun urung berolahraga dan balik ke selnya.

Dua pekan pertama menghuni
Sejak ‘sakit’ itu sering kambuh, hari-hari Basuki di penjara dihabiskan, antara lain, dengan berolahraga.

Dalam sehari, dengan sesekali mengajak polisi yang berjaga untuk bertaruh, Basuki mengklaim bisa melakukan 200 kali push up.

Karena itu, Basuki mengaku pakaiannya menjadi sesak setelah keluar penjara karena otot lengannya membesar.

Aktivitas itu dikerjakan Basuki di dalam sel berukuran 2 meter x 3 meter karena kepolisian melarangnya beraktivitas di lapangan dengan alasan keamanan.

Basuki sudah bebas. Selama ditahan, ia menghabiskan waktunya untuk menulis. Pada 17 Februari 2020, ia pun merilis bukunya berjudul “Panggil Saya BTP” di Gedung Tempo.

www.tempo.co