JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Harga Tiket Dinaikkan Rp 8.000, Mengapa Pendapatan dan Pengunjung Museum Sangiran Justru Merosot. Komisi II DPRD Langsung Terjun Cari Penyebab!

Ketua Komisi II DPRD Sragen, Hariyanto bersama tim saat sidak ke BPSMP Sangiran, Rabu (26/2/2020). Foto/Wardoyo
Ketua Komisi II DPRD Sragen, Hariyanto bersama tim saat sidak ke BPSMP Sangiran, Rabu (26/2/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Komisi II DPRD Sragen menggelar inspeksi mendadak dan kunjungan kerja ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran di Kalijambe, Sragen, Rabu (26/2/2020).

Menurunnya jumlah pengunjung yang berimbas ke pendapatan, menjadi alasan para legislator yang membidangi ekonomi itu terjun untuk mengorek kondisi yang ada di museum warisan sejarah dunia itu.

Rombongan komisi II dipimpin Ketua Komisi, Hariyanto asal PKB didampingi Sekretaris Wulan Purnamasari dan sejumlah anggota. Di antaranya Asita, Bombong LS dan Wawan Yudi Ernanto.

Di BPSMP, mereka ditemui beraudiensi oleh Kasubag TU, Ratna Sri Palupi. Hariyanto mengatakan kunjungan itu dilakukan untuk menyikapi adanya beberapa persoalan dan aspirasi yang masuk ke komisinya terkait pengelolaan Sangiran.

Ia sempat menyampaikan keresahan warga sekitar Sangiran yang merasa tidak dilibatkan dalam pengelolaan Sangiran. Selain itu, yang menjadi sorotan adalah menurunnya pengunjung dan pendapatan padahal harga tiket masuk sudah dinaikkan per Maret 2019.

“Warga juga resah adanya kabar pengelolaan Sangiran diintegrasikan dengan Borobudur dan Prambanan. Kemudian kunjungan ini juga untuk tujuan mengetahui kondisi yang terjadi dan sejauh mana keberadaan pengelolaan di Sangiran. Karena laporan yang kami terima, pengunjung museum semakin turin drastis dan setoran PAD juga turun,” papar Hariyanto.

Baca Juga :  Duh Gusti, Meledak Lagi Tambah 19 Positif Hari Ini, Total Kasus Covid-19 Sragen Melonjak Jadi 452. Kontak Erat Tercatat 644 Orang, Sudah 59 Warga Meninggal Dunia

Wulan Purnamasari sempat meminta pengelola mencari terobosan dalam memberdayakan masyarakat sehingga ada knowledge transfer ke masyarakat.

Sedangkan Asita menyampaikan dari penjelasan pihak museum, dapat diketahui bahwa penurunan pengunjung dan pendapatan dimungkinkan karena kurangnya komunukasi antara masyarakat dengan pengelola.

Warga juga mengeluh sebagian akses jalan di area menuju kluster-kluster yang masih rusak dan berharap segera ada koordinasi dengan dinas terkait.

“Kalau dari penjelasan pengelola, selama ini ada kecenderungan budaya masyarakat berkunjung ke museum itu cukup sekali dan tidak ingin mengulangi. Kalau saya lihat upaya promosi-promosi juga sudah maksimal. Hanya mungkin perlu ditingkatkan lagi koordinasi dan komubikasi antara pihak terkait dinas pariwisata dan stake holder terkait,” terangnya.

Sementara, menjawab aspirasi dan pertanyaan Komisi II, Ratna Sri Palupi mengakui memang ada penurunan jumlah pengunjung dari 2018 ke 2019.

Baca Juga :  Sragen Berduka, Ustadz Muda Habib MA Pimpinan Ponpes El Nusa Shobo Guno Meninggal Dunia Positif Terpapar Covid-19. Pemakaman di Ponpes, Tetap Dimakamkan Sesuai Protokol Covid-19

Ia menyebut di 2019, jumlah total pengunjung Sangiran tercatat sebanyak 283.689 orang. Namun untum 2018 ia mengaku tidak hafal.

Imbasnya, pendapatan juga turun. Ia menyebut di 2019, pendapatan yang masuk ke BPSMP sebesar Rp 500 juta sesuai dengan MoU.

“Ada penurunan (pendapatan) dan pengunjung tapi tidak banyak. Pendapatannya sebenarnya hampir sama dengan 2018 tapi beda dikit. Sebenarnya di 2019 kita tertolong dengan kenaikan tiket dari Rp 5.000 jadi Rp 8.000,” ujarnya.

Ratna menguraikan bahwa untuk menggenjot pendapatan, memang harusnya butuh pengembangan spesifik. Mengingat karakteristik pengunjung obyek wisata museum msmabg biasanya hanya sekali dan tak mau mengulang kecuali yang terkait studi atau penelitian.

“Upaya promosi juga sesuai visi kami. Lebih ke edukasi. Untuk pelibatan Pokdarwis ini kami akui Sangiran ini adak spesial. Masyarakan sejak awal merasa memiliki. Memang perlu pembinaan lagi ke beberapa Pokdarwis dan ini PR kami,” terangnya. Wardoyo