JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

KPK Kesulitan Tangkap Harun Masiku, Karena Harun Tak Lagi Pakai HP Sejak Jadi Buron

Mantan komisioner KPU, Wahyu Setiawan usai menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan korupsi penetapan pergantian antar waktu anggota DPR periode 2019-2024 di gedung KPK, Jakarta, Jumat (14/2/2020). Mantan Komisioner KPU tersebut diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Harun Masiku / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM
Lamanya pencarian buron Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Harun Masiku, salah satunya karena ditengarai Harun tidak lagi menggunakan ponsel sejak menyandang status buron tersebut.

Hal itu yang membuat KPK kesulitan melacak tersangka kaaua suap mantan komisioner KPU, Wahyu Setiawan tersebut..

“Sampai saat ini seperti itu, sehingga kami tidak mengetahui keberadaan para tersangka atau belum mengetahui secara pasti, sehingga kami belum bisa menangkapnya,” kata Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri di kantornya, Jakarta, Rabu (19/2/2020).

Ali mengatakan KPK telah mengantisipasi kemungkinan Harun berkomunikasi dengan pihak lain selama pelariannya.

Termasuk, kemungkinan bahwa Harun menggunakan ponsel untuk berkomunikasi. Upaya itu, kata dia, masih nihil.

Menurut Ali, KPK akan dengan mudah menemukan Harun seandainya ia memakai ponsel ataupun media sosial.

“Faktanya tidak seperti itu,” kata dia.

Sebelumnya, Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Universitas Gadjah Mada menilai KPK tak serius untuk memburu Harun Masiku. KPK, menurut Pukat, bahkan tak melakukan penyadapan untuk mencari tahu keberadaan kader PDIP ini.

“Sampai sekarang itu KPK tidak melakukan penyadapan untuk mengejar Harun Masiku,” kata peneliti Pukat, Zaenur Rohman saat dihubungi, Kamis (13/2/2020).

Menurut Zaenur selama ini KPK selalu melakukan penyadapan ketika mengejar buronan. Maka itu, ia menilai langkah KPK dalam perburuan Harun Masiku ini aneh.

“KPK selama ini kalau memburu orang melakukan penyadapan, sekarang itu tidak dilakukan,” kata dia.

www.tempo.co

Baca Juga :  Pecah Rekor Lagi, Hari ini Kasus Covid-19 Bertambah 4.823, Total 266.845 kasus