JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Mitos Seputar Makanan Pemicu Kanker dan Fakta-faktanya

pexels
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kanker merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuki oleh banyak orang. Sayangnya, masih minim pengetahuan masyarakat tentang cara menjaga kesehatan dengan benar demi menghindari kanker. Terlebih dengan banyaknya mitos seputar makanan pemicu kanker.

Dalam menyambut Hari Kanker Sedunia yang diperingati setiap tanggal 4 Februari, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Aru Wisaksono Sudoyo lantas meluruskan beberapa mitos yang salah tentang makanan pemicu kanker itu. Apa saja?

Mi Instan
Tak sedikit orang yang percaya bahwa mi instan harus dihindari lantaran bisa menyebabkan kanker. Padahal hal tersebut tidak benar. Aru mengatakan bahwa belum ada penelitian apapun yang membuktikan mitos tersebut. “Yang ada, mi instan itu kurang bergizi karena hanya tinggi karbohidrat saja. Bukan menyebabkan kanker,” katanya dalam acara Media Briefing di Jakarta pada 5 Januari 2020.

Baca Juga :  Berkumur Air Garam Bisa Redam Covid-19? Ini Fakta Ilmiahnya

MSG
MSG (monosodium glutamat) atau yang lebih akrab disebut micin ternyata juga tidak menyebabkan kanker. Layaknya mi instan, Aru mengatakan bahwa belum ada penelitian yang membuktikan MSG bisa memicu kanker. Mungkin, ini hanya persepsi masyarakat yang selalu mengaitkan MSG dengan kerusakan otak. “Penggunaan micin yang berlebihan memang dapat mengganggu saraf di otak, tapi dia tidak bisa merusak DNA sel sehingga menyebabkan kanker,” katanya.

Baca Juga :  Berkumur Air Garam Bisa Redam Covid-19? Ini Fakta Ilmiahnya

Gula
Konsumsi gula berlebih juga sering dihubungkan dengan kanker. Padahal menurut Aru, gula mungkin bisa menyebabkan kanker namun bukan menjadi faktor utama. Dalam artian, gula yang dikonsumsi secara berlebihan dan didukung dengan gaya hidup malas berolahraga bisa meningkatkan lemak. Lemak pun membuat seseorang menjadi obesitas. “Obesitas ditandai juga dengan penumpukan racun yang bisa menyebabkan inflamasi, diabetes, hipertensi, bahkan pertumbuhan sel kanker,” katanya.

www.tempo.co