loading...
Ratusan siswa SMP Dimsa Sragen tidak diliburkan tapi dikarantina dan dilockdown di sekolah. Foto/Wardoyo

SRAGEN,JOGLOSEMARNEWS.COM Wabah virus corona covid-19 yang belakangan ini merebak khususnya di wilayah Soloraya menjadi perhatian khusus para pemimpin daerah.

Dimulai oleh Wali kota Solo yang memberi instruksi meliburkan semua sekolah selama dua minggu disusul oleh Kabupaten Sragen.

Bupati Sragen mengintruksikan bahwa seluruh sekolah dari TK, SD, dan SMP diliburkan selama sepekan.

Setelah intruksi dari  Bupati, surat edaran dari Dinas Pendidikan Sragen pun turun pada Sabtu, (14/3/20) Semua sekolah diminta mengganti kegiatan belajar mengajar di sekolah diganti dengan sistem daring.

Namun, ada satu sekolah di Sragen yang memutuskan tetap melangsungkan pembelajaran dan tak meliburkan siswanya. Sekolah itu adalah SMP Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen (Dimsa).

Sekolah tersebut tidak meliburkan atau memulangkan para santrinya ke rumah masing-masing.

Dari rapat internal para petinggi pesantren, pihak sekolah memutuskan untuk tak meliburkan atau memulangkan siswa.

Alasan utamanya adalah untuk mengisolasi para santri di asrama. Pertimbangan lain adalah agar para santri tidak kontak fisik dengan orang lain di luar pesantren.

Kepala SMP Dimsa Sragen, Ali Rosyidhi mengungkapkan bahwa para siswa tetap beraktivitas di kelas seperti biasa,  tetapi jam belajarnya dikurangi agar istirahat cukup.

Menurutnya, me-lockdown pesantren dan tidak memulangkan para santri ke rumah masing-masing adalah langkah yang tepat agar para santri tidak banyak kontak fisik dengan orang luar.

Baca Juga :  Terungkap, Peneror Petugas Medis di Sragen Yang Jemput Pasien Positif Covid-19, Mengatasnamakan Kelompok Salah Satu Klaster

“Para santri tetap belajar di sekolah. Untuk menjaga kebersihan para santri, kami rutin membersihkan lingkungan sekolah dan asrama. Selain itu, kami juga memproduksi sanitizer yang dibagikan kepada setiap santri,” ungkap Kepala Sekolah SMP Dimsa kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Jumat (20/3/2020).

Ali memandang keputusan ini tepat untuk para santri sebagai solusi terbaik di tengah kondisi darurat penyebaran corona virus saat ini.

“Selain itu kemarin Gubernur Ganjar pun juga mengintruksikan kepada pesantren di Jawa Tengah untuk me-lockdown pesantren dan orang tua dilarang menjenguk,” tambahnya.

Meski tak libur, SMP Darul Ihsan Muhammadiyah memiliki cara tersendiri dalam kepanikan masyarakat terhadap virus covid-19 atau corona.

Mereka tetap waspada akan penularan corona yang begitu cepat. Beberapa antisipasi dari pihak sekolah telah dilakukan dengan melarang santri jajan di luar sekolah tapi disuplai kantin yang selama ini melibatkan warga sekitar dalam menyuplai jajanan untuk para santri sementara disetop.

“Hal ini dilakukan agar jajanan yang dimakan para santri lebih steril dan terjaga. Selain itu, menu makan para santri juga lebih diperhatikan untuk menjaga imunitas para santri,” urai Ali.

Baca Juga :  BST dan BLT DD di Tanon Sragen Diduga Diwarnai Penyunatan. Warga Ungkap Diminta Setor Rp 150.000 Hingga Rp 300.000 ke Ketua RT Dengan Dalih Untuk Pemerataan

Kemudian melarang orang tua siswa menjenguk ke sekolah atau pesantren orang tua dilarang menjenguk anak-anaknya di asrama sekolah. Larangan itu berlaku selama dua pekan atau selama masa karantina dinyatakan selesai.

Hal itu dilakukan untuk meminimalisasi kontak fisik dengan orang luar termasuk orang tuanya. Apabila orang tua mengirimkan makanan atau paket cukup dititipkan di pos pengamanan.

“Kami juga memproduksi sanitizer dalam jumlah besar. Sebagai bentuk pengamanan diri. Pihak sekolah melalui guru IPA dan ekstrakurikuler memproduksi sanitizer. Mengingat kelangkaan dan harga yang cukup mahal. Pihak sekolah memutuskan untuk memproduksi sendiri dengan bahan-bahan sederhana,” tuturnya.

Hal itu dilakukan agar para santri selalu mencuci tangannya sesering mungkin. Saat ini hampir ribuan botol sanitizer telah diprosduksi yang diberi nama “Prosan”.

Lantas, rutin membersihkan lingkungan sekolah dan asrama. Selalu menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan asrama wajib dilakukan semua santri.

Dimulai dari kamar, membersihkan dan menjemus kasur, kebersihan pakaian, kebersihan kamar mandi. Terakhir yakni melakukan penyemprotan cairan Disenfektan.

Langkah ini dilakukan agar lingkungan kelas dan asrama terbebas dari virus. Semua ruangan, baik kelas, kantor, dan asrama, disemprot cairan Disenfektan.

“Penyemprotan dilakukan bekerjasama dengan PMI Sragen,” pungkasnya. Wardoyo