loading...

BANDUNG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Anjuran menghindari konsumsi kunyit dan temulawak selama virus corona masih mewabah menyebar ke grup-grup percakapan. Isi pesan tersebut mengutip arahan dari dua ahli di Institut Teknologi Bandung (ITB), yakni Taufikurrahman, doktor di Kelompok Penelitian Ilmu Tanaman dan Bioteknologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, dan Daryono Hadi Tjahjono, profesor di Sekolah Farmasi.

Keduanya mengutip hasil penelitian yang dimuat jurnal ilmiah yang menyatakan adanya senyawa protein ACE2 (Angiotensin-converting-enzyme2) sebagai reseptor virus corona COVID-19. Sedang curcumin diketahui meningkatkan pula ekspresi enzim yang sama. “Sehingga sebagai kesimpulan, untuk sementara kunyit dan temulawak justru dihindari khusus untuk tipe virus ini,” bunyi unggahan itu.

Pesan itu segera memicu kebingungan di tengah masyarakat yang sebelumnya menerima informasi khasiat empon-empon, termasuk kunyit dan temulawak, untuk menambah daya tahan tubuh melawan wabah virus corona. Khasiat seperti yang dinyatakan tim peneliti di Surabaya.

Dihubungi terpisah, Taufikurahman mengakui pesan berasal dari grup percakapan dosen ITB yang ada di media sosialnya. Bahan percakapan itu menjadi viral setelah ada rekan yang menyebar via Instagram. Namun dia mengatakan, hasil penelitian dan anjuran yang dibuat perlu penelitian lebih lanjut.

Baca Juga :  Darurat Alat Pelindung Diri (APD), PMI Solo Bagikan Gratis ke Rumah Sakit

“Tentunya masih debatable,” kata Taufikurahman, Rabu 18 Maret 2020. Meski dia juga mengaku merasa perlu menyampaikan kepada masyarakat tentang hasil penelitian tersebut. “Supaya masyarakat tidak berlebihan dan tetap waspada,” kata dia.

Daryono pun menyatakan, hasil diskusi itu tidak melarang penggunaan senyawa curcumin seperti dalam kunyit dan temulawak atau empon-empon. Dia menerangkan, reseptor ACE2 memang bisa menjadi pintu masuk bagi virus SARS dan 2019-nCoV atau COVID-19 ke tubuh manusia.

Tapi, dia menambahkan, reseptor ACE2 ada dua jenis. Pertama reseptor yang menempel pada sel seperti COVID-19 di paru-paru. “Yang menempel itu berbahaya karena memudahkan infeksi virus Corona,” kata Daryono.

Kedua, jenis reseptor ACE2 yaitu yang tidak menempel di sel sehingga virus Corona tidak akan berkembang lalu bakal mati. Curcumin, menurut Daryono, bisa memburu reseptor ACE2 yang kedua ini. “Soal apakah seseorang lebih banyak reseptor ACE2 yang lepas atau menempel di sel seperti pada paru-paru atau jantung perlu riset lagi.”

ADVERTISEMENT

Lagian, Daryono menambahkan, pada bahan kunyit, temulawak, jahe atau empon-empon tidak hanya mengandung senyawa curcumin melainkan puluhan hingga ratusan senyawa lainnya. Beberapa yang telah diteliti akademisi seperti di Universitas Airlangga misalnya senyawa di empon-empon terbukti meningkatkan imunitas.

Baca Juga :  Dokter Tirta Imbau Warga Pakai Masker Kain, Bukan Masker Medis, Ini Alasannya

“Memang campuran senyawa itu juga minyak atsiri bertindak sebagai imunomodulator yang meningkatkan imunitas tubuh untuk melindungi dari bakteri, virus,” kata Daryono.

Curcumin bisa sebagai anti oksidan, anti jamur, dan ada yang meneliti sampai antivirus namun bukan COVID-19. Juga anti inflamasi yang berfungsi melindungi dari virus, antikanker, antikelupaan (Alzheimer). Dari sekian banyak hasil riset curcumin itu menurutnya para peneliti punya sudut pandang berbeda. “Kesimpulan antar riset belum tentu saling mendukung.”

Dari kontroversi curcumin itu Daryono mengatakan tidak melarang masyarakat mengkonsumsi curcumin yang berasal dari tanaman herbal.” Masyarakat kan tidak pakai curcumin murni tapi pakai rebusan berbagai zat jadi aman-aman saja karena meningkatkan imunitas,” ujarnya.

www.tempo.co