JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Jumlah ODP Corona Sragen Tambah 8 Orang, 3.231 Warga Diminta Isolasi Mandiri Selama 14 Hari!

Ilustrasi penanganan pasien di ruang isolasi corona virus. Foto/Wardoyo

IMG20200312123142 816x612 1
Ilustrasi penanganan pasien di ruang isolasi corona virus di RSUD Sragen. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Jumlah kasus corona virus di Kabupaten Sragen terus menunjukkan peningkatan. Data terbaru, hingga Minggu (298/3/2020) petang, jumlah angka pelaku perjalanan (PP) dari luar kota yang wajib dipantau, orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) di Sragen menunjukkan tren peningkatan signifikan.

Data terbaru yang dilansir Satgas Percepatan Penanganan Covid-19, jumlah PP di Sragen sampai pukul 17.00 WIB tadi melonjak menjadi 3.150 orang. Sedangkan jumlah ODP bertambah jadi 81 orang.

Para ODP dan PP sebanhak 3.231 orang itu diminta melakukan isolasi atau karantina mandiri untuk mencegah penyebaran corona virus.

Ketua Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sragen, Tatag Prabawanto mengakui sejak adanya arus pemudik yang pulang ke kampung halaman dalam beberapa hari terakhir, terjadi lonjakan kasus baik PP, ODP maupun PDP.

Sampai Minggu (29/3/2020) petang, jumlah PP di Sragen sudah mencapai 3.150 orang, 81 ODP dan 5 PDP.

Padahal sehari sebelumnya, jumlah PP baru 2.216 orang atau naik 844 orang. Sedangkan ODP mengalami penambahan 8 orang hari ini dari sebelumnya 73 orang.

Baca Juga :  37 Warga Sragen Positif Terpapar dan 2 Meninggal Hari Ini. Total Kasus Capai 4.137, Sembuh 3.773, Sudah 250 Meninggal Dunia

Sementara jumlah pasien dalam pengawasan atau 5 PDP tetap stagnan. Satu tambahan PDP masih dirawat di RSUD Gemolong dalam kondisi sehat.

“Sampai hari ini tidak ada kasus positif dan 5 pasien PDP dalam kondisi sehat meski harus dipantau terus. Untuk semua PP dan ODP sebanyak 3.231 orang itu kami sarankan melakukan isolasi mandiri dulu selama 14 hari,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Minggu (29/3/2020).

Ia tak menampik lonjakan itu salah satunya akibat arus pemudik dari kota-kota besar di Jabodetabek sekitarnya yang tiba di Sragen karena di kota mereka bekerja sudah menerapkan semi lockdown.

“Maka dari itu, kami meminta semua pendatang atau pemudik yang baru tiba dari luar kota, harus melapor dan periksa ke Puskesmas. Sehingga bila ada gejala bisa terdeteksi dan ditangani. Lalu ada gejala atau tidak, semua pendatang atau PP yang baru pulang dari perjalanan luar kota maupun ODP, harus isolasi mandiri selama 14 hari di rumah. Ini demi kepentingan dan keamanan bersama,” tandasnya.

Baca Juga :  Penasaran, Ini Daftar 10 Bos Pengepul Anjing di Sragen yang Pasok Ribuan Ekor Anjing ke Warung Guguk di Solo Raya!

Senada, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyampaikan lonjakan PP itu tak lepas dari lonjakan pemudik yang tiba dari luar kota.

Menurutnya, saat ini yang perlu dipikirkan adalah bagaimana meningkatkan kesadaran para PP yang baru pulang itu untuk mau melapor, melakukan pemeriksaan dan karantina mandiri selama 14 hari.

Sebab, pantauannya di lapangan, masih banyak PP yang tidak melapor, masih keluar rumah dan berinteraksi sosial.

” Saya sedang berfikir wacana bagaimana untuk menyadarkan mereka. Hari ini saya keliling ke Sukodono dan Kedawung ternyata pantauan saya bahwa pemudik yang pulang banyak yang belum melakukan imbauan untuk karantina mandiri. Padahal mereka pulang dari Jakarta dan kota besar lainnya,” paparnya ditemui di sela penyemprotan desinfektan di Pasar Nglangon, Sabtu (28/3/2020).

Ia menilai banyak pemudik utamanya yang muda-muda tidak menyadari bahwa virus corona terkadang bersemayam tanpa memperlihatkan gejala.

Pada beberapa kasus, orang yang kelihatannya sehat, ternyata diketahui positif corona tanpa menunjukkan tanda. Wardoyo