JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Polisi Tangkap Satu Pelaku Penganiayaan 2 Anggota PSHT di Mondokan Sragen. Tersangkanya Ternyata Anggota Perguruan IKSPI

AKP Harno. Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
AKP Harno. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kasus penganiayaan dua pemuda anggota persaudaraan setia hati terate (PSHT) di hajatan campursari di Desa Gemantar, Mondokan, awal pekan lalu, akhirnya terkuak.

Polres memastikan sudah menangkap dan menahan satu tersangka dalam insiden penganiayaan dua orang warga PSHT yakni, Nanda Febriyanto (19) asal Dukuh Kukunrejo RT 21, Gemantar, Mondokan dan Ribut Setiawan Prayogo (29), asal Dukuh Cranggang RT 25 Gemantar, Mondokan itu.

Tersangka ternyata diketahui merupakan anggota perguruan silat IKSPI atau Kera Sakti Sragen. Hal itu disampaikan Kapolres Sragen, AKBP Raphael Sandy Cahya Priambodo melalui Kasubag Humas AKP Harno, Sabtu (28/3/2020).

“Sudah diamankan satu orang tersangka kasus penganiayaan dua warga PSHT di Mondokan kemarin. Tersangkanya sudah kami tahan,” papar AKP Harno kepada JOGLOSEMARNEWS.COM .

Ia menguraikan untuk sementara, pelaku yang diamankan baru satu orang. Pihak penyidik hingga kini masih mengintensifkan penyelidikan untuk menguak tuntas insiden penganiayaan yang membuat geger warga PSHT Sragen dan sekitarnya itu.

“Untuk sementara tersangka yang diamankan baru satu orang,” terangnya.

Sementara, untuk kasus dugaan pengrusakan tiga tugu PSHT di Sukodono dan Sidoharjo, Jumat (27/3/2020) dinihari, sudah dilaporkan ke Polsek Sukodono. Menurutnya, saat ini kasus itu juga masih dalam penyelidikan.

Sedangkan kasus dugaan pengerusakan enam tugu milik perguruan silat IKSPI atau Kera Sakti, tadi malam, pihaknya masih menunggu laporan resmi dari pihak pelapor atau IKSPI.

“Kami menunggu dulu. Apakah ada laporan masuk, kita belum tahu. Karena kejadiannya baru tadi malam. Kalau sudah ada ada laporan pasti Pak Polisi akan melakukan tindakan dan memproses secara profesional,” tukasnya.

Terpisah, Ketua IKSPI Sragen, Waluyo tidak menampik memang ada satu anggotanya asal Mondokan yang diamankan atas kasus dugaan penganiayaan di Gemantar itu.

Baca Juga :  Kian Meroket, 4 Warga Sragen Kembali Positif Terpapar Covid-19. Tersebar di Gondang, Tanon dan Sumberlawang,  Total Sudah 86 Kasus Positif, 489 Warga Isolasi Mandiri

Namun ia memastikan bahwa perbuatan kekerasan itu merupakan tindakan individu dan tidak ada keterkaitan dengan organisasi atau perguruan.

“Iya, untuk kasus penganiayaan yang di Mondokan itu, memang ada satu anak (anggota) dari perguruan kami yang diamankan polisi. Tapi itu tindakan perorangan dan tidak ada kaitannya dengan perguruan,” tegasnya.

Seperti diberitakan, dua orang pemuda warga perguruan silat persaudaraan setia hati terate (PSHT) menjadi korban penganiayaan di Dukuh Kenteng, Desa Gemantar, Kecamatan Mondokan, Sragen.

Dua korban masing-masing Nanda Febriyanto (19) asal Dukuh Kukunrejo RT 21, Gemantar, Mondokan dan Ribut Setiawan Prayogo (29), asal Dukuh Cranggang RT 25 Gemantar, Mondokan itu mengaku dianiaya saat sedang njoget di acara campursari hajatan salah satu warga di desanya.

Korban dipukul dan dilempar benda keras hingga mengalami luka sobek dan mengucurkan darah. Keduanya bahkan sempat dibawa ke Puskesmas dan dirawat ke klinik setempat.

Kasus itu terungkap ketika keduanya melapor ke Polsek Mondokan Selasa (24/3/2020) dinihari sesaat usai kejadian. Berdasarkan keterangan Ribut, insiden penganiayaan itu bermula ketika dirinya datang di acara campursari hajatan warga di Dukuh Kenteng.

Dia malam itu datang bersama beberapa rekannya. Meski sudah ada imbauan untuk tidak menggelar pesta hajatan, acara malam itu tetap berjalan.

Saat hiburan campursari dimulai, ia dan temannya kemudian ikut njoget bergabung dengan penjoget-penjoget lain di depan panggung. Sesaat kemudian, dia langsung didatangi oleh seseorang berinisial L yang tanpa basa-basi kemudian memukul wajahnya.

“Waktu itu saya sama teman-teman ikut njoget. Belum habis satu lagi, nggak ada apa-apa tiba-tiba saya dipukul oleh L. Dipukul pakai tangan kosong, dua kali kena pelupuk mata saya sampai sobek dan keluar banyak darah,” papar Ribut saat di Polsek Mondokan.

Baca Juga :  Satu Polisi Asal Sragen Dilaporkan Positif Terpapar Covid-19. Bertugas di Kantor Samsat Karanganyar

Ribut mengaku tak sempat melawan karena dua pukulan itu membuat pelupuk matanya mengucur banyak darah. Karena darah terus keluar, dia kemudian diamankan oleh temannya dan diantar ke Puskesmas Mondokan.

“Setelah dari Puskesmas, saya diantar lapor ke Polsek lalu habis lapor siangnya dirawat ke klinik karena darahnya masih keluar terus,” tuturnya.

Dia mengaku mengenali pelaku yang memukulinya. Pelakunya adalah satu orang dan juga warga Mondokan. Ia juga kaget karena merasa tak pernah punya masalah dengan pelaku.

“Harapannya ya diproses hukum dan pelaku supaya cepat tertangkap,” lanjutnya.

Selain Ribut, insiden keributan malam itu juga membuat temannya, Nanda (19) turut jadi korban. Ia yang mencoba melerai saat Ribut dipukuli, justru kena timpuk benda keras yang dilempar ke arah dahinya.

Sama seperti Ribut, ia juga sempat kehilangan banyak darah lantaran dahinya sobek dan terpaksa mendapat lima jahitan. Ia tak tahu benda yang dilempar dan siapa pelemparnya.

Namun yang jelas dia merasa benda itu keras dan semacam batangan besi.

“Waktu itu saya juga njoget posisinya di belakang Mas Ribut. Saya mencoba melerai tapi malah ada lemparan seperti besi kena dahi saya. Sempat dibawa ke Puskesmas dijahit lima dan banyak keluar darah,” tuturnya.

Kedua korban menambahkan situasi saat kejadian sangat ramai karena banyak warga dan pemuda yang berjoget. Setelah insiden penganiayan berdarah itu, acara campursari kemudian baru dihentikan. Wardoyo