JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Sepintas Lika Liku Kehidupan Sudjiatmi, Ibunda Jokowi

Sudjiatmi / Dok Joglosemarnews
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM –  Ada ungkapan, selalu ada wanita hebat di balik orang hebat. Ungkapan tersebut selaras bila disematkan pada diri Sudjiatmi, ibunda Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Namun, kehebatan wanita Sudjiatmi bukanlah sosok yang berkelebihan harta, berpendidikan tinggi, maupun wanita dengan sebuah jabatan.

Sudjiatmi adalah sosok wanita biasa, ibu rumah tangga dan bahkan dalam bidang pendidikan, dia tidak lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Wirorejo, sang ayah pun tidak memaksakan anak perempuan satu-satunya itu, selain hanya bertanya, “Apakah besok tidak akan kecewa?”

Sebagai pengisi waktu, Sudjiatmi kemudian mengikuti kursus menjahit dan rias pengantin. Namun dari kedua kursus itu, hanya kursus rias pengantin yang diselesaikannya dan memperoleh ijazah.

Bertemu Jodoh dan Hidup Nomaden

Sudjiatmi terbilang menikah muda dengan Notomiharjo. Saat menikah tahun 1960 silam, usia Sudjiatmi baru menginjak 17 tahun, sementara suaminya tiga tahun lebih tua.

Baca Juga :  Akhir Tahun Kereta Prameks Bakal Diganti KRL

Perjuangan hidup Sudjiatmi bersama suaminya yang bekerja dagang kayu itu cukup berliku. Mereka sempat menjalani hidup nomaden, berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.

Namun uniknya, dari semua rumah kontrakan itu, hampir semuanya berada di pinggir sungai. Pertama kali, keluarga Sudjiatmi tinggal di Srambatan, di  bantaran Kali (sungai) Pepe, sebelum akhirnya berpindah hingga beberapa kali.

Mengajarkan Nilai Kejujuran

Perkataan ayahanda Sudjiatmi ternyata ibarat tuah baginya. Sudjiatmi merasa kecewa mengapa dulu tidak meneruskan pendidikannya. Karena itu, ia merasa “dendam”, dan berniat melampiaskannya pada ketiga anaknya.

Perlu diketahui, Jokowi merupakan anak sulung dan memiliki tiga orang adik yang semuanya perempuan. Sebagai wujud “balas dendam”, Sudjiatmi bertekad untuk mendorong anak-anaknya menuntaskan pendidikannya hingga universitas.

Selain itu, ia tak lelah untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran dan keikhlasan kepada anak-anaknya. Ajaran itu diwarisi dari ayahnya, Wirorejo.

Baca Juga :  New Normal, UNS Gelar Wisuda Drive Thru, Wisudawan Kendarai Kereta Kuda, Mobil Listrik dan Sepeda Listrik

Dalam bidang pendidikan, Sudjiatmi tidak pernah memaksakan anak-anaknya harus sekolah di mana. Suatu kali, Jokowi tak diterima di SMA Negeri 1 sampai ngambek dua bulan.

Alih-alih marah, Sudjiatmi menghibur anak sulungnya itu, sampai kemudian mau mendaftarkan di SMA Negeri 6. Terbukti, di sekolah  inilah prestasi Jokowi mulai terlihat dan teruji, hingga kemudian melanjutkan ke Fakultas Kehutanan Universita Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Di dalam keluarganya, peran Sudjiatmi dalam mempersiapkan masa depan anak-anaknya sangat dominan. Sementara, sang suami sibuk dengan pekerjaan berdagang kayu, Sudjiatmi fokus mengurus anak-anaknya.

Sepanjang hidupnya, perhatian, motivasi dan ajaran kejujuran Sudjiatmi kepada anak-anaknya tak pernah berhenti, termasuk kepada Jokowi.

Bahkan sampai  Jokowi menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta hingga puncaknya menjadi Presiden, ajaran itu tak pernah terhenti, baik disampaikan secara langsung maupun hanya lewat telepon.

Selamat jalan Sudjiatmi, semoga nilai keikhlasan dan kejujuranmu menjadi virus positif bagi banyak orang. suhamdani

Sumber: disarikan dari buku Perempuan Berhati Ikhlas: Sekelumit Kisah Sudjiatmi, Ibunda Jokowi.