JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kumat Lagi Limbah Bengawan Solo Makin Parah, Ada 900 KK di Karanganyar Sragen Resah. Ikan Mati, Sumur Hingga Padi Terdampak, Warga dan DPRD Berharap Gubernur Segera Usut dan Tutup Pabrik Pembuang Limbah!

Anggota DPRD Sragen, Sutimin (kaos merah) bersama warga saat mengecek kondisi sungai Bengawan Solo di wilayah Desa Karanganyar Plupuh yang kembali menghitam Rabu (29/4/2020) dampak pembuangan limbah yang kambuh lagi sejak beberapa bulan terakhir. Foto/Wardoyo
Anggota DPRD Sragen, Sutimin (kaos merah) bersama warga saat mengecek kondisi sungai Bengawan Solo di wilayah Desa Karanganyar Plupuh yang kembali menghitam Rabu (29/4/2020) dampak pembuangan limbah yang kambuh lagi sejak beberapa bulan terakhir. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Warga di Desa Karanganyar, Kecamatan Plupuh, Sragen kembali diresahkan dengan aksi pembuangan limbah ke Sungai Bengawan Solo.

Mereka pun menagih komitmen Pemkab hingga Pemprov untuk menindak tegas dan menutup pabrik yang diduga kembali kambuh dan membuang limbah ke Bengawan Solo.

Keluhan itu terungkap ketika sejumlah tokoh dan warga di bantaran Sungai Bengawan Solo wilayah Desa Karanganyar, menyampaikan aspirasinya ke salah satu anggota DPRD Sragen asal Karanganyar, Plupuh, Sutimin, Rabu (29/4/2020).

Sutimin pun bersama warga langsung mengecek kondisi air sungai Bengawan Solo di dekat dusun yang airnya kembali hitam pekat.

“Lihat Mas, kumat lagi limbahnya. Ini masih belum seberapa karena ada hujan jadi nggak begitu pekat. Sekarang seminggu hampir tiga kali dibuangi limbah lagi. Bahkan kadang bisa tiap hari. Yang paling parah tiap hari Jumat itu sangat pekat limbahnya,” papar Suparno (45) tokoh asal Dukuh Kajog RT 1, Karanganyar, kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Rabu (29/4/2020).

Ia menuturkan buangan limbah itu kembali marak sejak beberapa bulan terakhir.

Sempat mereda tiga bulan saat geger pemanggilan perusahaan oleh Gubernur Jateng, medio tahun lalu, setelah itu aksi pembuangan limbah kembali berlanjut sampai sekarang.

“Dampaknya yang jelas baunya menyengat. Lalu kalau kena kulit gatal-gatal. Nggak hanya warga di desa kami, saya rasa hampir di sepanjang bantaran Bengawan Solo dari Palur sampai hilir sana, merasakan dampaknya,” terangnya.

Tokoh lain, Widiyanto (50) warga Kajog, Karanganyar menerangkan sejak ramai disorot media sosial dan mencuat di berita tahun lalu, warga sempat sedikit senang karena limbah langsung dihentikan.

Baca Juga :  Ustadz Muda Habib MA Berpulang, Bupati Sragen Ungkap Kenangan Terakhir Bersama Almarhum yang Tak Mungkin Terlupakan. Sebut Almarhum Sosok Luar Biasa!

Air sungai kala itu bisa kembali jernih bisa untuk mandi dan mencuci. Namun kegembiraan itu hanya berlangsung tiga bulan saja. Sesudahnya, limbah hitam anyir itu kembali menghiasi sungai hingga sekarang.

Selain dampak gatal dan bau, kondisi air campur limbah juga membuat ternak warga mati serta padi menjadi berubah rasa.

“Dulu waktu airnya jernih, warga yang punya ternak kalau ngasih minum diambilkan air sungai. Sekarang nggak ada yang berani, karena kalau dikasih air minum campur limbah pasti mati. Lalu bagi kami petani, juga nggak berani lagi ambil air dari sungai untuk mengairi sawah. Karena hasil padinya rasanya sudah beda agak sepo dan warnanya kekuningan,” terangnya.

Karenanya, mewakili petani dan warga, ia meminta agar pemerintah provinsi dan pusat bisa tegas mengusut dan menghentikan pabrik yang masih nekat membuang limbah ke Bengawan Solo.

Pemerintah diminta serius menindaklanjuti karena kerusakan Bengawan Solo dampak limbah itu sudah sangat parah.

“Dulu sempat dicek dan diambil sampelnya dari tim. Setelah itu sempat reda, tapi nggak lama kemudian sudah kumat lagi dan limbah terus dibuag sampai sekarang. Kalau melihat kondisinya, kemungkinan yang mbuang limbah ini pabrik setelah jembatan Jurug itu. Kami mohon Pak Gubernur, tindak tegas dan tutup saja pabrik pembuang limbah ini agar kami bisa menikmati air sungai yang enak seperti dulu,” tuturnya.

Sementara, anggota DPRD Sragen dari Plupuh, Sutimin mengaku sangat prihatin dengan fenomena kambuhan pembuangan limbah di Bengawan Solo itu.

Menurutnya, dampak buruk limbah bengawan itu juga sudah membahayakan keselamatan warga lantaran memicu gatal-gatal dan mencemari sumber air sumur-sumur warga di sekitar bantaran.

Baca Juga :  Usai 4 Jam Jalani Pemeriksaan Kesehatan, Pasangan Yuni-Suroto Kompak Langsung Pose 2 Jari!

Akibat bau dan kandungannya mencemari sumur, warga di wilayahnya saat ini hanya berani menggunakan air sumur untuk mandi dah mencuci saja.

Sedangkan untuk kebutuhan konsumsi harian, warga terpaksa membeli air jerikenan karena takut dengan sumur yang sudah tercemar.

“Sekarang limbahnya itu kembali seperti dulu. Warga sampai hafal, karena tandanya ketika limbah itu dibuang maka ikan-ikan akan mati keracunan dan muncul atau istilah jawanya pladu. Limbahnya juga sangat berbahaya karena ikan yang paling tahan yaitu sapu-sapu saja sampai ikut mati,” terangnya.

Sutimin (kiri kaos merah) bersama warga saat menunjukkan sampel air Bengawan Solo yang berwarna kehitaman karena tercemar limbah pabrik lagi. Foto/Wardoyo

Legislator asal PDIP itu menuturkan untuk Desa Karanganyar yang berada di aliran Bengawan Solo, saat ini ada 900 KK yang sudah terdampak pencemaran limbah.

Namun, ia meyakini keluhan serupa juga dirasakan oleh ribuan warga yang berada di bantaran sungai.

“Dan ini sudah berlangsung puluhan tahun. Kemarin setelah pak Gubernur Ganjar turun tangan itu, langsung berhenti. Tapi kemudian kambuh lagi. Kami terpaksa bersuara lagi karena Pak Gubernur sempat menyampaikan kalau sampai ada limbah lagi, disuruh melaporkan agar ditindaklanjuti,” tukasnya.

Sebagai wakil rakyat, ia juga mendesak pemerintah berani tegas terhadap perusahaan yang nekat membuang limbah ke sungai. Sebab saat ini pembuangan limbah makin terang-terangan dan terbuka.

“Harapan kami, Pak Gubernur bisa turun menindaklanjuti lagi. Kasihan karena dampaknya sampai ujung Surabaya sana. Kalau pabrik itu keuntungannya hanya beberapa orang saja, lha ini (limbah) menyengsarakan ribuan manusia,” tandasnya. Wardoyo