JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Opini

Pageblug Corona dan Menyadari Kebodohan

Johan Wahyudi. Foto/Istimewa

loading...
Johan Wahyudi. Foto/Istimewa


Belajar itu mirip orang minum air laut. Bukannya dahaga hilang, melainkan tambah haus meskipun sudah banyak air masuk ke tenggorokan. Karena itulah, ada ungkapan bahwa agama tanpa ilmu itu buta, sedangkan ilmu tanpa agama adalah sesat.
.
Betul memang ada tulisan jenis agama yang dianutnya di KTP. Namun, jika tidak mau ngaji agar amalan agamanya sesuai ajarannya, tentu hidupnya mirip orang buta. Yaitu tidak tahu halal haram, sahih dhaif, dan surga neraka. Semua serba gelap…
.
Betul sudah berilmu tinggi. Itu terlihat dari rekam jejak pendidikannya. Bahkan mungkin ada gelar di depan, belakang, atau bahkan depan dan belakang namanya.

Sayangnya, jika ketinggian ilmu itu tidak diikuti ketaatan terhadap ajaran agama, tentu saja tersesat.

Bukankah semua orang akan mati? Apakah tidak percaya jika ada kehidupan lagi setelah kematian?
.
Karena itulah, perlu disadari tentang kebodohan kita sendiri. Agama mengajarkan, undzur maa qaala walaa tandzur man qaala (perhatikan APA yang dikatakan dan jangan melihat SIAPA yang mengatakan).

Inilah dasar utama bagi seseorang yang merasa bodoh dan ada keinginan untuk belajar lagi.
.
Sebagai contohnya. Ada kewajiban ketaatan kepada pemimpin. Suka tidak suka, kita WAJIB taat kepada pemimpin selagi pemimpin tersebut tidak menghalangi kita untuk beribadah.

Baca Juga :  Surat Pembaca: Sudahi Ketakutan Ini

Itu sangat jelas tertulis dalam kitab suci. Mosok kita mau membantah isi kitab suci?
.
Ada kewajiban taat kepada umara atau pemimpin terbatas. Kita pasti punya organisasi keagamaan atau malah jadi pengurusnya.

Di organisasi itu pasti ada pengurus dan akhirnya pasti ada pula yang dipercaya jadi ketua atau pemimpin. Apa kata ketua itulah wajah dan keputusan organisasi.
.
Ada pemimpin keluarga. Bahtera rumah tangga sangat dipengaruhi oleh penguasaan ilmu oleh pemimpinnya. Istri dan anak-anak pasti taat karena memang ada kewajiban taat.

Bagi keluarga yang single parent, ketaatan itu wajib diberikan kepada orang yang jadi pemimpin di situ.
.
Ada kelucuan demi kelucuan yang terjadi akhir-akhir ini. Baju yang terlihat relijius ternyata tidak sepadan dengan ilmunya. Ada aura kesombongan sehingga sinar kebenaran tidak bisa menembus masuk.
Contoh sederhana, pencegahan wabah Covid-19 dapat dilakukan dengan menjaga jarak karena virus Corona itu menular lewat sentuhan dan percikan.

Coba kita lihat orang-orang yang sedang sholat berjamaah. Tentu sangat sulit untuk berdiri berjauhan. Belum lagi sering ada orang yang batuk dan bersin. Mau marah? Marah pada siapa…???

Sudah diingatkan berkali-kali bahwa virus Corona menyerang korban tanpa bertanya apa agama dan jabatannya, tapi toh tetap ngeyelan.

Baca Juga :  Terus Bertambah, Wanita PDP Corona Asal Karangmalang Kembali Meninggal Dunia. Jadi Korban Meninggal ke-19 di Sragen, Begini Riwayatnya!

Ada seorang yang positif terkena Corona, lalu ia ikut sholat bersama jamaah yang lain. Hasilnya, 10 orang lainnya positif. Bisa jadi akan bertambah dan terus bertambah.
.
Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ditutup untuk kegiatan tarawih dan buka puasa bersama.

Di dalam Masjidil Haram itu ada Ka’bah yang jadi kiblat orang Islam sejagat. Di dalam Masjid Nabawi itu ada Makam Nabi Muhammad, manusia paling mulia. Atas ditutupnya dua masjid suci itu, apakah mau protes ke Pemerintah Arab Saudi? Silakan…
.
Dan kebijakan-kebijakan social distancing itu diikuti oleh masjid-masjid raya di seluruh dunia. Mereka berlomba-lomba mencegah penularan Covid-19 di lingkungan masing. Karena ini fakta, bahwa virus Corona itu ada dan sangat berbahaya.
.
Siapa yang membawa virus Corona, siapa yang sudah tertular, dan siapa yang menularkan tidak diketahui. Karena justru tidak terlihat itulah mestinya kita lebih berhati-hati.

Jika memang pemberani, apakah Anda berani ke kuburan sendirian nanti malam? Katanya pemberani. Mosok takut sama hantu… (*)

(Penulis: Johan Wahyudi, tinggal di Rejosari RT 04 Desa Donoyudan Kalijambe Sragen. Profesi guru di SMPN 2 Kalijambe Sragen)