JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Wacana Pendirian Pabrik Sepatu Korea Berkapasitas 30.000 Tenaga Kerja di Sumberlawang Sragen Terancam Ambyar. Sejumlah Warga Mendadak Menolak Lepaskan Tanah, Padahal Semula Sudah Oke

Poster penolakan menjual lahan terpasang di salah satu sawah milik warga Cepoko, Sumberlawang, Sragen, yang semula akan dilepas untuk pendirian pabrik sepatu skala besar, Minggu (5/4/2020). Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Poster penolakan menjual lahan terpasang di salah satu sawah milik warga Cepoko, Sumberlawang, Sragen, yang semula akan dilepas untuk pendirian pabrik sepatu skala besar, Minggu (5/4/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Sejumlah warga pemilik lahan di Desa Cepoko, Kecamatan Sumberlawang, Sragen dilaporkan menolak tanahnya dibeli oleh investor yang akan mendirikan pabrik sepatu di wilayah itu.

Mereka mendadak menolak melepaskan tanah mereka padahal sebelumnya sudah mengiyakan tanah mereka dibeli untuk pembangunan pabrik yang dikabarkan milik investor Korea tersebut.

Tidak jelas alasan warga mendadak berbalik arah menolak pembangunan pabrik yang disebut bisa menyerap 30.000 tenaga kerja itu.

Data yang dihimpun di lapangan, penolakan utamanya dilakukan oleh warga di RT 9. Sikap mereka juga ditunjukkan dengan munculnya poster di lahan sawah yang sebelumnya hendak mereka lepas ke investor.

Salah satunya poster bertuliskan “Sawahku pilih tak tanduri pari, ora lilo yen ditanduri wesi. Ora didol” (sawahku pilih saya tanami padi, tak rela kalau ditanami besi. Tidak dijual).

Poster itu muncul di beberapa sawah milik warga yang semula masuk daftar yang akan dijual untuk pembangunan pabrik.

Saat dikonfirmasi, Kades Cepoko, Ngadiman membenarkan jika ada investor yang berniat membangun pabrik sepatu di wilayahnya. Dari pembicaraan awal, investor asal Korea itu butuh 60 hektare lahan di Desa Cepoko untuk membangun pabrik sepatu.

Investor itu datang melalui perwakilan mereka dan melakukan sounding-sounding sekitar dua bulan lalu.

Setelah dilakukan peninjauan, kala itu ada 300 warga pemilik lahan dan sawah yang sudah sepakat dan siap menjual lahannya untuk pembangunan pabrik.

Baca Juga :  Awal Petaka Surani, Pilih Majikan Perempuan di Arab Saudi. Ternyata Tak Berperikemanusiaan, Sering Disekap di Kamar Tanpa Diberi Makan, Terpaksa Minum Air Bak Mandi

“Investornya ke sini sekitar dua bulan lalu. Tapi kami ketemu juga baru sebulan lalu. Warga yang siap menjual lahannya ada sekitar 300an orang. Nggak banyak, ada yang cuma 450 meter, 900 meter, yang paling luas sekitar 4500 meter persegi. Sebenarnya sudah pada mendukung dan sepakat bahkan sebagian sudah ada yang diberi uang muka. Dan kami juga tidak terlibat, semua langsung dari investor dengan warga,” paparnya Minggu (5/4/2020).

Perihal ada warga yang menolak, ia tidak menampik. Menurutnya memang ada beberapa warga di wilayah RT 9 yang belakangan berbalik menolak menjual lahannya.

Pihaknya tak tahu alasan penolakan itu. Meski sudah mencoba menjelaskan bahwa pembangunan pabrik itu akan berdampak luas mendongkrak kehidupan warga di Cepoko dan Sumberlawang, namun sebagian warga itu tetap berkeras mendadak menolak.

“Saya juga nggak tahu persis mengapa mereka mendadak berbalik. Padahal semua proses juga langsung dari investor ke warga. Kami nggak ikut-ikutan. Kami dari Pemdes dan mayoritas warga sejak awal sangat mendukung karena pabrik itu nanti membutuhkan karyawan hampir 30.000. Kami rasa ini sangat bagus untuk masa depan Sumberlawang, apalagi Sumberlawang selama ini jadi kecamatan dengan KK miskin terbanyak di Sragen. Sudah kami jelaskan, tapi mereka tetap nggak mau. Ya sudah, kami biarkan sementara,” tuturnya.

Baca Juga :  Update Corona Sragen 2 Juli, Kurva Melandai Tapi 43 Warga Masuk Daftar OTG. Total Positif Masih 50 Kasus, 39 Sembuh dan 23 Warga Meninggal Dunia

Ngadiman juga menyampaikan sebenarnya dengan kehadiran pabrik itu, warga juga banyak diuntungkan. Sebab dari investor sudah menyanggupi beberapa tuntutan warga.

Di antaranya, semua warga pemilik lahan nantinya akan dijadikan karyawan tetap, pembayaran uang lahan dibayarkan utuh tanpa potongan PPH PPN, lalu yang ketiga ketika lahan sudah dibayar tapi belum dibangun, warga masih boleh menggarapnya.

“Keempat, ketika sudah tiga tahun diurug tapi belum dibangun, tanah akan kembali diberikan ke warga. Yang terakhir, warga yang mungkin usianya agak tua tetap akan diterima bekerja di situ entah sebagai petugas kebersihan atau yang lain. Kurang gimana coba kami perjuangan warga Mas,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sragen, Tugiyono sebelumnya menyampaikan memang ada tiga investor asing asal Korea dan China yang sempat sounding-sounding untuk berinvestasi membangun pabrik di Sragen.

Salah satunya lahan yang dipilih memang di Sumberlawang untuk pabrik sepatu. Ia juga mengatakan secara prinsip Pemkab mendukung masuknya investasi pabrik berskala besar yang bisa menyerap banyak tenaga kerja.

“Kemarin sudah sounding-sounding dan cek lahan juga. Tapi sejak adanya corona virus ini, belum ada lagi kabarnya. Mudah-mudahan nanti berlanjut, karena pabrik yang akan dibangun skala besar dan menyerap puluhan ribu tenaga kerja. Kan bisa meningkatkan pendapatan warga dan menyerap tenaga kerja,” paparnya. Wardoyo