JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Bikin Trenyuh, 12 Warga Desa Pinggiran Kandangsapi Sragen Rela Mundur Rame-rame dari Penerima Bantuan PKH Karena Ingin Mandiri. Padahal Hanya Jualan Cilok, Tukang Rosok dan Bakul Gendar, Mengaku Tak Tega Lihat Banyak Yang Lebih Miskin!

Dari atas, Sukarman penjual cilok, Wagiyono buruh suami penjual gendar dan Kades Kandangsapi serta pendamping PKH Kandangsapi. Foto kolase/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Dari atas, Sukarman penjual cilok, Wagiyono buruh suami penjual gendar dan Kades Kandangsapi serta pendamping PKH Kandangsapi. Foto kolase/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Fenomena tak lazim mundur dari penerima bantuan sosial kembali terjadi di Sragen. Setelah 9 warga penerima program keluarga harapan (PKH) di Desa Bedoro, Sambungmacan, kali ini kisah tak kalah menyentuh datang dari Desa Kandangsapi, Kecamatan Jenar.

Sebanyak 12 warga penerima PKH di desa ini juga rame-rame mengajukan mundur dari penerima bantuan. Alasannya mereka merasa ekonominya sudah beranjak cukup sehingga tidak layak lagi menerima bantuan.

Selain itu, mereka juga merasa malu rumahnya ditempeli stiker miskin. Serta tak tega melihat masih ada beberapa warga yang kondisinya jauh lebih miskin dan lebih pantas menerima.

Ironisnya lagi, mayoritas warga yang mundur itu hanya berprofesi jualan cilok keliling, bakul gendar hingga tukang rosok.

JOGLOSEMARNEWS.COM pun mencoba menelusuri beberapa warga di Kandangsapi yang berjiwa besar minta mundur di saat banyak warga berharap tinggi dapat bantuan pemerintah saat ini, Jumat (15/5/2020).

Salah satu penerima PKH yang mundur itu bernama Sukarman (47) warga Dukuh Kedungbulus RT 13, Desa Kandangsapi. Dari pantauan JOGLOSEMARNEWS.COM , rumahnya juga masih sederhana dengan ubin cor-coran kasar.

Tak ada perabot istimewa di dalam rumah. Hanya ada etalase sederhana untuk jualan bensin serta perabotan untuk berjualan cilok atau pentol keliling.

Sukarman memiliki dua anak dari rumahtangganya bersama Sihwati (50). Sihwati sendiri rupanya juga tercatat menyandang disabilitas tunawicara ringan.

Saat ditanya kabar pengundurannya dari PKH, Sukarman dan Sihwati mengakui mereka sendiri yang mengajukan mundur secara sukarela.

“Saya dapat PKH sejak 2016. Waktu itu ya masih serabutan. Dulu setiap tiga bulan dapat bantuan Rp 375.000. Usaha jualan pentol baru agak ramai baru beberapa tahun ini. Istri saya warungan di rumah dan jualan bensin. Sekarang Alhamdulillah usaha mulai jalan dan bisa mandiri. Saya rasa sudah agak kecukupan Mas, meski hanya punya jualan kecil-kecilan,” papar Sukarman diamini sang istri.

Sukarman penjual cilok yang minta mundur dari PKH. Foto/Wardoyo

Sukarman menuturkan keputusan mundur dari PKH diambil setelah berunding dengan sang istri. Sang istri pun mendukung dan akhirnya pada Maret 2020 lalu, dirinya memutuskan menghadap Petugas PKH desa untuk mengurus pengunduran diri.

Baca Juga :  Panitera Meninggal Terpapar Covid-19, Sidang Tuntutan 3 Terdakwa Korupsi RSUD Sragen Rp 2,017 Miliar Terpaksa Ditunda. Jaksa Berharap Sidang Bisa Digelar Via Daring

Tak Tega Lihat Yang di Bawah

Meski belum begitu mampu, ia merasa sudah tak pantas menerima bantuan pemerintah. Terlebih dari pengamatannya, masih ada beberapa warga tetangganya yang lebih di bawah dan membutuhkan bantuan.

“Sudah ikhlas lahir bathin. Saya nggak pingin bergantung bantuan pemerintah terus, Mas. Apalagi masih ada warga yang jauh di bawah saya dan lebih membutuhkan. Makanya harapannya bisa dialihkan ke mereka yang belum dapat bantuan itu,” terang Sukarman.

Senada, kisah tak kalah menyentuh juga datang dari Wagiyono (43) warga Kandangsapi RT 9. Meski hanya kerja serabutan dan istri hanya jualan gendar, ia sudah bulat untuk mundur dari penerima bantuan PKH.

Ia mengaku menerima PKH sudah cukup lama ketika kondisi rumah dan ekonominya masih sulit. Saat ini, kondisi ekonominya mulai membaik dan rumahnya juga sudah lebih memadai.

“Dulu rumahnya belum begini. Alhamdulillah sekarang sudah agak cukup. Sehingga saya rundingan sama istri untuk mundur saja dari PKH. Biar gantian ke yang lain. Karena ternyata yang di bawah kita dan lebih membutuhkan masih banyak,” terangnya.

Wagiyono menyebut sudah mengajukan mundur beberapa hari lalu. Ia mengaku sudah ikhlas dan justru berharap bantuan bisa dialihkan ke yang lebih membutuhkan.

“Biar gantian, yang lebih di bawah kami masih banyak. Istri saya jualannya gendar dan sudah iklas mundur Mas,” terangnya.

Keputusan mundur sukarela itu juga ditandai dengan pelepasan stiker PKH atau stiker miskin di rumah keduanya. Namun cerita kebesaran jiwa itu juga dilakukan 10 warga lain yang juga ikut mundur dengan alasan yang sama.

Padahal Desa Kandangsapi termasuk salah satu desa tertinggal di Sragen Utara yang berkarakter gersang dan sulit air. Desa ini berada di perbatasan Sragen dengan Jatim serta selalu kekeringan tiap kemarau tiba.

Petugas pendamping PKH Desa Kandangsapi, Suryani (29) menuturkan total ada 12 penerima PKH yang mundur di Kandangsapi. Mereka mundur secara sukarela secara bertahap sejak akhir 2019 hingga awal 2020.

Baca Juga :  Sempat Dilanda Keresahan, Desa Bedoro Sragen Akhirnya Umumkan Bebas Kasus Covid-19. Hasil Swab Satu Pemudik dan 5 Orang Keluarganya Dinyatakan Negatif, Warga Lega

“Ada yang disampaikan saat pertemuan PKH, ada juga yang langsung datang ke rumah saya dan bilang Mbak saya mau mundur. Katanya malu rumahnya ditempeli stiker miskin dan merasa sudah kecukupan,” tuturnya.

Suryani menguraikan data PKH memang setiap bulan dilakukan pengecekan. Dengan mundurnya 12 warga itu, saat ini jumlah penerima PKH di Kandangsapi masih 319 orang.

Pihaknya mengaku salut dengan keputusan mundur mereka. Pasalnya menilik dari kondisi ekonomi, sebagian yang mundur itu sebenarnya masih layak menerima.

“Rumahnya sebagian juga masih biasa. Tapi mereka punya kesadaran tinggi dan tidak ingin terus bergantung bantuan pemerintah. Kita apresiasi. Ada juga yang malu rumahnya ditempeli stiker, makanya kami sangat salut,” terangnya.

Jadi Motivasi 

Pengunduran diri 12 warga itu sudah langsung dilaporkan dan diproses. Kades Kandangsapi, Pandu membenarkan ada 12 warganya yang memutuskan mundur dari PKH.

Menurutnya hal itu bagus sebagai wujud kesadaran pribadi yang ingin mandiri serta tak terus bergantung bantuan pemerintah.

“Semoga ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi yang lain yang sudah mampu dan masih menerima bantuan agar bisa menirukan jejak mereka. Sehingga bantuan bisa dimanfaatkan untuk mereka yang lebih membutuhkan. Kami salut, warga kami meskipun belum mampu banget, tapi punya kesadaran tinggi untuk mandiri,” tandasnya.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sragen, Joko Saryono mengapresiasi tinggi keinginan mundur dari belasan warga penerima PKH di Kandangsapi, Jenar itu. Pihaknya berharap jiwa mandiri dan kebesaran hati mereka bisa menggugah kesadaran masyarakat yang lain untuk bisa legawa meniru jejak jika merasa sudah mampu.

“Mereka patut diapresiasi. Jiwa ingin mandiri dan bergantung dari bantuan inilah yang harus terus ditanamkan. Kami meyakini mereka justru akan bisa lebih survive dan punya semangat besar untuk maju,” tandasnya. Wardoyo