JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Data Pasien Positif Covid-19 di Sragen Terkesan Dirahasiakan, DPRD dan Warga Sebut Malah Bikin Resah dan Membahayakan!

Ilustrasi positif covid-19. Foto/Pixabay
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Ilustrasi positif covid-19. Foto/Pixabay

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kalangan DPRD Sragen dan warga mempertanyakan sikap Pemkab dan yang tidak secara terbuka menyampaikan data hasil rapid test maupun pasien yang melakukan tes swab terkait covid-19.

Tidak hanya itu, data pasien positif covid-19 yang hanya disebutkan dari wilayah kecamatannya tanpa ada informasi penyerta seperti riwayat, juga dinilai telah memicu kebingungan dan keresahan di masyarakat.

Hal itu disampaikan anggota DPRD Sragen dari Fraksi Golkar, Bambang Widjo Purwanto kepada wartawan, Minggu (10/5/2020).

Legislator asal Gondang itu mengatakan dalam kondisi darurat wabah corona yang terus meningkat, seharusnya Pemkab lebih terbuka dalam penyampaian data ke masyarakat.

Terutama informasi soal ketika ada pasien positif. Menurutnya informasi pasien positif memang tidak perlu menyebut detail namanya.

Akan tetapi informasi asalnya dari desa mana, jenis kelamin, riwayat perjalanan atau riwayat lainnya, harusnya bisa disampaikan.

Hal itu penting agar menjadikan warga di sekitar pasien bisa segera melakukan pencegahan, kewaspadaan dan antisipasi dengan menjaga jarak dan lainnya.

“Seperti contoh kemarin hanya dikabarkan kalau di Kecamatan Gondang ada positif satu orang. Berita sudah menyebar, tapi ketika ditanyakan ke dinas dan pihak terkait yang positif dari desa mana dan siapa, semua dirahasiakan. Bagaimana kita bisa mengantisipasi dalam mencegah penyebarannya ketika sudah ada yang positif tapi nggak tahu dia dari desa mana dan orangnya yang mana,” paparnya.

Menurutnya, dalam situasi seperti ini, masyarakat butuh segera tahu perkembangan informasi secara lengkap  biar ada keseriusan dalam menangkal virus covid-19.

Jika masih bersifat rapid test, karena belum bisa jadi acuan, tidak masalah data identitas ditutupi karena menyangkut kode etik.

Baca Juga :  Update Corona Wonogiri, Tambah 6 Kini Jumlah Kasus Positif COVID-19 Kota Sukses Menjadi 26

Akan tetapi jika sudah hasil swab positif, seharusnya pemerintah segera menyampaikan kepada publik lewat siaran pers.

Termasuk siapa pun yang ingin tahu atau bertanya mestinya juga dijawab dan disampaikan secara terbuka.

“Kalau sudah ada yang positif,  kepentingan kita tidak hanya menyelamatkan pasien agar bisa tertangani, tapi juga menyelamatkan keluarga dan warga lainnya agar jangan sampai tertular,” terangnya.

Ia memahami ketika ada kode etik dan kekhawatiran dampak sosial terhadap si pasien dari masyarakat.

Akan tetapi ia memandang justru akan jauh lebih berbahaya ketika masyarakat tidak tahu informasi warga yang positif tapi kemudian kontak dan akhirnya terkena virus dari pasien atau keluarganya.

Dengan pemerintah selalu menutupi apa yang telah dilakukan dan hasil swab test dan masyarakat tidak boleh tahu, menurutnya itu sama halnya  masyarakat disuruh berjalan sambil menutup mata.

“Karena selama ini masyarakat juga punya andil besar di dalam pencegahan virus covid-19 ini. Apalah artinya sosialisasi ketika tidak dikasih tahu hasil-hasilnya. Mendingan sekalian pemerintah nggak usah menyampaikan hasil perkembangan penyebaran covid daripada membuat bingung masyarakat karena tidak ada by name by addrresnya,” ujarnya.

Karena itulah ia meminta pemerintah tidak usah menutup-nutupi ketika hasil swab test sudah keluar. Baik itu hasil positif maupun yang negatif.

“Banyak mana manfaat atau mudaratnya ketika pemerintah menutup-nutupi data,” tuturnya.

Warga Hanya Menebak-Nebak

Senada, salah satu tokoh di Sidoharjo, Agus juga memandang dalam situasi wabah corona yang penyebarannya  cepat, keterbukaan data diyakini justru akan lebih baik untuk kepentingan masyarakat.

Misalnya ketika ada yang swabnya sudah positif segera disampaikan dari desa mana. Lalu siapa yang kontak dan dirapid test, disampaikan pula yang positif siapa, penanganannya bagaimana serta langkah warga harus bagaimana.

Baca Juga :  Update Corona Sragen 13 Juli, 51 Kasus Positif, 22 PDP Meninggal Dunia, 1 PDP Dirujuk. Tinggal 9 Pasien Positif Dirawat, 41 Sembuh, Total 25 Warga Meninggal

“Sambil diberikan sosialisasi ke warga sekitar sehingga semua bisa saling menjaga dan mengingatkan. Kalau saya lihat selama ini ketika ada yang positif nggak disampaikan detail dari mana desanya. Warga tahunya ketika datang petugas menjemput pasiennya atau melakukan rapid test. Rapid test pun tidak disampaikan hasilnya. Akhirnya masyarakat jadi  bingung dan hanya menebak-nebak. Yang terjadi akhirnya asumsi, kalau sudah dites itu dipikirnya sudah positif padahal mungkin baru rapid. Akhirnya saling tuduh sehingga malah tambah resah,” jelasnya.

Pertimbangan Kondusivitas

Sementara, Bupati Sragen selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Kusdinar Untung Yuni Sukowati saat menerima bantuan APD dari Ashoco beberapa waktu lalu menegaskan bahwa data rapid test dan pasien positif sengaja tidak disampaikan secara detail.

Hal itu dilakukan lebih karena pertimbangan untuk menjaga kondusivitas. Menurutnya, toh sebenarnya masyarakat juga pasti akan tahu soal data tersebut.

“Untuk apa kita sampaikan detail kalau hanya untuk menjadi gunjingan di media sosial. Lalu ditambahi macam-macam sehingga akhirnya jadi meresahkan. Kita ingin semua kondusif. Kita akan melakukan segala hal. Yang positif pun akan disisir keluarganya, orang terdekatnya, untuk dilakukan kontak. Jadi nggak perlulah (dibuka detail). Kemarin ada berita satu yang positif saja sudah membuat satu kampung geger dan sebagainya,” terangnya.

Ia menyampaikan pemerintah juga tidak lelah untuk memberikan pemahaman agar masyarakat mengerti betul bahwa virus corona menular dengan cepat.

Menurutnya, pemerintah juga terus berupaya bagaimana menggugah kesadaran masyarakat untuk senantiasa menjaga jarak, cuci tangan, diam di rumah dan mengenakan masker. Wardoyo