JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Gara-Gara Imbauan Gubernur Ganjar 27 April, Para Pedagang di Pasar Bintoro Demak Sekarang Berubah Jadi Begini!

Foto/Humas Jateng

DEMAK, JOGLOSEMARNEWS.COM – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo gencar melakukan sosialisasi penerapan jaga jarak antarpedagang di pasar. Bahkan pihaknya telah meminta bupati dan wali kota menerapkannya, untuk menekan persebaran Covid-19.

Setelah sukses diterapkan di Pasar Pagi Salatiga, giliran Pasar Bintoro Demak memberlakukan physical distancing.

Di pasar yang terletak di Jalan Sultan Patah Demak ini, pemberlakuan jaga jarak berlangsung sejak dua hari ini dengan memanfaatkan jalanan sekitar pasar tersebut.

Pasar Bintoro Demak adalah pasar pagi yang mayoritasnya diisi oleh pedagang yang berjualan sayuran, ikan, buah, hingga aneka kebutuhan sembako, dan lainnya.

Pasar tradisional ini selalu ramai, mulai dini hari sekitar pukul 00.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.

Berdasarkan pantauan di lokasi, dua baliho peringatan pencegahan virus Corona terpasang di pagar dekat pintu utama pasar.

Di baliho tertulis kalimat berbahasa Jawa yang bernada imbauan kepada pedagang yang berjualan di luar pasar, untuk menempati atau membuka dasaran di tempat yang disediakan Pemkab Demak.

Mulai dari jalan depan pasar sampai jembatan Kracaan hingga jembatan Pecinan. Mulai Rabu (29/4/2020) pukul 01.00 WIB.

Para pedagang yang biasa menempati tepian jalan sepanjang pasar itu akhirnya berpindah ke tengah jalan.

Baca Juga :  Pria Usia 50 Tahun Kejang-kejang dan Muntah Darah di Halte Bus Trans Semarang, Meninggal Tak Lama Usai Dibawa ke Rumah Sakit

Mereka menempati di dalam garis kotak bercat warna kuning. Masing-masing kotak ukurannya sekitar dua meter x dua meter. Tercatat ada sekitar 110 kotak yang berada di sepanjang jalan depan gedung Pasar Bintoro.

Menurut Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Bintoro Demak, Abdul Fatah,  penataan pedagang dengan menjaga jarak ini memang berdasarkan imbauan dari pemerintah daerah. Sebelumnya, para pedagang berjualan dengan cara saling berhimpitan satu sama lain.

“Tujuannya untuk mengurangi penyebaran Covid-19,” kata Fatah ditemui di lokasi, Kamis (30/4/2020) pagi.

Pemerintah daerah pun memanfaatkan badan jalan raya ini untuk dipakai para pedagang. Sehingga mereka tidak berdagang dengan berhimpitan.

Dengan menempati garis kotak yang juga diberi nomor, jarak pedagang satu dengan lain sekitar 1,5 meter hingga dua meter. Kebijakan pemerintah itu berdampak positif dalam bentuk pengurangan kerumunan.

“Pedagang bisa menempati jalan raya dari jam (pukul) 00.00-06.00 WIB,” imbuhnya.

Ditambahkan, pembatasan waktu operasional para pedagang bertujuan agar pengendara bisa kembali melintas di jalan raya tersebut.

Bila stok dagangannya masih, pihaknya mempersilakan pedagang berpindah ke lapak yang berada di bagian dalam gedung pasar, tepatnya di lantai 2.

Dari pantauannya dalam dua hari terakhir, dia melihat tidak lagi dijumpati adanya aktivitas pedagang dan pembeli yang saling berdekatan saat transaksi.

Baca Juga :  Terpilih secara Aklamasi, Amir Machmud Kembali Nahkodai PWI Jateng Periode 2020-2025

“Tidak ada lagi uyek-uyekan di situlah,” beber Fatah.

Menurutnya, kotak yang disediakan untuk pedagang sebanyak 110 kotak. Bila pedagang tidak ada yang libur, kotak akan terisi penuh.

Di dalam pasar pun ada sekat yang dibuat untuk para pedagang, sehingga jarak antar pedagang terlihat.

Fatah mewakili pedagang menuturkan, pihaknya setuju dengan kebijakan pemberlakuan pasar dengan menjaga jarak.

Sebab hal itu bisa menjadi upaya untuk mencegah penyebaran virus Corona. Bahkan paguyuban tak bosan-bosan mengigatkan pedagang dan pembeli untuk mengenakan masker.

“Ada imbauan dari Pak Gubernur, mulai tanggal 27 (April) kemarin itu harus diwajibkan dengan membawa masker,” sambungnya.

Dengan demikian bila pihaknya menjumpai ada pedagang atau pembeli tidak mengenakan masker, akan diminta kembali ke rumah untuk membawa masker.

“Karena itu sudah menjadi peraturan dan jadi kewajiban dari pedagang atau wakil pedagang,” jelas Fatah.

Seorang pedagang yang berjualan di jalan, Sumarmi (60) mengaku berdagang di jalan raya tidak membuatnya kehilangan pelanggan. Sebab pelanggannya tetap bisa bisa mendapatkan barang yang dicarinya.

“Inggih, laris. Alhamdulilah laris,” kata Sumarmi pedagang bawang merah dan cabai, sembari sibuk melayani pelanggannya. Edward