loading...
Anton A Setyawan
Guru Besar Ilmu Manajemen FEB
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Penularan virus Covid19 yang sampai sekarang masih terus berlanjut, memicu kekhawatiran para pebisnis karena dampaknya ternyata melumpuhkan perekonomian global. International Monetary Fund (IMF) memperkirakan perekonomian global pada tahun 2020 tumbuh negatif. Indonesia diperkirakan masih tumbuh positif antara 1sampai 2,1 persen pada 2020.

Pemerintah telah menetapkan kondisi darurat sampai 29 Mei 2020. Dalam perkembangannya beberapa wilayah menetapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) seperti di Jabodetabek dan Surabaya Raya (Surabaya, Gresik dan Sidoarjo). Selain itu hampir semua daerah menetapkan social dan physical distancing.

Tindakan pencegahan penularan Covid19 dengan pembatasan sosial dan fisik ini memukul dunia usaha yang terkait dengan jasa dan penjualan ritel. Sektor manufaktur juga mengalami masalah produksi karena ada gangguan pasokan bahan baku serta larangan berkumpul yang berarti melarang proses produksi (terutama jika ditemukan kasus positif Covid19 pada salah satu karyawannya). Saat ini perbankan dan sektor keuangan juga mulai merasakan dampak karena banyak nasabah yang mengajukan penundaan pembayaran sehingga resiko kredit macet meningkat.

Pebisnis saat ini mengharapkan pemerintah bisa memberikan stimulus untuk membantu pemulihan ekonomi, namun demikian stimulus yang diberikan pemerintah sebatas pembebasan pajak, membantu restukturisasi atau rescheduling pinjaman dan pemberian kredit usaha bagi UMKM. Namun demikian, penurunan permintaan karena penurunan daya beli, adalah kondisi yang tidak bisa dengan mudah diselesaikan dengan stimulus ekonomi. Sektor bisnis saat ini hanya mempunyai waktu sampai bulan Juli untuk bertahan. Jika penularan terus berlanjut, maka yang terdampak penularan Covid19 tidak hanya masyarakat kelas bawah tetapi kelas menengah juga terdampak dari kondisi ini.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sampai kapan kondisi ini terjadi atau sampai kapan sektor bisnis harus mengalami keterpurukan? Kapan akan terjadi pemulihan bisnis? Apa yang harus dilakukan pebisnis dalam situasi seperti ini?

Kapan Pemulihan Ekonomi?

Baca Juga :  THE NEW WUHAN

Dalam konteks ini tidak ada skenario tunggal tentang pemulihan kondisi ekonomi. Apakah pemulihan ekonomi tergantung pemerintah? Hal yang harus disadari oleh pengusaha, kemampuan pemerintah untuk melakukan pemulihan ekonomi sangat terbatas. Pemerintah hanya mampu memberikan jaringan pengaman sosial untuk kelompok masyarakat miskin sementara kelas menengah diluar jangkauan anggaran pemerintah.

Dalam skenario optimis, maka pemulihan ekonomi akan terjadi pada bulan September atau pada pertengahan triwulan III tahun 2020. Skenario ini terjadi jika PSBB yang diterapkan di beberapa kota berhasil mengurangi jumlah orang yang terinfeksi atau kurva penularan mulai flat. Namun demikian, skenario aktivitas ekonomi mulai pulih juga bisa disebabkan karena masyarakat sudah tidak mempunyai tabungan untuk membiayai hidupnya, sehingga tidak ada pilihan lain kecuali memulai bisnis mereka. Pada skenario ini pebisnis baik bisnis besar maupun UMKM harus melakukan inovasi proses bisnis terkait dengan protokol pencegahan penularan Covid19. Penyusunan lay out dengan physical distancing  yang dilakukan di pasar Salatiga bisa menjadi contoh inovasi bisnis ini.

Skenario berikutnya adalah pemulihan ekonomi terjadi pada akhir tahun 2020 atau triwulan IV tahun 2020 yaitu pada awal bulan November 2020. Pada skenario ini uji coba vaksin secara terbatas sudah dilakukan meskipun masih dalam pengawasan. Hal ini bisa mengurangi kekhawatiran tentang penularan Covid19 sehingga beberapa bisnis bisa berjalan dengan normal. Pada tahapan ini, stimulus yang diberikan pemerintah berupa pembebasan pajak dan pemberian kredit lunak bagi UMKM bisa mempercepat proses pemulihan ekonomi.

Skenario paling pesimis adalah pemulihan ekonomi baru terjadi pada awal 2021. Pada skenario ini, pemerintah memperpanjang pemberlakuan social dan physical distancing karena masih terjadi penularan setelah bulan Juli atau kurva penularan baru belum flat. Pada skenario ini bisa jadi vaksin sudah ada  meskipun dijual secara terbatas sehingga bisnis berjalan normal. Namun demikian, dalam skenario ini bisa jadi sudah terjadi perubahan bisnis baik dari sisi proses maupun pelaku karena banyak pelaku bisnis lama yang sudah tidak mampu bertahan atau terpaksa mengubah bidang usahanya. Pada skenario ini UMKM yang banyak mengubah bisnis baik dari sisi bidang bisnis maupun volume karena mereka tidak mampu bertahan akibat penurunan daya beli masyarakat.

Baca Juga :  THE NEW WUHAN

Re-orientasi Bisnis

Yuswohadi et al., (2020) menyusun sebuah perkiraan tentang pergeseran perilaku konsumen karena terdampak Covid19. Ada 4 pergeseran mendasar dari konsumen yaitu gaya hidup lebih banyak dirumah, struktur sosial yang lebih berempati pada sesama manusia, pergeseran ke layanan virtual dan fokus konsumen pada kebutuhan dasar (makanan minuman, kesehatan dan rasa aman). Perkiraan ini menarik karena bisa jadi bersifat temporer (sementara) selama ada pandemi Corona , namun bisa jadi pandemi ini memunculkan kesadaran bahwa virus atau penyakit menjadi ancaman bagi peradaban manusia sehingga mereka perlu mengubah gaya hidup.

Dalam buku tentang prediksi pergeseran konsumen ini ada sekitar 30 perubahan dari sisi jasa atau produk yang menjadi preferensi konsumen. Dalam hal ini penulis melihat ada beberapa yang sangat mungkin terjadi, yaitu belanja daring, sistem pendidikan daring, jasa e-money, makanan beku, bahan masakan untuk masakan rumahan, peningkatan obat herbal (jamu), makanan halal dan hiburan virtual. Bisnis-bisnis tersebut bisa jadi akan menjadi trend bisnis di masa depan karena terjadi perubahan kesadaran masyarakat akibat pandemi Covid 19. Beberapa bisnis seperti pariwisata, MICE, hiburan dan kuliner harus mengubah proses bisnis mereka jika ingin tetap bertahan.

Pemulihan ekonomi pasca pandemi Corona tidak hanya tergantung pada pemerintah, melainkan kemampuan para pelaku usaha untuk melakukan inovasi dan penyesuaian terhadap perubahan perilaku konsumen. Pemerintah hanya bisa memberikan stimulus untuk membantu pemulihan, sedangkan kebangkitan bisnis lebih banyak tergantung pada kemampuan pelaku usaha menemukan solusi keterpurukan bisnis mereka. (*)