JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Pendidikan

Pemerintah: Siswa Masih Belajar di Rumah Setidaknya Sampai Agustus-September

Siswa belajar melalui saluran televisi pemerintah, TVRI di rumah di Jakarta, Senin, 13 April 2020. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, menggandeng TVRI untuk mengatasi keterbatasan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar dan mengajar di sekolah. TEMPO/Subekti.
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dengan pertimbangan kesehatan, sekolah sekolah masih akan digelar secara online atau proses belajar di rumah setidaknya hingga Agustus 2020. Sampai saat ini pemerintah belum dapat memastikan waktu dibukanya kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah di tengah pandemi Covid-19.

“Paling cepat kegiatan tatap muka dimulai akhir Agustus atau awal September. Itupun setelah ada clearance dari Gugus Tugas baik pusat maupun daerah,” kata Deputi
Bidang Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Agus Sartono, saat dihubungi Tempo, Minggu, (31/5/2020).

Agus mengatakan untuk saat ini, Covid-19 masih dinyatakan sebagai bencana nasional nonalam. Puncaknya pun diperkirakan masih akan terjadi antara Mei hingga Juni.

Baca Juga :  Ini 4 Saran KPAI untuk Pembelajaran Jarak Jauh di Era New Normal

Agus menyebut jika prediksi tersebut benar, maka hingga kurva turun dan landai, pemerintah setidaknya mesti menunggu satu hingga dua bulan untuk membuka kembali sekolah.

“Kami mesti harus prepare for the worst, semoga tidak ada second wave. Tetapi vaksin Covid-19 belum akan ada sampai Desember 2020,” kata Agus.

Anak-anak sebagai masa depan bangsa, kata dia, akan rentan terpapar jika tak dibiasakan mengenakan masker. Karena itu, proses pembelajaran mengambil skenario tetap menggunakan media daring disebut Agus masih menjadi pilihan utama untuk saat ini.

Baca Juga :  Lolos Seleksi, Dua Dosen ISI Surakarta Ikuti Pameran Poster Internasional di Spanyol

Ia mencontohkan sistem belajar di Perancis dan Korea Selatan dengan fasilitas sekolah dan kesehatan yang lebih bagus saja belum dapat menerakan belajar tatap muka. Meski sempat membuka kembali sekolah, namun akhirnya mereka menutup kembali sekolahnya setelah dibuka beberapa minggu.

“Saya tidak membayangkan jika satu keluarga ada 3 orang anak, misal salah satunya terpapar Covid dan harus menjalani isolasi. Apakah bisa sendiri? Pasti orang tua harus ikut menunggui. Ini akan menimbulkan kompleksitas dalam rumah tangga,” kata Agus.

www.tempo.co