JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Jokowi: Krisis Ekonomi Akibat Corona Lebih Berat dari Krisis 1930

Presiden Jokowi mengikuti KTT Luar Biasa G20 bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani dari Istana Bogor, Kamis, 26 Maret 2020. KTT ini digelar secara virtual untuk menghindari penularan virus corona / tempo.co

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, kondisi krisis global akibat virus Corona dewasa ini lebih berat ketimbang depresi tahun 1930.

Oleh karena itu, menurut Jokowi, dalam mengelola manajemen krisis membutuhkan keseimbangan yang harus sangat pas antara mengendalikan pandemi dan menekan dampak krisis ekonomi.

“Tidak bisa kita gas di urusan ekonomi, tapi kesehatan menjadi terabaikan. Tidak bisa juga kita konsentrasi penuh di urusan kesehatan, tapi ekonomi jadi sangat terganggu,” kata Jokowi.

Presiden Jokowi menyatakan bahwa krisis global akibat pandemi Covid-19 telah di depan mata dan semua akan merasakan. Oleh karena itu dia berpesan agar penanganan kesehatan dan ekonomi di Tanah Air harus dalam komposisi yang seimbang.

Baca Juga :  Pidato Sidang Umum PBB: Presiden Jokowi Tegaskan Setiap Negara Berhak untuk Akses Vaksin Covid-19, Sebut Vaksin Jadi Game Changer Perang Global Melawan Pandemi

“Gas dan rem inilah yang selalu saya sampaikan kepada gubernur, bupati, walikota, ini harus pas betul ada balance ada keseimbangan sehingga semuanya dapat dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Inilah sulitnya,” kata Presiden Jokowi di Gedung Grahadi Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/6/2020).

Jokowi juga mengatakan bahwa saat ini secara nasional, kondisi di setiap wilayah Indonesia berbeda-beda.

Setiap daerah harus mengambil kebijakan sesuai dengan kondisi terkini wilayahnya masing-masing. Dia mengingatkan, kebijakan itu harus berdasarkan data dan pendapat pakar.

Jokowi menjelaskan bahwa wilayah yang telah berhasil melandaikan kurva penambahan kasus positif corona, dapat bersiap untuk menuju new normal. Namun, dia kembali mengingatkan untuk selalu menyeimbangkan urusan kesehatan dan ekonomi.

Baca Juga :  Ini 9 Langkah Antisipasi LIPI Soal Pilkada di Tengah Pandemi Corona

Adapun, berdasarkan data teranyar yang diterima oleh Presiden, IMF telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada tahun ini terkoreksi negatif 8 persen.

Jepang, Inggris, dan Prancis, masing-masing berpotensi minus 5,8 persen, minus 10,2 persen, dan minus 12,5 persen.

Begitu pula dengan Italia, Spanyol, dan Jerman, yang masing-masing diproyeksi minus 12,8 persen, 12,8 persen, dan 7,5 persen.

“Artinya apa? demand nanti akan terganggu. Kalau demand terganggu supply-nya akan terganggu dan nantinya produksi juga akan terganggu. Artinya demand, supply, produksi semuanya rusak dan tertekan,” kata Jokowi.

www.tempo.co