JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

KDRT di Semarang Tetap Mengintai saat Pandemi, Sejak Januari Segini Jumlah Wanita yang Jadi Korban

Ilustrasi wanita korban KDRT. Pexels

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pandemi covid-19 memberi dampak luar biasa di segala lini kehidupan. Di tengah pandemi, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bisa dibilang tak bisa terbendung. Risiko kekerasan berbasis gender (KBG) terhadap perempuan di tengah pandemi covid-19 juga mengancam saat ini.

Hal ini akibat adanya kebijakan belajar di rumah yang mengharuskan perempuan sebagai ibu mendampingi anaknya belajar di rumah.

Data yang berhasil dihimpun dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang, sejak bulan Januari 2020 hingga saat ini ada sebanyak 45 kasus KDRT

Kabid Data dan Informasi DP3A Kota Semarang Masruchan menguraikan, dari seluruh dampak pandemik covid-19 secara keseluruhan, perempuan menjadi salah satu kelompok rentan yang terdampak, termasuk di Kota Semarang.

Baca Juga :  Tenaga Medis di Blora Berduka, Kepala Puskesmas Cepu Meninggal Akibat Terinfeksi Covid-19

“Sejak bulan Januari 2020 hingga Rabu (3/6/2020) ini, kasus KDRT dengan jumlah 45 kasus, kata Kabid Data dan Informasi DP3A Kota Semarang Masruchan, Rabu (3/6/2020) siang

Namun angka tersebut cenderung menurun dari periode yang sama di tahun 2019 yang mencapai 71 kasus,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Masruchan menjelaskan, perempuan sangat rawan menjadi korban dari KDRT. Hal tersebut melihat dari data Januari-Juni 2020 di atas. Menurut dia, korban KDRT paling banyak dialami oleh perempuan dewasa dengan total jumlah 30 korban.

“Untuk korban KDRT dari laki-laki dewasa cenderung belum ada di periode tersebut. Kalau korban KDRT dari anak-anak mencapai 16 korban,” jelas dia.

Baca Juga :  Pemprov Jateng Jalin Kerja Sama dengan GRMS untuk Sinkronisasi Data Covid-19

Masruchan juga menjelaskan, apabila faktor ekonomi menjadi salah satu faktor yang paling dominan mempengaruhi terjadinya KDRT di Kota Semarang. Disusul faktor lainnya seperti tingkat pendidikan dan lingkungan sosial.

“Tingkat pendidikan dari anggota keluarga yang tinggi cenderung memahami peran dan fungsi masing- masing sehingga kekerasan dapat diminalisir. Dan lingkungan fisik yang sehat, teduh dan lingkungan sosial yang taat norma dan hukum cenderung terhindar dari kekerasan,” terang dia.

“Korban KDRT paling banyak dialami oleh perempuan dewasa dengan total jumlah 30 korban.
Data tersebut menunjukan perempuan menjadi salah satu kelompok rentan yang terdampak,” pungkas dia. Satria Utama