JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Survei MarkPlus : Pemahaman Masyarakat tentang New Normal Belum Satu Suara, Strategi Komunikasi Pemerintah Belum Efektif

Ilustrasi New Normal. pixabay/pintera studio
Ilustrasi New Normal. pixabay/pintera studio

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM -Pemahaman mengenai konsep new normal atau tata kehidupan baru masih simpang siur. Masyarakat belum memiliki pemahaman yang seragam. Terdapat perbedaan persepsi di khalayak mengenai konsep new normal tersebut.

Demikian hasil survei yang dilakukan lembaga jasa komunikasi dan pemasaran, MarkPlus, terhadap responden dalam satu pekan terakhir ini. Menurut hasil survei yang dilakukan kepada 105 responden dalam satu minggu terakhir menunjukan adanya perbedaan pemahaman mengenai konsep new normal.

Sebanyak 39 persen dari total responden telah memahami bahwa penerapan new normal merupakan cara untuk memulihkan kondisi social ekonomi Indonesia dengan menerapkan protocol kesehatan, namun responden yang berusia di bawah 24 tahun meyakini bahwa new normal adalah kembali ke kondisi normal seperti sebelum adanya Covid-19.

Dikatakannya, sebanyak 35,7 persen responden yang berusia di bawah 24 tahun masih menganggap bahwa new normal merupakan kondisi kembali ke keadaan normal seperti dulu dengan menerapkan protokol kesehatan. “Dan 35,3 persen responden dengan usia di atas 44  tahun menganggap bahwa new normal merupakan bentuk pelonggaran dari PSBB,” ujar Business Analyst MarkPlus, Inc. Ida Ayu Saras Valendia dalam webinar MarkPlus Government Roundtable Senin (15/6/2020).

Baca Juga :  Pandemi Covid-19 Juga Bikin Anak-anak Stres, Ini Tips Menjelaskan tentang Virus Corona pada Anak agar Tidak Cemas

Perbedaan pemahaman ini menunjukan perlu adanya peningkatan pemerintah dalam menerapkan komunikasi publik yang efektif. Hasil survei juga menunjukan pemilihan media, konten, dan cara komunikasi mengenai new normal berada di skala rata-rata 4.5 dari skala 1 sampai 6.

Media yang paling banyak digunakan dan dinilai efektif oleh responden untuk mendapatkan informasi dari pemerintah adalah melalui televisi sebanyak 66,7 persen, diikuti website kementerian sebanyak 14,3 persen, dan portal berita sebanyak 8,6 persen.

Setelah mendapatkan informasi, 98 persen responden bersedia membagikannya kembali kepada orang lain. Responden dengan usia di bawah 24 sampai 34 tahun memilih membagikan lewat Instagram,  usia 35 sampai 44 tahun menggunakan Facebook.

Baca Juga :  Waspadai Penyakit MIS-C pada Anak yang Terinfeksi Virus Corona: Gejala Muncul 3-4 Minggu setelah Kena Covid-19, Bisa Tanpa Demam, Batuk, dan Sesak

Sedangkan usia di atas 45 tahun memilih menyebarkan informasi melalui perbincangan dengan teman atau keluarga. Menurut mereka informasi mengenai aturan yang ditetapkan oleh pemerintah mampu mengurangi rasa cemas saat beraktivitas.

“Mayoritas masyarakat sudah menerapkan protokol kesehatan dalam menghadapi new normal di kehidupan sehari-hari dan mengaku sudah terbiasa, itu juga yang membuat mereka merasa aman dan nyaman beraktivitas di luar,”paparnya.

Dengan memperkuat penyebaran informasi melalui masyarakat, pemerintah telah memiliki alat yang efektif untuk mengkomunikasikan cara-cara pengendalian wabah COVID-19 ke seluruh pelosok tanah air.  Namun, public berharap adanya variasi pesan yang lebih ditargetkan sesuai dengan kelompok usia mereka.

MarkPlus sendiri setelah sukses dengan webinar Industri Roundtable, selanjutnya menghadirkan MarkPlus Government Roundtable episode pertama via aplikasi Zoom yang membahas mengenai komunikasi publik di era digital terutama berkaitan dengan informasi mengenai penerapan protokol baru dalam menghadapi fase new normal.(ASA)