JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Wisata Hutan Pinus Mangunan Yogyakarta Berbenah Hadapi New Normal

Kawasan Hutan Pinus Mangunan di Bantul, Yogyakarta, masih tutup hingga pertengahan Juni 2020 akibat pandemi Covid-19. Pengelola destinasi wisata di hutan pinus itu membenahi berbagai fasilitas dan ornamen menyambut new normal / tempo.co

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Menyongsong era new normal di era pandemi virus Corona, objek wisata Hutan Pinus Mangunan di Kabupaten Bantul, Yogyakarta berbenah diri dengan menyesuaikan kebutuhan protokol kesehatan new normal.

Di objek wisata Omah Kukusan atau Rumah Hobbit dan komplek Seribu Batu misalnya, penduduk setempat bergotong royong mendandani gerbang masuk, memasang wastafel untuk tempat mencuci tangan, dan mengganti ornamen yang sudah kusam dimakan usia.

Seorang tokoh perintis wisata Hutan Pinus Mangunan yang juga Ketua Koperasi Noto Wono -lembaga yang menaungi sejumlah wisata di Desa Mangunan, Purwo Harsono mengatakan, kawasan itu harus tetap bisa menjadi andalan kunjungan di masa new normal.

“Salah satu karakter wisatawan yang datang ke Mangunan itu senang selfie. Maka keragamanan objek di Mangunan ini menjadi daya tarik utama,” ujar Ipung, begitu Purwo Harsono biasa disapa.

Menurut Ipung, wisatawan tak suka sesuatu yang monoton. Sebab itu, dalam persiapan new normal ini, pengelola objek wisata telah membenahi beberapa fasilitas yang dulu belum selesai ditata tapi sudah dibanjiri wisatawan.

Baca Juga :  49 Mahasiswa Panitia PPSMB 2020 UGM Jalani Isolasi Covid-19

Contohnya, gerbang masuk objek Seribu Batu yang kini dibenahi sehingga lebih artistik. Bambu-bambu kukusan menuju Rumah Hobit dirapikan.

Jembatan-jembatan kayu, ruang teater terbuka, hingga papan penanda juga diperbaiki sehingga lebih menawan. Jumlah wastafel di setiap sudut juga ditambah dan ditempatkan pada titik-titik strategis yang mudah dilihat dan diakses.

Ipung mengatakan, sejak mulai dikembangkan menjadi destinasi wisata pada awal tahun 2015, Desa Mangunan di Kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta, ini terus berbenah.

Tempat itu bukan lagi kawasan yang identik dengan kesan terpinggirkan, miskin, susah, terkungkung, dan keterbatasan.

Saat ini di kawasan Mangunan sudah ada 10 titik kawasan wisata yang dikelola masyarakat. Kegiatan menyadap getah pinus sudah dihentikan dan berganti dengan pengelolaan hutan berbasis pelestarian.

Baca Juga :  4 Anggota Dewan Positif Covid-19, Kompleks DPRD Yogyakarta Ditutup untuk Sterilisasi

Sektor ekonomi masyarakat tumbuh pesat. Dalam lima tahun terakhir, ada 400 usaha baru yang muncul, mulai dari restoran, homestay, transportasi, shuttle, pedagang kuliner, hingga bengkel.

Kuliner khas Mangunan, yakni thiwul yang dulu diolok-olok sebagai makanan orang miskin kini diburu wisatawan.

Para lansia juga diberdayakan dalam kelompok budaya gejog lesung untuk menyambut wisatawan. Pada tahun 2019, menurut Ipung, Mangunan menyetorkan pendapatan asli daerah sekitar Rp 2,8 miliar.

Kepala Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan atau KPH Yogyakarta, Aji Sukmono mengatakan awal mulanya Hutan Pinus Mangunan yang luasnya sekitar 130 hektar itu hanya kawasan hutan biasa yang tak tergarap maksimal. Kondisinya sepi dan jarang dilewati.

Setelah mulai dikelola berbasis wisata atas izin pemerintah daerah dan DPRD DIY, kawasan itu ditata menjadi destinasi wisata dan ramai pengunjung. Hutan Mangunan kini menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat.

www.tempo.co