JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Inilah Penelusuran Tracing Klaster Industri di Kota Semarang

Ilustrasi New Normal. pixabay/pintera studio
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Penularan corona virus disease 2019 (covid-19) di Kota Semarang masih mengalami lonjakan. Berdasarkan lama siagacorona.semarangkota.go.id, per Kamis (9/7/2020) pukul 15.00 WIB, pasien positif covid-19 telah mencapai 909 orang dan sedang menjalani perawatan.

Kemunculan klaster perusahaan langsung berdampak pada lonjakan kasus positif covid-19. Hingga kini, diketahui ada ratusan orang karyawan dari tiga perusahaan di sektor garmen, BUMN dan migas terinfeksi virus corona.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi membongkar penyebab utama kasus virus corona meningkat karena panen klaster baru. Ia mengatakan jika penambahan kasus positif covid-19 baru berasal dari klaster industri atau perusahaan, dengan mencapai 33 persen. Ia menyebutkan, pada awalnya kasus virus corona di kotanya hanya sekitar 500 hingga 600 orang. Namun akibat munculnya klaster yang cukup banyak dan besar, penambahan kasus di Semarang semakin meledak dan bertambah sekitar 200 hingga 300 orang.

”Lonjakan dari klaster industri itu capai 33 persen. Awalnya 500-600 (orang), tiba-tiba (jadi) 800,” kata Hendrar saat ditemui usai Rapat Tindak Lanjut Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) Jilid V di Ruang Loka Krida, Balai Kota Semarang, Rabu (8/7/2020) kemarin.

Baca Juga :  Priyanto Targetkan 23 Kejari di Jawa Tengah Raih Predikat Wilayah Bebas Korupsi

Kemunculan klaster perusahaan langsung berdampak pada lonjakan kasus positif COVID-19 di Kota Semarang. Hingga kini, diketahui ada ratusan orang karyawan dari tiga perusahaan di sektor garmen, BUMN dan migas terinfeksi virus corona. Bagaimana kronologis sebenarnya hingga muncul klaster di lingkungan padat karya tersebut?

Seperti diberitakan, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, munculnya klaster perusahaan berawal dari tiga karyawan di perusahaan A, B, dan C yang menjadi pasien dalam pengawasan (PDP) di salah satu rumah sakit di Semarang. Saat diperiksa, ketiganya ternyata mereka bekerja di pabrik.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan, kami melakukan penelusuran di perusahaan-perusahaan itu sampai akhirnya menemukan klaster baru,”terang dia.

Dari hasil penelusuran yang dilakukan petugas Dinkes Semarang, awal penularan terjadi dari rumah atau kos-kosan tempat PDP tersebut bekerja di pabrik hingga menularkan ke pekerja lainnya.

Baca Juga :  Pemprov Jateng Telah Gelar 138.500 Tes Covid-19

“Hasil penelusuran di 3 lingkungan perusahaan, rumah ataupun kos-kosan, sampai sekarang ada sekitar 300 orang yang terkonfirmasi positif dari klaster tersebut. Mereka adalah pekerja di perusahaan maupun kontak erat di lingkungan tempat tinggalnya,” terang dia.

Ia melanjutkan, penderita yang terinfeksi covid-19 tersebut adalah pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang tanpa gejala (OTG). Jumlah OTG lebih mendominasi, yakni mencapai 99 persen dari jumlah kasus klaster perusahaan itu.

“Saat ini yang masuk dalam OTG mayoritas melakukan isolasi mandiri yang difasilitasi oleh perusahaan masing-masing. Selain itu, sebagian ada yang melakukan isolasi di rumah dinas Wali Kota Semarang.

‘’Karyawan yang dinyatakan positif dari klaster perusahaan ini tidak semuanya warga Kota Semarang. Seperti di perusahaan A banyak yang dari luar kota, lalu di perusahaan C lebih banyak yang dari Kota Semarang,’’ pungkas dia. Satria Utama