JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Istilah “New Normal” Disebut Gagal Dipahami Masyarakat, Jubir Pemerintah Usul Diganti “Kebiasaan Baru”

KESADARAN WARGA. Sejumlah warga menggunakan masker saat berkatifitas di kawasan simpang empat Gading, Kota Yogyakarta, Minggu (31/5/2020). Pemda DIY masih menetapkan status tanggap darurat bencana pandemi Covid-19 dan warga yang berkatifitas diharuskan memakai maskes untuk menghindari penularan virus Corona. Tribunjogja.com | Hasan Sakri
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Penggunaan istilah “new normal” yang selama ini digaungkan pemerintah saat pandemi Covid-19 disebut tidak dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Brian Sriprahastuti mengatakan, hal itu dikarenakan penggunaan diksi dalam bahasa asing atau Bahasa Inggris. Masyarakat dinilai menganggap bahwa keadaan saat ini sudah kembali seperti sebelum pandemi.

“Pemahaman menggunakan ‘new normal’ karena ada unsur bahasa asingnya, kemudian tidak mudah dipahami dan diterjemahkan sebagai adaptasi kebiasaan baru,” ujar Brian dalam diskusi Trijaya bertajuk ‘Covid-19 dan Ketidaknormalan Baru’, pada Sabtu (11/7/2020).

Saat ini, setelah pemerintah menggaungkan ‘new normal’ pertambahan jumlah kasus Covid-19 justru kian meningkat.

Baca Juga :  Airlangga Hartarto: Dinasti Politik Adalah Realitas Politik yang Dikehendaki Masyarakat

Peningkatan itu seiring dengan menggeliatnya kembali kegiatan perekonomian dan sosial di masyarakat, setelah masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan.

Saat ini, tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap risiko penularan virus Corona dinilai semakin menurun.

Penyebabnya, kata Brian, tidak lepas dari ketidakpahaman masyarakat terhadap periode saat ini, yang merupakan prakondisi menuju kenormalan baru.

Artinya, ada tahapan yang harus dipersiapkan, mulai dari pembukaan sektor publik hingga persiapan protokol pencegahan Covid-19.

“Orang tidak melihat kata ‘new’ dan langsung ke ‘normal’. Padahal sebelum menuju new normal, ada periode prakondisi, ada tahapan yang harus dipersiapkan,” ujar Brian dikutip Tribunnews.

“Tampaknya prakondisi ini tidak dilakukan. Kemudian orang berpikir ini akan seperti pada saat pandemi belum terjadi. Padahal kondisinya tidak seperti itu. Kita harus menerima fakta bahwa virus ini masih ada di sekitar kita,” lanjut Brian.

Baca Juga :  Sopir Minibus Jurusan Sukodono-Sragen Meninggal Positif Terpapar Covid-19. Sempat Dirawat di RS UNS Solo, Riwayat Penularan Masih Misteri

Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, juga mengatakan istilah ‘new normal’ yang sering digunakan selama pandemi saat ini adalah diksi yang salah.

Yuri pun mengusulkan agar istilah ‘new normal’ dapat diganti menjadi ‘kebiasaan baru’.

“Diksi ‘new normal’ dari awal diksi itu segera ubah. New normal itu diksi yang salah dan kita ganti dengan adaptasi kebiasaan baru,” kata Yuri, Jumat (10/7/2020).

www.tribunnews.com