JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Level Waspada, Sultan: Jangan Khawatirkan Masyarakat Sekitar Merapi, Mereka Sudah Paham

Sultan Hamengkubuwono X menyatakan penutupan destinasi wisata di Yogyakarta tak efektif cegah virus corona, karena sudah sepi pengunjung. Hal tersebut ia nyatakan usai menggelar rapat terkait wabah virus corona, dengan bupati dan walikota se-DIY di Ndalem Ageng, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Kamis (19/3/2020) / tempo.co
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kendatipun Gunung Merapi memiliki level waspada karena mengalami penggembungan sekitar tujuh sentimeter akibat aktivitas magma yang naik, namun
Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan tidak khawatir dengan masyarakat di lereng Gunung Merapi yang masih tetap beraktivitas.

Bahkan, mulai awal bulan ini, sultan juga memberikan lampu hijau bagi objek wisata di sekitar Gunung Merapi menjalani uji coba menerima kunjungan wisatawan dalam masa pandemi Covid-19.

Sejumlah objek wisata lereng Gunung Merapi yang sudah beroperasi kembali antara lain Tlogo Putri Kaliurang, Wisata Merapi Park, Desa Wisata Pentingsari, dan museum-museum mini petilasan erupsi 2010 yang dibangun penduduk setempat.

Hari Kamis (9/7/2020) kemarin, Gunung Merapi dilaporkan mengalami penggembungan sekitar tujuh sentimeter akibat aktivitas magma yang naik. Masyarakat diimbau tidak panik karena jarak bahayanya masih dalam radius tiga kilometer dari puncak.

Sultan Hamengku Buwono X mengatakan penduduk di sekitar lereng Gunung Merapi sudah sangat memahami geliat gunung tersebut.

Baca Juga :  Terdampak Pandemi Covid-19, Pengusaha Rental Mobil di Jogja Bikin Angkringan Berjalan yang Ajak Konsumen Makan sambil Keliling Kota Gudeg

“Warga lereng Merapi sudah tahu persis, biarpun ada yang mengatakan ini level bahaya, waspada, tapi selama tidak ada hewan yang turun, maka tidak akan ada lava yang turun,” kata Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta, Kamis (9/7/2020).

“Mereka tahu itu. Tidak usah diragukan,” katanya.

Penduduk di sekitar lereng Gunung Merapi, Sultan Hamengku Buwono X melanjutkan, juga tahu betul bagaimana menyelamatkan barang-barang berharga mereka dengan cepat, seketika saat muncul tanda-tanda bencana erupsi.

Sultan mengatakan, warga lereng Gunung Merapi selama ini tak pernah menyimpan barang-barang berharganya dalam tempat yang sulit dijangkau.

Barang berharga, seperti sertifikat tanah, uang, juga emas, menurut dia, tidak disimpan di dalam lemari dan dikunci.

“Mereka selalu menyiapkan barang berharga dengan cara diikat jadi satu dengan pakaian cadangan. Jadi saat harus pergi, langsung terbawa semua,” ujarnya.

“Jadi warga lereng Merapi tidak usah diajari lagi, apalagi yang ‘ngajari’ orang kota, enggak ngerti. Jadi tidak usah khawatir.”

Baca Juga :  Jumlah Pengunjung Perpustakaan Kota Yogyakarta Merosot Drastis Selama Pandemi

Wisatawan berada di kawasan wisata lereng Gunung Merapi, Bungker Kaliadem, Sleman, DI Yogyakarta, 12 Mei 2108. Aktivitas wisata lereng Gunung Merapi saat ini telah kembali normal pasca erupsi freatik Gunung Merapi. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

Sri Sultan Hamengku Buwono X menambahkan, aktivitas vulkanik Gunung Merapi sekarang sangat berbeda dibanding erupsi dahsyat pada 2010.

“Jika dulu aktivitasnya (erupsi) empat tahun sekali, sekarang sudah lebih dari empat tahun. Tapi delapan tahun baru terjadi aktivitas lagi,” katanya.

Kendati siklus aktivitas Gunung Merapi sudah berubah drastis, Sultan Hamengku Buwono mengatakan lontaran materialnya masih dalam area yang cukup aman, yakni terbatas di kawasan atas.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi atau BPPTKG Yogyakarta juga telah memasang peralatan identifikasi aktivitas Merapi. “Teknologi yang lebih canggih sangat penting untuk memingatkan publik.”

www.tempo.co