JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Jumlah Lipatan pada Blangkon Tidak Sembarangan, Ini Filosofinya

Wibit Winarto tengah mengerjakan pesanan / tribunnews
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Wibit Winarto tengah mengerjakan pesanan / tribunnews

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM -Jumlah lipatan dalam sebuah blangkon, penutup kepala khas masyarakat Jawa, ternyata tidak sembarangan. Ada makna da filosofi tertentu yang mendasarinya.

Namun, blangkon yang dibuat oleh Ribut Winarto ini memiliki keunikan dari blangkon yang lain. Winarto hanya membuat blangkon dengan sua jenis lipatan, yaitu lipatan 17 dan 21 atau biasa disebut wiru.

Menurutnya, 17 wiru tersebut memiliki sebuah filosofi.

“Kalau menurut orang kraton, 17 wiru melambangkan 17 rakaat dalam sehari semalam diikat di kepala agar manusia tidak lupa kewajibannya kepada Yang Maha Kuasa,” terang Winarto.

Tentu saja lipatan 17 dan 21 memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Dan hal itu pun, menurut Winarto akan berimbas pada harga. Unsur lain yang ikut mempengaruhi tinggi rendahnya harga adalah jenis bahan yang digunakan.

Baca Juga :  Empat Bulan Tanpa Pemasukan, Kaki Langit Sambut Perpanjangan Tanggap Darurat Covid-19 DIY

“Apapun bahannya, yang utama kami tetap menjaga kualitas produk” ujar Winarto.

Blangkon produk Winarto kini tak perlu susah-susah mencari ceruk pasar, karena sudah disalurkan ke Hamzah Batik hingga saat ini.

Selain di Hamzah Batik, blangkon produk Winarto dijual pula di Pasar Beringharjo dan dijual ke para langganan perias.

“Bahkan mantan Presiden Suharto juga pernah memesan blangkon di sini, juga Tienuk Riefki seorang maestro rias pengantin asal Yogyakarta,” katanya.

Terdapat tiga model blangkon yang dibuat oleh Winarto, yaitu model adat wilayah, model tokoh pada jaman Mataram Islam dan model kreasi.

Untuk memproduksi blangkon tersebut, ia dibantu oleh 11 orang karyawan.

Baca Juga :  Total 787 Kasus Positif Covid-19, Transmisi Lokal Dominasi Kasus Baru di DIY

Winarto adalah penerus usaha pembuatan blangkon yang dirintis ayahnya, Wagimin Darmowiyono. Usaha tersebut berlangsung di rumahnya
Bugisan, Yogyakarta.

Usaha Wagimin tersebut berawal dari orangtuanya yang tidak merestuinya sebagai seorang supir.

Orangtua Wagimin hanya merestuinya untuk menjalankan usaha sebagai perajin blangkon.

Waktu itu, bulan Januari 1975 Wagimin menjadi supir. Namun orangtuanya tidak merestuinya. Orangtua hanya merestui Wagimin untuk menjadi pengrajin blangkon.

Meski meminya anaknya menjadi perajin blangkon namun orang tua Wagimin tidak mewariskan sama sekali ilmu membuat blangkon. belajar membuat blangkon dari tetangganya. Alhasil, ia pun belajar membuat blangkon dari tetangganya.

Lambat laun, ia mulai mendirikan usaha blangkon sendiri bersama dengan istrinya.

“Istri saya sangat mendukung semua langkah saya,” ucapnya.

www.tribunnews.com