JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

LP3ES: Kalau Serius Reshuffle, Jokowi Tak Perlu Mengancam, Namun Langsung Eksekusi

Presiden Joko Widodo alias Jokowi mengikuti KTT Luar Biasa G20 secara virtual dari Istana Bogor, Kamis (26/3/2020) / tempo.co
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ancaman reshuffle yang dilontarkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai bukan sikap yang serius.

Hal itu disampaikan oleh peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Wijayanto.

Dalam pandangan Wijayanto, Jokowi memang tidak serius dalam menindaklanjuti gertakan reshuffle kabinetnya.

“Ancaman itu tidak menunjukkan keseriusan. Orang yang kuat tidak akan mengancam, tapi langsung melakukan,” kata Wijayanto dalam kajian daring LP3ES ‘Memaknai Kemarahan Jokowi: Analisa Big Data dan Budaya Politik’, Senin (6/7/2020).

Wijayanto menilai jika presiden memang serius akan melakukan kocok ulang kabinet Indonesia Maju, semestinya dilakukan dengan cara tertutup dan langsung memanggil menteri yang terkait, tanpa perlu ada publikasi di depan masyarakat.

Baca Juga :  Hasyim Wahid, Adik Gus Dur Meninggal Dunia Lantaran Komplikasi Ginjal

Direktur Center for Media and Democracy LP3ES ini mengatakan bahwa dalam konteks budaya Jawa, seorang pemimpin yang kuat semestinya tidak banyak cakap, dan selalu terkontrol baik dalam penampilan fisik maupun emosi.

Ia membandingkan dengan tindakan Soeharto yang ketika membredel beberapa media massa tidak menggunakan banyak kata dan emosi, cukup tersenyum sembari berkomentar lirih dan singkat.

Baca Juga :  Minta Kader Partai Berkarya Setia pada Tommy, Cicit Soeharto: Kami Siap Memberantas!

“Ojo meneh-meneh (jangan lagi-lagi), itu kata Soeharto yang masih terngiang-ngiang di telinga Jakob Oetama (pendiri Kompas) bahkan sampai 2018,” kata Wijayanto.

Gestur tersebut, kata dia, sebagai refleksi manusia Jawa yang kuat, terlepas dari rasa suka atau tidak suka publik terhadap Soeharto.

Ancaman kocok ulang kabinet ini muncul saat Jokowi memimpin rapat dengan para anak buahnya. Saat itu, Jokowi marah karena merasa ada menteri yang menganggap enteng Covid-19. Ia pun melontarkan ancaman reshuffle.