JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Resah Suami dan Anak-anak Jadi Lupa Daratan, Ratusan Emak-emak Pengajian di Gawan Sragen Nekat Geruduk Markas Judi Dingdong dan Warung Miras. Pemilik Warung Tak Berkutik

Aksi demo emak-emak pengajian di Desa Gawan, Tanon, Sragen menggeruduk markas judi ding dong dan warung miras yang meresahkan, Senin (13/7/2020). Foto/Wardoyo
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
Aksi demo emak-emak pengajian di Desa Gawan, Tanon, Sragen menggeruduk markas judi ding dong dan warung miras yang meresahkan, Senin (13/7/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ratusan emak-emak jemaah paguyuban Fatayat NU dan pengajian As-Syifa di Desa Gawan, Kecamatan Tanon, Sragen nekat menggeruduk warung markas judi ding dong online dan penjual miras di wilayah setempat, Senin (13/7/2020) siang.

Ratusan emak-emak itu nekat turun ke jalan dan mendemo warung-warung itu lantaran geregetan keberadaan arena judu dingdong dan miras itu sudah sangat meresahkan.

Tak hanya lama terbiarkan tanpa ada penindakan, keberadaan markas judi online dan miras itu telah membuat suami-suami mereka jadi lupa daratan dan ekonomi keluarga goyang.

Ratusan emak-emak itu serentak berkumpul mulai pukul 13.00 WIB. Mereka datang dari satu desa Dukuh Ngipang, Gawan dan Ngamban.

Mengenakan seragam khas pengajian dan fatayatan, emak-emak itu kemudian serempak berjalan menuju ke warung Sugimin di RT 11 yang berlokasi di tepi jalan raya Gawan-Suwatu.

Warung ini menjadi sasaran utama demo lantaran sudah berbulan-bulan menjadi lokasi judi ding dong online.

Dengan mengenakan masker, setiba di depan warung, emak-emak langsung memajang poster menuntut agar judi dingdong segera ditutup. Namanya emak-emak, aksi pun tak afdhal kalau tak disertai orasi.

Mereka kompak berorasi meminta pemilik warung untuk sesegera mungkin menutup arena judi ding dongnya.

Ratusan emak-emak itu langsung menggeledah ke dalam warung dan mendapati beberapa bapak-bapak tengah asyik bermain judi ding dong.

Baca Juga :  Covid-19 Sragen Terus Mengganas, Hari Ini 3 Warga Kembali Ditemukan Positif. Dua Diantaranya Pulang dari Luar Jawa, Total 113 Kasus Positif, 41 Meninggal Dunia

Merasa didemo, bapak-bapak itu langsung kabur lewat pintu belakang. Walhasil, hanya pemilik warung yang akhirnya jadi bulan-bulanan umpatan massa emak-emak.

“Pokoknya kami nggak mau tahu, judi ding dong ini harus ditutup sekarang. Gara-gara ini, suami kami jadi lupa kebutuhan. Duit blonjo entek nggo main ding dong,” seru para emak-emak saling menimpali.

Merasa terdesak, pemilik warung berdalih hanya ketempatan. Sedangkan pemilik atau pengusaha judinya berasal dari Sragen. Ia pun ketakutan dan berjanji segera menutup.

Aksi demo emak-emak pengajian di Desa Gawan, Tanon, Sragen menggeruduk markas judi ding dong dan warung miras yang meresahkan, Senin (13/7/2020). Foto/Wardoyo

Usai dari warung judi ding dong, massa kembali bergerak ke kios di seberang jalan yang terdeteksi menyediakan miras.

Emak-emak itu kemudian mendatangi dua kios yang selama ini dilaporkan menjual miras ke pemuda di Gawan dan sekitarnya.

Saat mendatangi salah satu kios kelontong milik pasangan muda, emak-emak meminta mereka jujur dan segera menghentikan menjual miras. Karena akibat miras itu, membuat anak-anak muda menjadi rusak dan maksiat.

Aksi berakhir pukul 15.00 WIB setelah pemilik warung markas judi dan miras menyatakan sanggup menghentikan kegiatan judi dan miras. Jika tidak sanggup, emak-emak meminta mereka pindah dari wilayah Gawan.

Aksi itu diduga sebagai puncak kekesalan emak-emak lantaran kehadiran judi ding dong dan warung miras itu berbulan bahkan lebih dari setahun beroperasi tanpa ada tindakan.

Baca Juga :  KPK RI Kejar Dokumen Lelang 17 Proyek DPU-PR Sragen Yang Terindikasi Beraroma Kongkalikong. LPBJ Sebut Dokumen Negara!

Parahnya lagi, aparat kepolisian terkesan seolah tutup mata padahal lokasi judi dan warung miras itu berada di tepi jalan raya dan pusat ekonomi desa.

Saat dikonfirmasi, Kades Gawan Sutrisna mengatakan aksi ratusan emak-emak itu murni spontanitas dari ibu-ibu Fatayatan dan pengajian Asy-Syifa di desanya. Aksi itu dimungkinkan sebagai puncak keresahan lantaran judi ding dong merusak akhlak bapak-bapak dan miras merusak moral anak-anak muda.

“Sebenarnya dulu sudah diingatkan ditindak oleh Satgas Covid-19 desa dan saat itu sudah ditutup. Nggak tahu, kenapa setelah lebaran buka lagi. Yang buka siapa kami juga nggak tahu, kalau yang punya warung katanya hanya ketempatan. Mungkin itu yang membuat ibu-ibu resah. Apalagi yang main ding dong itu katanya dari mana-mana nggak hanya dari Gawan saja,” paparnya.

Sutrisna menambahkan sebagai tindaklanjut, besok akan digelar rapat dengan mengundang para pemilik warung, perwakilan ibu-ibu jemaah dan unsur Babinsa maupun Babinkamtibmas untuk menyelesaikan persoalan itu.

Namun sebagai representasi warga, Pemdes sangat berharap desa Gawan bisa bersih dari aktivitas penyakit masyarakat baik judi maupun miras. Wardoyo