JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Serunya Tradisi Gropyokan Tangkal Hama Tikus di Blora, Tiap Ekor Diganti Rp 1.000

Suasana tradisi gropyokan tikus di sejumlah desa di Kecamatan Kedungtuban yang digelar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Blora. Foto: Ahmad
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id
surakarta.ut.ac.id

BLORA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pandemi corona virus disease 2019 (covid-19) menghantam segala sektor perekonomian, termasuk industri pertanian. Berbagai program inovatif telah digulirkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Blora dalam membangkitkan sektor industri pertanian. Salah satunya menggelar kegiatan gropyokan tikus serentak di wilayah desa di Kecamatan Kedungtuban.

Acara itu dilaksanakan untuk mengendalikan populasi hama tikus yang merusak tanaman padi pada musin tanam (MT) ketiga tahun 2020. Hasil tangkapan tikus dari warga tersebut diganti biaya atau dihargai oleh DPKP Blora sebesar Rp 1000,00/ekor.

“Kegiatan ini diinisiasi oleh Dipertan Kabupaten Blora, serta Pemerintah Kecamatan Kedungtuban dengan dukungan semua Kepala Desa, dengan membeli tikus per buntut (ekor) tikus diganti biaya Rp 1.000,” ucap Kepala DPKP Kabupaten Blora, Reni Miharti, kemarin.

Dijelaskannya lebih lanjut, gropyokan ini dilaksanakan dalam rangka mengendalikan populasi tikus sawah guna mengamankan padi di MT ketiga tahun 2020.

Baca Juga :  Dongkrak Perekonomian di Pelosok Kampung, Ganjar Alokasikan Anggaran Rp 2,23 Triliun Stimulus Keuangan Padat Karya

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora melalui DPKP Blora berharap dengan kegiatan gropyokan ini petani makin bersemangat gotong-royong, bersama-sama mengendalikan hama tikus atau organisme pengganggu tanaman (OPT) lainnya yang mengancam produksi pangan baik sekarang ataupun di masa mendatang, sehingga stabilitas pangan tetap terjaga.

Selain itu, kegiatan ini menjadi stimulan untuk bisa dilaksanakan petani bahwa pengendalian hama tikus secara rutin, serentak, gotong royong dan penuh kebersamaan adalah untuk kepentingan bersama.

DPKP Kabupaten Blora saat ini terus berupaya pengamanan pangan selalu dikedepankan, dengan melakukan pengawalan produksi padi dari ancaman OPT, baik yang dilaksanakan oleh Petugas Pengamat Hama Penyakit Tanaman (PPHP), Petugas Penyuluh lapangan (PPL) maupun oleh para petani secara langsung.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh PPL dan PPHP yang bersinergi dengan petani diantaranya, Sanitasi, pembersihan lingkungan sawah yang digunakan untuk lubang tikus, penyuluhan pengendalian tikus secara terpadu oleh Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan Petugas Pengamat Hama Penyakit Tanaman (PPHP).

Baca Juga :  Gerakan Sehari Tanpa Nasi Berkumandang di Kota Salatiga

Tak hanya itu, Pemasangan Rubuha (rumah burung hantu), burung hantu (Tyto alba) adalah salah satu predator alami, Pengendalian hama tikus dengan memberi Karbit atau menaruh kain yang dicelup bensin pada liang aktif.

Seperti dikeahui, Kabupaten Blora sebagai salah satu sentra produksi padi di Jawa Tengah, dengan produksi padi sebesar 576.948 ton gabah kering panen (GKP) dengan luas panen sebesar 108.532 ha di tahun 2019. Ada tiga kecamatan penyumbang produksi padi dengan pola tanam padi tiga kali dalam setahun, yaitu Kecamatan Cepu, Kecamatan Kedungtuban dan Kecamatan Kradenan.

Kecamatan Kedungtuban sebagai penyumbang produksi padi terbesar di Kabupaten Blora dengan produksi padi sebesar 23.896 ton GKP dengan luas panen 14.613 ha di tahun 2019. Ahmad | Satria Utama