JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Vaksin Belum Pasti Kapan Tersedia, Mendagri Tito Ajak Masyarakat Berdoa Agar Virus Corona Melemah

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian berdoa usai salat Jumat di Masjid An-Nuur Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, 5 Juni 2020. Foto: Dokumentasi Kemendagri

JOGLOSEMARNEWS.COM Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengajak masyarakat untuk bersama-sama berdoa meminta kepada Tuhan agar virus Corona melemah.

Ajakan itu disampaikan Tito dalam pidatonya di rapat koordinasi kesiapan Pilkada Serentak 2020 dan pengarahan Gugus Tugas Covid-19 di Kalimantan Barat, Minggu (19/7/2020).

“Mari kita berdoa kepada Yang Maha Kuasa, kalau vaksin enggak ketemu, janganlah herd immunity, tapi virusnya yang melemah,” kata Tito seperti dikutip dari kanal YouTube Kemendagri RI.

“Karena ini semua berasal dari Tuhan, hanya Tuhan lah yang bisa menyelesaikan,” lanjut Tito.

Dalam pidatonya, Tito juga menyebutkan ada tiga skenario terkait kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

Disampaikan Tito, ketiga skenario itu yakni vaksinasi massal, herd immunity, atau melemahnya virus akibat mutasi.

Ia mengaku mendapatkan informasi tersebut dari hasil isengnya berselancar di mesin pencari Google dan memasukkan kata kunci ‘how pandemy ends‘.

“Pertama, kalau vaksin ditemukan, jelas. Kalau vaksin ditemukan maka pandemi selesai. Pertanyaannya, ada enggak yang bisa menjamin kapan ini ditemukan,” kata Tito.

Mantan Kapolri ini mengatakan saat ini memang ada kabar baik mengenai vaksin buatan Sinovac, perusahaan biofarmasi dari Cina yang sudah hampir rampung. Indonesia melalui PT Bio Farma pun telah bekerja sama dengan Sinovac.

Baca Juga :  Hampir 8 Bulan Tak Ada Kabar, ICW: KPK Tertutup Soal Perburuan Harun Masiku

Namun, vaksin Sinovac tersebut masih harus menjalani tahap uji klinis massal. Jika berhasil barulah vaksin bisa diproduksi massal. Dengan perkiraan uji klinis massal selesai akhir tahun ini, artinya awal tahun depan akan ada produksi massal.

“Kita berdoa mudah-mudahan yang menemukan vaksin paling awal, Sinovac, cocok dengan virus Covid-19 yang ada di kita (Indonesia),” ujar Tito, mengingat ada perbedaan sekuens antara virus SARS-CoV-2 yang ditemukan di Cina, Amerika, dan Eropa.

Tito menyebut masalah belum selesai ketika vaksin ditemukan. Vaksin tersebut masih harus diproduksi secara massal hingga cukup untuk memvaksinasi dua pertiga penduduk. Artinya, Indonesia memerlukan setidaknya sekitar 170 juta vaksin.

Kemudian, vaksin Covid-19 tersebut masih harus didistribusikan ke berbagai daerah. Terakhir, eksekusi vaksinasi pun memerlukan tenaga kesehatan. Sedangkan rasio tenaga kesehatan di Indonesia amat kecil jika dibandingkan jumlah penduduk.

Skenario kedua yang disampaikan Tito adalah herd immunity atau membangun imunitas masyarakat. Namun caranya adalah dengan membiarkan semua orang tertular hingga terbangun sistem kekebalan tubuh pada individu yang kuat, sedangkan yang tidak otomatis akan sakit. Ia menyebut ini terjadi dalam pandemi Black Death pada abad ke-14.

Baca Juga :  Kabar Duka Sragen, 2 Warga Gondang dan Gemolong Suspek Covid-19 Meninggal Hari Ini. Berikut Daftar Lengkap 12 Pasien Positif, 2 Pasien Meninggal dan Riwayat Penularannya!

Ketika itu, kata Tito, 70-100 juta populasi Eropa dan Asia Tengah meninggal akibat bakteri yang terdapat pada urine tikus.

“Dibiarkan enggak ada obatnya, yang survive ya survive, yang enggak kuat wafat,” ujar Tito.

Contoh herd immunity lainnya, kata Tito, terjadi dalam wabah Spanish Flu pada 1917-1920 dan mengakibatkan 50 juta lebih manusia meninggal.

Adapun skenario ketiga menurut Tito ialah melemahnya virus Corona dari waktu ke waktu akibat mutasi.

Kata dia, contohnya adalah virus influenza. Tito mengatakan skenario inilah yang terbaik jika bisa terjadi. “Influenza sampai hari ini masih ada, tapi bukan menakutkan betul,” ucap dia.

Tito menyampaikan hal ini untuk menjelaskan mengapa Pilkada serentak tetap digelar pada tahun ini. Selain belum ada kejelasan kapan pandemi berakhir, Tito mengatakan pemerintah Indonesia juga mencermati negara-negara lain di dunia yang tetap menggelar pemilu, serta mempertimbangkan dampak pelambatan ekonomi.

www.tempo.co