JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Di Eropa, Virus Covid-19 Kini Tak Semematikan Seperti di Awal Pandemi

Ilustrasi vaksin Covid-19. Pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM  – Virus Corona dinilai kini tidak semematikan seperti awal-awal kemunculannya dahulu. Salah satu indikasinya, muncul kecenderungan orang-orang meninggal karena Covid-19 pada masa kini berkurang dibandingkan pada awal masa pandemi.

Demikian disampaikan oleh seorang dokter di Inggris. Ia bahkan menggunakan istilahnya, bahwa virus corona mulai “berkurang kemarahannya”.

Sedangkan seorang pakar penyakit menular di Singapura menyatakan kalau mutasi virus corona, D614G, “membuat penyakit yang disebabkannya tak lagi se-mematikan dulu.”

Di Inggris, proporsi orang yang terinfeksi virus corona lalu meninggal jelas terlihat penurunannya pada awal Agustus dibandingkan akhir Juni.

Sepanjang periode itu, Jason Oke dari Oxford University dan koleganya menemukan tingkat fatalitas infeksi drop 55-80 persen, bergantung data yang digunakan.

“Ini memang tidak seperti penyakit yang sama di awal pandemi lalu saat kita melihat begitu besar jumlah korban meninggal,” kata Oke. 

Dia menyodorkan contoh pekan 17 Agustus lalu. Dia mendata, 95 orang meninggal dari 7.000 kasus infeksi Covid-19 di seluruh Inggris sepanjang pekan itu.

Sedang pada pekan pertama April lalu, korban meninggal sebanyak 7.164 orang dari total hampir 40 ribu orang yang terkonfirmasi positif terinfeksi virus penyebab reaksi berlebih imun tubuh (badai sitokin) di paru-paru itu.

Baca Juga :  Kabar Gembira, Arab Saudi Buka Kembali Layanan Umroh secara Bertahap. Jemaah Luar Negeri Diizinkan Datang Mulai 1 November 2020

Oke mengkalkulasi tingkat fatalitas infeksi pada Agustus itu sebesar sekitar satu persen, bandingkan dengan pada April yang hampir 18 persen. Angka IFR itu, meski tak menunjuk angka yang real time karena kematian yang terjadi beberapa minggu setelah infeksi dan rezim pengujian yang berubah seiring waktu, dianggap sebagai indikasi telah terjadinya perubahan.

Oke dan timnya menggunakan metode yang lebih kompleks untuk memperkirakan perubahan itu.

“Situasi ini tidak unik di Inggris dan Inggris Raya saja,” kata Oke sambil menambahkan, bahwa cenderungan yang sama juga terjadi di seluruh Eropa.

Meski begitu, Oke dan tim tak sampai kepada kesimpulan kenapa perubahan itu bisa terjadi.

Berdasarkan data di Inggris, semakin banyak orang muda yang terinfeksi Covid-19 daripada di awal pandemi. Kasus terbanyak sepanjang 10-16 Agustus misalnya, tertinggi dialami mereka yang berusia 15-44 tahun.

Seperti diketahui, semakin muda usia, semakin risiko Covid-19 berkurang. Jadi, Oke mengatakan, perubahan demografi pasien bisa jadi satu alasan kenapa penyakit seperti tak lagi se-mematikan dulu. Namun Oke dan timnya itu bukan satu-satunya faktor.

“Karena masih banyak orang tua yang saat ini teruji positif Covid-19 juga,” katanya.

Baca Juga :  50 Negara Jatuh ke Jurang Resesi Gara-gara Pandemi Covid-19, Mulai dari Malaysia hingga Amerika Serikat. Ini Daftar Lengkapnya

Beberapa ahli yang lain, seperti halnya peneliti di Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wien Kusharyoto melihat kemungkinan faktor yang paling mungkin adalah perawatan yang lebih efektif saat ini.

“Itu juga sangat mungkin karena riset obat antivirus pun sudah semakin terarah,” kata Wien kepada Tempo.co, Jumat (28/8/2020).

Paul Tambyah dari National University of Singapore kepada Reuters lebih menyoroti berkembangnya mutasi D614G pada virus corona Covid-19 yang bersamaan dengan turunnya angka kasus kematian di beberapa negara.

Mutasi itu telah dketahui menyebabkan virus lebih stabil dan mudah menginfeksi sel hingga sepuluh kali lipat.

“Bisa jadi mutasi itu menyebabkan virus lebih mudah menular tapi berkurang mematikannya,” kata Tambyah.

Baru Tambyah yang berani menyimpulkan itu. Studi yang dipimpin Erik Volz di Imperial College London meneliti sampel genom virus yang diambil dari 19 ribu pasien Covid-19 di Inggris yang akhirnya meninggal.

“Kami tidak melihat risiko kematian yang berkurang karena adanya varian dari mutasi D614G itu,” kata Volz dalam hasil studinya yang telah dipublikasikan namun belum peer-reviewed itu.

www.tempo.co